Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur sukses menggelar Kegiatan Pelatihan Master of Ceremony (MC) dan Keprotokoleran di Aula Mas Mansyur, Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada Sabtu (22/11/2025).
Narasumber kegiatan, Meriana Candra Kurniasari, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa diperlukan latihan intensif untuk menguasai pernapasan diafragma, yaitu pernapasan yang menggunakan otot diafragma secara sadar dengan fokus pada pengembangan perut, bukan dada, ketika menarik napas.
“Latihan bisa dengan menutup hidung, kemudian coba berbicara. Jika suara yang terdengar sama seperti ketika ibu-ibu berbicara, berarti menggunakan suara diafragma. Namun jika terdengar sengau, berarti masih menggunakan pernapasan mulut. Ini bisa dilatih,” jelas Meri.
Meri juga menyampaikan bahwa penyusunan teks acara dapat dibantu dengan teknologi AI, namun tetap harus dicek ulang karena sering kali ada redaksi yang perlu disesuaikan. Penggunaan kalimat harus benar sesuai standar, terutama untuk acara resmi yang dihadiri pejabat.
Dalam kegiatan ini, awalnya para peserta dibagi menjadi 14 kelompok, kemudian digabung menjadi 7 kelompok, masing-masing dengan tugas berbeda. Para peserta mengerjakan tugas dengan antusias, sesekali ruangan dipenuhi suara tawa.
Usai semua peserta mendemonstrasikan tugasnya, kelompok lima memberanikan diri tampil pertama. Mereka mendapat tugas meresmikan gedung baru Amal Usaha Aisyiyah (AUA). Karena tampil pertama, mereka tampak agak gugup sehingga ada beberapa bagian yang terlupa atau harus diulang dari awal. Hal yang sama juga dialami kelompok lainnya.
Meri kemudian kembali mereview setiap penampilan. Menurutnya, mikrofon harus standar dan dicek terlebih dahulu karena inilah pentingnya gladi bersih. Penggunaan kata juga harus efektif, misalnya salah jika menggunakan frasa para hadirin, terlebih para hadirin sekalian.
“Sering kali tanpa sadar kita terjebak speechless atau kehilangan kata-kata, sehingga spontan mengucapkan kalimat yang tidak berfaedah. Untuk mengatasinya ada dua cara. Pertama, memanjangkan kalimat terakhir sambil berpikir kalimat berikutnya,” ujar Meri.
Cara kedua, lanjutnya, memberikan jeda ketika berbicara. Jeda bisa dilakukan dengan berhenti sejenak 2-5 detik, mengulangi kalimat terakhir, atau memberi jeda sebelum poin-poin penting.
Ia juga menegaskan bahwa penyebutan jabatan juga harus benar, misalnya cukup “Wali Kota”, bukan “Bapak Wali Kota”. Sementara kata selaku hanya digunakan jika pejabat yang diundang tidak hadir namun diwakilkan.
Meri menambahkan, apabila pejabat hadir bersama ajudannya, maka posisi ajudan adalah di bawah panggung, bukan di atas panggung. Ia menegaskan hal ini berbeda dengan kebiasaan acara Muhammadiyah, di mana Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) berdiri di belakang pembicara.
“Posisi ajudan itu di bawah panggung. Jangan lupa, MC harus mengarahkan pandangan ke seluruh audiens. MC tidak membaca teks, tetapi bertutur kepada audiens,” imbuh Meri.
Acara kemudian ditutup oleh Dra. Faridah Muwafiq. Dalam pesannya, Faridah mengingatkan bahwa seorang MC dari Aisyiyah harus fasih mengucapkan pembukaan berbahasa Arab, terutama ketika mengutip ayat Al-Qur’an.
Ia juga menekankan pentingnya memaksimalkan penggunaan teknologi sesuai perkembangan zaman.
Pelatihan MC dan Keprotokoleran ini dilaksanakan dalam dua sesi: sesi pertama secara daring pada (8/11/2025) dan sesi kedua secara luring pada Sabtu (22/11/2025). Panitia juga menyediakan hadiah bagi dua kelompok dengan penampilan terbaik.


0 Tanggapan
Empty Comments