Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Quo Vadis Indonesia? Catatan dari IGD di Hari Jumat yang Kelam

Iklan Landscape Smamda
Quo Vadis Indonesia? Catatan dari IGD di Hari Jumat yang Kelam
Pradono Handojo (Jack). (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Pradono Handojo Direktur Utama RS Islam Jakarta Cempaka Putih
pwmu.co -

Hari Jumat, (7/11/2025) akan tercatat selamanya sebagai hari kelam dalam sejarah Indonesia. Ironisnya, peristiwa itu terjadi di hari yang disebut terbaik bagi umat Islam — di waktu shalat Jumat, di rumah ibadah, dan di sekolah yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak-anak dan guru.

Sekolah, menurut Konvensi Jenewa, bahkan memiliki status perlindungan khusus yang menegaskan bahwa lembaga pendidikan tidak boleh diserang dan harus dihormati setiap saat. Namun, hari itu, batas-batas kemanusiaan seolah runtuh.

“Ada apa dengan kita?” demikian pertanyaan lirih yang muncul di benak banyak orang setelah kabar itu menyebar.

Panggilan Darurat dari Kelapa Gading

Tak lama setelah adzan Jumat berkumandang, saya menerima panggilan dari Ibu Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Suaranya tegas namun terdengar cemas.

“Ada ledakan di SMA 72 Kodamar Kelapa Gading. Mohon RS Islam Jakarta Cempaka Putih bersiap, lokasinya tidak jauh — sekitar lima kilometer.”

Informasi saat itu masih terbatas: belum jelas berapa korban, apa penyebabnya, dan seberapa parah situasinya. Saya hanya menjawab satu kata: “Siap.”

Sekejap kemudian, seluruh tim di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih (RSIJCP) bergerak. Kami menyiagakan Instalasi Gawat Darurat (IGD), memanggil dokter, perawat, dan tenaga medis yang ada di sekitar rumah sakit.

Kesiapan yang Tak Disangka

Kebetulan, sejak 2024 RSIJCP telah merampungkan renovasi besar-besaran. IGD kini dua kali lebih luas, dengan 40 tempat tidur dan fasilitas trauma serta unit luka bakar yang mampu menangani pasien dengan luka hingga 50 persen.

Kesiapan infrastruktur ini menjadi berkah di tengah situasi darurat. Sebab, penanganan korban ledakan bukan perkara sederhana — ia melibatkan pemahaman tentang berbagai jenis luka, dari luka bakar, luka tembus, hingga trauma akibat gelombang tekanan (blast injury).

Penanganan trauma ledakan memerlukan kerja tim lintas disiplin. Di rumah sakit, dokter bedah umum, ortopedi, saraf, plastik, anestesi, radiologi, hingga psikolog harus bekerja dalam satu irama.

Ada tiga hal yang menjadi kunci keberhasilan tim kami malam itu:

Pertama kompetensi. Semua tenaga medis harus mampu menilai trauma, menstabilkan kondisi pasien, dan melakukan tindakan operasi emergensi.

Kedua komunikasi. Informasi harus mengalir cepat, jelas, dan berbasis protokol agar tidak terjadi kesalahan tindakan.

Ketiga koordinasi. Setiap disiplin tahu perannya — dari triase di IGD, operasi di ruang bedah, hingga perawatan lanjutan di ruang rawat.

RS Islam Cempaka Putih: Bekerja Sepanjang Malam

Saat kabar ledakan datang, kebetulan waktu pergantian shift sedang berlangsung. Itu berarti kami memiliki kekuatan ganda — dua tim medis dalam satu waktu.

Dokter yang bertugas di paviliun dan poliklinik segera dialihkan ke IGD. Para ko-ass dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta juga ikut membantu proses triase.

Operasi pertama dimulai pukul 14.30. Operasi terakhir baru selesai tengah malam, saat kalender berganti ke hari Sabtu, 8 November 2025.

Dokter bedah ortopedi, bedah plastik, bedah anak, bedah umum, dan dokter anestesi bergantian mengekstraksi serpihan logam, membersihkan luka bakar, dan menjahit jaringan yang robek. Suasana ruang operasi malam itu terasa seperti rumah sakit di zona perang.

Menjelang Subuh: Saat Semua Tenaga Tercurah

Menjelang subuh, seluruh pasien telah menjalani tindakan utama dan dipindahkan ke ruang perawatan. IGD perlahan kembali normal. Pasien yang datang berikutnya adalah pasien “biasa”: serangan jantung, stroke, dan kasus harian lainnya.

Tubuh kami lelah, tetapi hati penuh syukur. Tidak semua korban bisa segera pulih, tetapi kami tahu, malam itu kami telah berbuat sesuatu untuk kemanusiaan.

Dua hari setelah kejadian, Minggu pagi, (9/11/2025), saya menulis catatan kecil:

“Kami bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari proses penyembuhan jasmani dan rohani para korban SMA 72. Semoga mereka segera pulih dan dapat melanjutkan pendidikan.”

Namun, di balik rasa syukur itu, tersimpan pekerjaan besar bangsa ini. Bagaimana agar tragedi seperti ini tidak pernah terulang?

Dalam dunia manajemen, kami menyebutnya CAPA — Corrective Action and Preventive Action. Pekan ini, fokus kami adalah pada penyembuhan medis. Pekan berikutnya, pekerjaan rumah kami adalah konseling, rehabilitasi, perbaikan gendang telinga (tympanoplasty), serta pendampingan psikologis dan trauma healing.

Ke depan, upaya pencegahan harus lebih sistematis dan menyentuh akar masalah. Ini bukan lagi urusan medis, melainkan tugas moral, sosial, dan kemanusiaan seluruh bangsa.

Dari Rumah Sakit untuk Negeri

Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas kepercayaannya kepada RSIJ Cempaka Putih, juga kepada seluruh tenaga medis, perawat, relawan, dan mahasiswa kedokteran yang bekerja tanpa kenal lelah malam itu.

Kami hanya berharap, doa dan kerja kami menjadi bagian kecil dari upaya besar bangsa ini — untuk menegakkan kemanusiaan, di tengah duka yang mengguncang nurani kita semua. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu