Suasana Hotel Majapahit, Surabaya, pada Ahad (9/11/2025), berasa berbeda dari biasanya. Di lobi bersejarah yang pernah menjadi saksi peristiwa penting kemerdekaan Indonesia itu, hadir sosok yang tak asing bagi sejarah bangsa. Dia, Bambang Sulistomo, putra pahlawan nasional Bung Tomo.
Bambang datang ke Surabaya untuk memenuhi undangan Pemerintah Kota Surabaya yang mendahakan upacara Peringatan Hari Pahlawan tangga 10 November 20205
Bambang tampak duduk santai bersama rombongan Muhammadiyah Historical Walk (MHW), sebuah kegiatan yang digelar oleh Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim).
Ada beberapa tokoh penting Muhammadiyah yang hadir, yakni Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Dr. Hidayatullah, Ketua Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Dr. Aribowo, MS, Guru Besar Bidang Sejarah Unair Prof. Purnawan Basundoro, Wakil Rektir Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) Dr. Radius Setiyawan, Anggota Komisi E DPRD Jatim Dr. Suli Da’im, Ketua LPCRPM PWM Jatum Dr. Hasan Ubaidillah, dan Pemimpin Redaksi PWMU.CO Agus Wahyudi.
Bagi Bambang, Hari Pahlawan bukan sekadar tanggal merah di kalender. Ia adalah pengingat tentang keberanian, harga diri, dan pengorbanan. Ia menuturkan, apa yang terjadi pada 10 November 1945 bukanlah hasil kebetulan, tetapi buah dari semangat persatuan rakyat yang melampaui latar belakang, suku, maupun golongan.

“Bung Tomo selalu bilang, kemerdekaan ini bukan hadiah, tapi perjuangan. Dan perjuangan itu hanya bisa lahir dari keberanian rakyat yang yakin pada nilai kebenaran,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Bambang Sulistomo menyampaikan pesan mendalam tentang keikhlasan dalam perjuangan.
“Perjuangan harus lahir dari keikhlasan. Dari keikhlasan itulah muncul kekuatan untuk bersatu dan bertahan. Keikhlasan arek-arek Suroboyo pada masa itu patut kita teladani. Sebagai anak cucu para pejuang, kita wajib mengisi kemerdekaan dengan semangat yang sama,” ujar Bambang penuh semangat di usia 75 tahun.
Dia menegaskan bahwa pengorbanan para pahlawan tidak boleh disia-siakan. “Keikhlasan yang telah dicontohkan para pejuang harus kita lanjutkan dalam bentuk karya nyata bagi bangsa,” pesannya.
Kehadiran rombongan Muhammadiyah dalam kegiatan MHW hari itu menambah makna tersendiri. Mereka tidak hanya datang untuk mengenang, tetapi juga untuk belajar dari sejarah—bagaimana dakwah dan pendidikan Muhammadiyah tumbuh di jantung kota yang sarat nilai perjuangan.
Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, Ketua PWM Jatim, menyebut kegiatan MHW sebagai refleksi sejarah yang menghubungkan nilai dakwah dengan semangat kebangsaan.
“Surabaya punya jejak dakwah yang panjang. Dan Muhammadiyah menjadi bagian penting dari denyut perjuangan itu,” ujarnya.
Menurut Prof. Suko, begitu ia akrab disapa, masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk menapaktilasi sejarah. Karena itu, ia mendorong para kader Muhammadiyah untuk melakukan kajian yang serius dan mendalam terhadap jejak sejarah perjuangan Muhammadiyah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments