Sore itu, cuaca begitu cerah. Sembari menunggu waktu berbuka puasa, saya memilih duduk di belakang rumah, menikmati semilir angin yang perlahan menghalau penat.
Dalam keheningan itu, pikiran saya melayang kembali pada pesan mendalam dari Ustadz Masro’in Asyafani.
Beliau memberikan sebuah pencerahan yang menggugah saat acara Pembinaan Corp Muballighot ‘Aisyiyah (CMA) Cabang Laren yang dilaksanakan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Laren pada Ahad, 21 Desember 2025 yang lalu.
Ada sebuah pertanyaan retoris yang beliau lemparkan saat itu: “Pernahkah kalian memperhatikan jemari tangan sendiri dengan seksama?”
Mungkin bagi kita, tangan hanyalah alat untuk bekerja. Namun, jika kita menghitung jumlah ruas pada jari-jari tangan kita, kita akan menemukan sebuah fakta numerik yang menakjubkan.
Mari kita hitung bersama: Jari jempol memiliki 3 ruas, sementara jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan jari kelingking masing-masing memiliki 4 ruas.
Jika dijumlahkan secara keseluruhan—3 ditambah 4, 4, 4, dan 4—maka hasilnya adalah tepat 19 ruas.
Angka 19 ini bukan sekadar bilangan biasa. Ia memiliki hubungan matematis dan spiritual yang sangat kuat dengan kalimat paling sakral dalam hidup seorang Muslim, yaitu Basmalah: Bismillahirrahmanirrahim.
Keajaiban Numerik Basmalah
Kalimat Bismillahirrahmanirrahim yang menjadi pembuka hampir seluruh surat dalam Al-Qur’an terdiri dari tepat 19 huruf.
Fenomena kesamaan jumlah antara ruas jari manusia dan huruf Basmalah ini bukanlah sebuah kebetulan belaka.
Dalam literatur keislaman, angka 19 sering kali disebut sebagai salah satu “kode rahasia” atau mukjizat numerik Al-Qur’an.
Apa makna di balik keselarasan ini? Fenomena ini seolah menjadi pesan dari Sang Pencipta bahwa ayat-ayat Qauliyah (yang tertulis dalam Al-Qur’an) dan ayat-ayat Kauniyah (yang tercipta di alam semesta, termasuk dalam anatomi tubuh kita) berasal dari sumber yang sama.
Angka 19 diyakini sebagai simbol kesempurnaan, keutuhan, dan keharmonisan.
Setiap kali kita menggerakkan tangan untuk bekerja atau beribadah, secara tidak langsung tubuh kita membawa “tanda” Basmalah dalam setiap ruasnya.
Ini adalah pengingat agar setiap gerak langkah manusia selalu dimulai dengan menyebut nama Allah.
Ilmu yang saya peroleh dari Ustadz Masro’in Asyafani tersebut membuka cakrawala baru bagi kami para anggota Muballighot ‘Aisyiyah.
Keajaiban angka ini tidak berhenti pada anatomi tubuh manusia saja, melainkan merambah jauh ke dalam struktur pengorganisasian Al-Qur’an.
Sebagaimana kita ketahui, Al-Qur’an terdiri dari 114 surat. Jika kita melihat pola penulisan Basmalah, kalimat ini muncul di setiap awal surat, kecuali Surat At-Taubah.
Meski menghilang di satu surat, jumlah Basmalah dalam Al-Qur’an tetap genap 114 karena muncul dua kali dalam Surat An-Naml (pada awal surat dan pada ayat ke-30).
Keajaiban terjadi saat kita melakukan perhitungan matematis: 114 (total Basmalah) dibagi dengan 19 (jumlah huruf Basmalah), maka hasilnya adalah 6.
Angka 6 ini kemudian membawa kita pada fakta lain yang menakjubkan. Surat An-Nas, yang merupakan surat ke-114 sekaligus penutup mushaf Al-Qur’an, terdiri dari tepat 6 ayat.
Makna di Balik Penutup yang Sempurna
Hubungan antara angka 114, 19, dan 6 ini menciptakan sebuah pola lingkaran yang sempurna.
Surat An-Nas yang berjumlah 6 ayat berfungsi sebagai kunci penutup. Angka 6 sendiri dalam berbagai konteks sering menjadi simbol proses penciptaan yang tuntas dan utuh.
Sebagai surat penutup, An-Nas mengandung doa perlindungan dari bisikan jahat dan godaan, baik dari golongan jin maupun manusia.
Hal ini mengajarkan kita bahwa setelah manusia memahami rahasia kebesaran Allah melalui tanda-tanda di tubuhnya (ruas jari) dan di dalam kitab suci (Basmalah), benteng terakhir yang harus ia jaga adalah hatinya.
Duduk di belakang rumah sore itu, saya memandangi telapak tangan saya sendiri.
Ada rasa haru yang menyeruak. Ternyata, kebesaran Allah tidak hanya terpampang di langit yang luas atau samudera yang dalam, tetapi juga tertanam erat di dalam diri kita sendiri.
Pembinaan CMA di Laren bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah perjalanan intelektual untuk mengenali tanda-tanda Tuhan.
Melalui kesadaran akan “Rahasia 19” ini, semoga setiap kali kita mengangkat tangan untuk berdoa atau bekerja, kita selalu teringat bahwa seluruh hidup kita telah terbingkai rapi dalam bismillah—dengan nama Allah, Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kesadaran inilah yang akan menumbuhkan keimanan yang lebih kokoh, bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang tercipta tanpa rencana yang agung.***





0 Tanggapan
Empty Comments