Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Qurban: Jejak Pengorbanan dan Pesan Kemanusiaan Dalam Era Individualisme

Iklan Landscape Smamda
Qurban: Jejak Pengorbanan dan Pesan Kemanusiaan Dalam Era Individualisme
pwmu.co -
Gambar ilustrasi. (ChatGPT/PWMU.CO)

Oleh: Muhammad Rafi Farhani – Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih UMM

PWMU.CO – Gemuruh takbir kembali menggema dari penjuru negeri. Hari Raya Idul Adha datang sebagai penanda kebesaran Allah, dan sekaligus sebagai momen refleksi mendalam bagi umat Islam untuk memaknai arti dari sebuah pengorbanan.

Bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, qurban adalah ibadah yang menyentuh dimensi paling dalam dari kehidupan manusia: keikhlasan, pengabdian, dan kepedulian terhadap sesama.

Sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Allah telah memperlihatkan kepada umat manusia bahwa ketaatan sejati menuntut keberanian untuk menyerahkan hal yang paling dicintai.

Dalam sebuah mimpi, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putra semata wayangnya, Ismail. Sebuah perintah yang tidak mudah diterima oleh akal manusia, namun dijalankan dengan penuh ketaatan. Maka Ismail pun merespons dengan jawaban yang telah diabadikan dalam al-Quran:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS As-Saffat: 102)

Kisah ini bukan hanya catatan sejarah keagamaan, melainkan warisan nilai moral yang relevan di sepanjang zaman. Nabi Ibrahim dan Ismail menunjukkan bahwa kepatuhan kepada Allah melampaui logika, bahwa keikhlasan adalah fondasi dari setiap bentuk ibadah yang agung.

Menggugah Nurani dalam Zaman yang Sibuk

Idul Adha datang di tengah zaman yang bergerak cepat. Dunia hari ini tengah dikuasai oleh pola hidup yang individualis dan serba digital. Orang lebih banyak sibuk dengan dunianya sendiri, sementara kepedulian sosial perlahan memudar. Di sinilah letak urgensi qurban.

Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tapi menyembelih sifat-sifat negatif dalam diri: egoisme, keserakahan, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain. Dalam ibadah ini, Allah tidak memerlukan daging dan darah hewan, melainkan ketakwaan yang lahir dari kesadaran spiritual dan sosial.

Sebagaimana firman-Nya:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ”
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”
(QS Al-Hajj: 37)

Ketika seseorang berqurban, ia dituntut bukan hanya untuk menyerahkan harta, tetapi juga menyucikan niat dan menumbuhkan kasih sayang terhadap sesama.

Daging qurban dibagikan kepada masyarakat luas, tanpa melihat status sosial atau latar belakang. Hal ini mengajarkan kita bahwa dalam Islam, berbagi adalah bagian dari ketakwaan.

Menyembelih Diri Sendiri: Melawan Diri yang Paling Sulit

Idul Adha juga menjadi pengingat untuk menyembelih sifat buruk dalam diri—hal yang jauh lebih berat daripada menyembelih hewan ternak. Banyak dari kita yang hidup dalam bayang-bayang kecemasan, rasa tidak cukup, iri hati, dan kemarahan yang tak tersalurkan.

Di zaman serba cepat dan kompetitif ini, fenomena overthinking menjadi wabah psikologis baru. Data kesehatan mental menunjukkan bahwa lebih dari separuh generasi muda hari ini sering mengalami kegelisahan yang berlebihan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Qurban, dalam konteks ini, adalah ibadah yang menyembuhkan. Ketika seseorang menyerahkan hewan qurban, sejatinya ia sedang belajar melepaskan.

Melepaskan keterikatan berlebihan pada dunia. Melepaskan rasa takut yang tidak beralasan. Dan yang terpenting, melepaskan keakuan yang menjadi akar dari kegelisahan manusia.

Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim sanggup meninggalkan istri dan anaknya di padang tandus karena perintah Allah. Dan bagaimana Siti Hajar dengan keimanan penuh tetap berlari antara bukit Shafa dan Marwa mencari air untuk anaknya, Ismail, yang kehausan. Inilah pelajaran penting iman yang kokoh selalu menghasilkan tindakan yang penuh keberanian dan harapan.

Pesan Kemanusiaan yang Tak Pernah Usang

Setiap tahun, qurban menyentuh hati mereka yang lapar dan kekurangan. Ia membawa daging ke rumah-rumah yang mungkin sepanjang tahun tak pernah menikmatinya. Tapi yang lebih penting dari daging adalah perhatian dan kepedulian.

Dalam momen qurban, kita belajar bahwa agama Islam tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah, tapi terus menjalar ke relasi horizontal yaitu hubungan dengan sesama manusia.

Di tengah dunia yang dipenuhi oleh berita-berita krisis, konflik, dan ketimpangan sosial, semangat qurban adalah cahaya harapan. Ia mengajarkan bahwa keberagamaan sejati tidak cukup ditunjukkan lewat simbol dan seremoni, tapi lewat kasih, bantuan, dan empati kepada sesama.

Qurban menghapus batas sosial, mempertemukan kaya dan miskin dalam ruang kebaikan yang sama. Ia juga menjadi pembelajaran bahwa yang terpenting dalam hidup bukan seberapa banyak kita miliki, tapi seberapa ikhlas kita memberi.

Membawa Semangat Qurban ke Dalam Hidup Sehari-hari

Hari Raya Idul Adha bukan hanya milik mereka yang mampu berqurban secara materi. Ia adalah milik semua orang yang rela berkorban, baik dalam bentuk waktu, pikiran, kasih sayang, maupun energi demi kemaslahatan yang lebih besar. Setiap senyuman yang kita bagi, setiap kebaikan kecil yang kita lakukan—semuanya bagian dari semangat qurban.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Kautsar ayat 2:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ”
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.”
(QS Al-Kautsar: 2)

Ayat ini menyiratkan dua hal penting: keteguhan spiritual (shalat) dan kepedulian sosial (qurban). Keduanya harus berjalan beriringan. Maka dari itu, Idul Adha bukan hanya soal menyembelih, tapi soal bagaimana kita menumbuhkan makna spiritual dan sosial dalam hidup.

Qurban adalah cermin diri sejauh mana kita rela memberi untuk yang lebih tinggi, sejauh mana kita mampu meninggalkan ego demi cinta yang lebih agung.(*)

Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu