Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pulang Kampung Bawa Ide Gontor, Ustadz Dawam Blak-blakan Cerita Hidupnya di Bukber SMPM 12 Paciran

Iklan Landscape Smamda
Pulang Kampung Bawa Ide Gontor, Ustadz Dawam Blak-blakan Cerita Hidupnya di Bukber SMPM 12 Paciran
Ustadz Dawam saat bercerita tentang riwayat hidupnya sebelum memimpin doa di acara Bukber SMPM 12 Paciran, Kamis 12 Maret 2026. (Gondo Waloyo/PWMU.CO)
pwmu.co -

Secara terang-terangan atau Blak-blakan pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur, Drs. K.H Muhammad Dawam Saleh mengakui bahwa dirinya membawa ide dan kurikulum Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor ke kampung halamannya di tahun 1982.

Hal itu dia ungkapkan secara mendadak saat didaulat memimpin doa pada acara Buka Bersama atau Bukber SMPM 12 Paciran yang digelar di depan Gedung KH. Ahmad Dahlan Jalan Raya Klengan Sendangagung, Kamis (12/3/2026).

Tampil di hadapan 239 undangan Bukber, sementara waktu masih kurang 17 menit menjelang maghrib, maka ustadz berumur 73 tahun itu menggunakan waktu senggang itu untuk bercerita sekilas perjalan hidupnya menjadi Kepala Sekolah SMPM 12 Paciran dan mendirikan Ponpes Al-Ishlah tahun 1986.

“Saya lulus KMI Gontor tahun 1972 dan kuliah di UNIDA yang dulu bernama Instutut Pendidikan Darussalam (IPD), dari Gontor saya lanjut ke UGM Yogyakarta sambil mengabdi di Pabelan Magelang dan pulang kampung Sendangagung 1982 dengan keinginan kuat mendirikan pesantren ala Gontor,” ucap Kiai mengawali ceritanya.

Keinginannya itu sempat membuat orang tuanya, terutama ayahnya, Saleh kaget dan dan meminta mempertimbangkannya, karena melihat kondisi keluarga yang saat itu sedang kekurangan ekonomi sedangkan ustadz  Dawam telah menyandang gelar Drs yang pertama di Sendangagung dan amat langka di kawasan Paciran saat itu.

“Ayah saya sepertinya mau menolak keinginan saya, tapi gak mampu, dan akhirnya luluh juga hatinya, sambil meneteskan air mata ayah saya bilang, Ya sudah kalau itu maumu, tanah di Kelengan 26X50 meter itu silakan pakai, separo untuk wakaf pondok dan sisanya untuk rumahmu,” ucap Dawam menirukan kalimat ayahnya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Bangunan Pondok Pertama

Gayung bersambut, adik saya yang di Kedungadem Bojonegoro, Hj Rifa’atin membantu saya membelikan rumah bekas 9X10 meter untuk saya tempati bersama santri angkatan tahun pertama dan kedua. Itulah bangunan pondok yang pertama, masih sangat sederhana, tapi saya berterima kasih kepada almarhumah Hj. Rifa’atin dan almarhum suaminya, H. Sya’roni yang membelikan rumah tua dengan harga Rp 500.000,- saat itu harga emas waktu itu sekitar Rp 15.000 / gram,” ungkap anak kedua pasangan Saleh dan Putikah ini.

“Sebenarnya saya berkeinginan bikin pondok seperti Gontor karena saya mondok sampai menyandang gelar BA, 1966- 1977, saya anggap cukup menerapkan kurikulum Gontor di Sendangagung, tetapi karena di sini sudah ada SMPM 12 ini maka saya mengalah dan menerima keadaan, maka saya  padukan kurikulum Gontor dengan kurikulum nasional,” tandas alumnus IPD 1977 ini.

Saat gayeng bercerita, tak sadar waktu menunjukkan kurang 4 menit untuk berbuka, cerita pun mendadak terhenti dan Ustadz Dawam langsung menjalankan tugas intinya, memimpin doa di acara yang dihadiri tokoh pemerintahan Desa Sendangagung dan sesepuh Muhammadiyah.

Nampak hadir Kades Panut Supodo didampingi Sekdes, Kasun, Ketua RW dan RT, hadir pula sesepuh Muhammadiyah, H. Munashir, H. Abdul Ghofar, H. Ahmad Fadholin, Suharjito, dan H. Ahmad Tohir. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡