Rahasia sukses pemuda Islam menjadi topik ulasan Pengajian Ahad Pagi KH Ahmad Dahlan Majelis Tabligh PDM Kota Batu di Masjid At-Takwa, Ahad (31/8/2025). Kali ini menghadirkan Prof Gonda Yumitro MA PhD, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.
Pemuda adalah penentu arah perjalanan bangsa. Dalam setiap peradaban besar, pemuda selalu hadir sebagai penggerak utama perubahan, baik dalam bidang ilmu, sosial, maupun kepemimpinan.
Masa muda adalah masa keemasan yang penuh energi, semangat, dan idealisme. Jika potensi ini diarahkan dengan benar, maka pemuda akan menjadi pilar kuat yang menopang kemajuan bangsa dan umat.
Teladan Pemuda dalam Sejarah Islam
Dalam ceramahnya, Prof Gonda menyampaikan bahwa pemuda adalah sosok yang penting dalam peradaban sejarah. Ia menekankan bahwa para sahabat Nabi telah menunjukkan pencapaian luar biasa sejak usia remaja hingga 20-an tahun.
Ali bin Abi Thalib, misalnya, sudah masuk Islam sejak usia belasan dan menjadi pembela setia Rasulullah. Usamah bin Zaid dipercaya Rasulullah memimpin pasukan besar pada usia sekitar 18 tahun. Abdullah bin Umar dikenal rajin mengikuti jejak Nabi dalam ibadah dan ketakwaannya sejak remaja.
Dari generasi setelah sahabat, Umar bin Abdul Aziz, cicit Umar bin Khattab, sudah diangkat sebagai gubernur Madinah di usia 25 tahun dan kemudian dikenal sebagai khalifah adil yang disebut penerus tradisi Khulafā’ Rāsyidīn.
Bahkan, sejarah juga mencatat pemuda seperti Kā‘ab bin Syuaib yang berperan dalam menyebarkan hadis dan ilmu pengetahuan Islam di usia muda. Hal ini menjadi bukti bahwa semangat menuntut ilmu dan mengamalkannya bisa mengantarkan seorang pemuda pada kedudukan mulia.
“Jika pemuda dididik dengan baik, ia akan menjelma menjadi sosok hebat. Di bawah usia 40 tahun seharusnya sudah memiliki ilmu tinggi agar bisa ahli di bidangnya,” tutur Prof Gonda.
Ia juga menegaskan bahwa semua Nabi diutus Allah untuk memperbaiki umat sebelum usia 40 tahun.
Lebih lanjut, Prof Gonda menekankan pentingnya keseimbangan dalam mencari ilmu. Beliau mengutip doa sapu jagat yang artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Al-Baqarah: 201).
Prof Gonda menjelaskan, doa ini menegaskan bahwa ilmu dan amal harus diarahkan untuk mencapai kebaikan dunia sekaligus akhirat. Akhirat adalah tujuan utama. Jika seseorang mengutamakan akhirat, maka dunia akan ikut serta.
Sebaliknya, jika hanya mengejar dunia, maka akhirat akan terlupakan, padahal akhirat adalah tempat kembali yang abadi. Karena itu, para pemuda harus menjadikan ilmu sebagai bekal untuk berkontribusi di dunia sekaligus memperoleh kebahagiaan di akhirat.
Lima Kunci Sukses Pemuda Muslim
- Tauhid yang Kuat
Tauhid adalah fondasi keimanan bagi seorang muslim. Tauhid yang kuat akan membuat seseorang memiliki jiwa yang tenang, arah hidup yang jelas, dan terlindungi dari kesesatan. - Bakti kepada Orang Tua
Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Pemuda yang memuliakan orang tuanya akan dimudahkan jalannya. Banyak sahabat Nabi sukses karena mereka menjaga doa restu orang tua. Bakti ini bukan sekadar materi, tetapi juga kesopanan, doa, dan perhatian. - Kesungguhan Menuntut Ilmu
Ilmu adalah cahaya yang menerangi langkah. Pemuda yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu akan mampu memberi manfaat luas. Ilmu yang dicari bukan hanya duniawi, tetapi juga ilmu agama agar seimbang, termasuk ilmu yang berkaitan dengan batin, misalnya ikhlas, sabar, dan tawadhu. - Akhlak Mulia dan Adab yang Baik
Akhlak lebih fokus pada sifat dan karakter batin seseorang yang berasal dari hati, sedangkan adab lebih mengacu pada perilaku lahiriah atau tata krama yang merupakan hasil dari aturan, norma, atau pendidikan sosial. - Doa yang Tak Putus kepada Allah
Doa adalah senjata dan sumber kekuatan. Semua terjadi hanya karena kuasa Allah. Oleh sebab itu, setiap usaha harus diimbangi dengan doa karena Allah Maha Penentu atas diri hamba-Nya.
Sebagai penutup, Prof Gonda mengajak para pemuda untuk meneladani para sahabat Nabi dan tokoh-tokoh muda Islam dalam sejarah.
“Pemuda Islam harus bercita-cita tinggi, namun tetap mengaitkan semua dengan ridha Allah. Inilah jalan menuju sukses sejati, dunia sekaligus akhirat,” pungkasnya.






0 Tanggapan
Empty Comments