Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat masih menyisakan duka dan tantangan pemulihan bagi warga terdampak.
Merespons kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menurunkan puluhan relawan untuk terjun langsung dalam aksi pengabdian masyarakat tanggap darurat bencana di Sumatera, dengan fokus utama layanan medis dan dukungan psikososial.
Sepanjang Desember ini, kampus putih mengirimkan relawan lintas disiplin mulai dari Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga medis Rumah Sakit UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Kegiatan ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
tim UMM memusatkan kegiatan di Kabupaten Agam tepatnya berada di tiga kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya.
Beragam program dilakukan, mulai dari pelayanan kesehatan bagi warga terdampak, pendampingan psikososial, pendistribusian ratusan hygiene kit, penyaluran ribuan obat-obatan ke sejumlah puskesmas, hingga instalasi filter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir.
Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD, menegaskan bahwa UMM tidak ingin menjadi kampus yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik universitas.
“Melalui kegiatan tersebut, kami berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian masyarakat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak,” katanya, Ahad (29/12/2025).
Dialalu menjelaskan bahwa keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa dalam penanganan pascabencana merupakan bagian dari komitmen UMM untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kata Salis, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan sosial yang kuat.
“Kami sengaja melibatkan mahasiswa dalam jumlah besar karena kami ingin membentuk generasi yang peka terhadap penderitaan sesama, memiliki empati sosial, dan siap hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bagi kami, ini adalah bagian penting dari proses pendidikan,” terangnya.
Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa kegiatan tanggap darurat yang dilakukan UMM di Sumatera Barat juga menjadi implementasi konkret dari integrasi pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.
Dia menekankan bahwa makna kampus berdampak harus diwujudkan melalui solusi nyata atas persoalan masyarakat.
“Apa yang kami lakukan di lapangan merupakan implementasi langsung dari riset dan pengabdian masyarakat. Dampak yang kami maksud bukan sekadar laporan atau luaran akademik, tetapi perubahan nyata yang bisa dirasakan masyarakat, terutama dalam situasi darurat seperti bencana,” tegasnya.
Dia berharap, pengalaman di wilayah terdampak banjir tersebut dapat menjadi pembelajaran berharga bagi sivitas akademika UMM dalam memperkuat kajian mitigasi bencana dan keberlanjutan lingkungan di masa depan.
“Kami berharap pengalaman ini tidak berhenti pada aksi kemanusiaan semata, tetapi juga memperkuat riset-riset UMM di bidang lingkungan, kesehatan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan. Dengan begitu, kampus dapat berkontribusi tidak hanya dalam penanganan bencana, tetapi juga dalam upaya pencegahan bencana di masa mendatang,” pungkasnya.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments