Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rahasia Dahsyat Al-Qur’an di Bulan Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Rahasia Dahsyat Al-Qur’an di Bulan Ramadan
Fahruddin, MPd saat memberikan Kultum di Masjid Al Mahdi. Foto: Sumardani/ PWMU.CO
pwmu.co -

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah momentum turunnya Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi pedoman hidup, sumber ketenangan, sekaligus pembeda antara yang hak dan batil.

Pesan inilah yang ditekankan Ustaz Fahruddin, S.Pd.I, M.Pd dalam kultumnya di Masjid Al Mahdi Perumtas 3 Grabagan Tulangan, Sidoarjo pada Senin (2/3/2026).

Dalam pemaparannya, Ustadz Fahruddin mengawali dengan mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat iman dan kesempatan beribadah.

Menurutnya, kemampuan menjalankan puasa, melaksanakan salat berjamaah, dan mendengarkan nasihat agama adalah karunia besar dari Allah SWT yang tidak semua orang mendapatkannya.

Namun substansi utama ceramahnya menitikberatkan pada kedudukan Al-Qur’an di bulan Ramadan.

Dia mengingatkan bahwa Allah SWT secara tegas menyebut Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.

Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 185, yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan tentang petunjuk tersebut serta pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

“Ramadan tidak hanya tentang puasa, tetapi tentang kembali kepada Al-Qur’an. Allah menyandingkan perintah puasa dengan informasi bahwa di bulan ini Al-Qur’an diturunkan. Artinya, ruh Ramadan adalah Al-Qur’an,” tegasnya.

Al-Qur’an sebagai Jaminan Keselamatan Hidup

Menurut Ustadz Fahruddin, siapa pun yang berpegang teguh pada Al-Qur’an tidak akan tersesat. Kitab suci ini bukan sekadar bacaan ritual, tetapi pedoman komprehensif yang mengatur kehidupan manusia, mulai dari aspek ibadah, akhlak, hingga muamalah.

Al-Qur’an memberikan arah hidup, menenangkan jiwa yang gelisah, serta menjadi cahaya di tengah kegelapan zaman. Dalam konteks kehidupan modern yang penuh distraksi dan krisis nilai, kembali kepada Al-Qur’an adalah solusi fundamental.

“Kalau hidup ingin terjamin, maka dekatlah dengan Al-Qur’an. Ia bukan hanya dibaca, tetapi dipahami dan diamalkan,” ujarnya.

Empat Pesona Al-Qur’an

Dalam kultumnya, ia juga memaparkan sejumlah keutamaan atau pesona Al-Qur’an yang seharusnya mendorong umat Islam semakin mencintainya, terlebih di bulan Ramadan.

Pertama, membaca satu huruf Al-Qur’an dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Ini menunjukkan betapa besar pahala interaksi dengan Al-Qur’an, bahkan pada level paling dasar sekalipun.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kedua, orang yang membaca Al-Qur’an akan dibersamai malaikat-malaikat yang mulia. Kebersamaan dengan malaikat adalah simbol kemuliaan dan kedekatan dengan rahmat Allah.

Ketiga, Al-Qur’an akan menjadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat. Di saat manusia mencari pertolongan, Al-Qur’an hadir sebagai pemberi pembelaan bagi mereka yang akrab dengannya semasa hidup.

Keempat, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an memiliki dampak spiritual yang luar biasa. Ia mampu menyentuh hati, meluluhkan kekerasan jiwa, bahkan mengubah jalan hidup seseorang.

Sejarah mencatat bagaimana Umar bin Khattab tersentuh oleh bacaan ayat suci hingga akhirnya memeluk Islam. Kisah ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks, melainkan kekuatan ruhani yang menggetarkan.

Ramadan, Momentum Kembali kepada Al-Qur’an

Ustaz Fahruddin menekankan bahwa Ramadan seharusnya menjadi titik balik kedekatan umat Islam dengan Al-Qur’an.

“Bukan hanya meningkatkan kuantitas tilawah, tetapi juga memperdalam pemahaman dan menguatkan komitmen untuk mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari,” papar dia..

Ramadan adalah madrasah ruhani. Puasa melatih pengendalian diri, sementara Al-Qur’an memberi arah dan makna.

Ketika keduanya berjalan beriringan, lahirlah pribadi bertakwa sebagaimana tujuan utama disyariatkannya puasa.

Di akhir kultumnya, dia berharap keimanan dan kecintaan jamaah terhadap Al-Qur’an semakin meningkat. Ramadan, menurutnya, adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang di tahun berikutnya.

“Jangan sampai Ramadan berlalu tanpa kita semakin dekat dengan Al-Qur’an. Karena kemuliaan Ramadan terletak pada sejauh mana kita memuliakan Al-Qur’an,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu