Ramadan, bulan istimewa. Di dalam bulan ini permulaan Al-Qur’an diturunkan, berupa lima ayat yang pertama. Itu petunjuk hidup yang utama.
Peristiwa itu terjadi pada malam yang mulia, sebagaimana dijelaskan ayat ini: ”….. bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil) ……” (QS Al-Baqarah [2]: 185).
Isi Al-Qur’an berupa pedoman hidup. Di antaranya, ada panduan agar kita suka membaca kisah, sebab darinya kita bisa mendapat banyak pelajaran. Simak ayat ini: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal ……” (QS Yusuf [12]: 111).
Lewat ayat di atas, kita diminta untuk rajin membaca kisah. Kita diberi petunjuk agar tekun belajar sejarah. Sementara di dalam Al-Qur’an sendiri, terdapat kurang-lebih sepertiga bagiannya berisi tentang aneka kisah (Fahmi Salim, Petunjuk Manusia Pilihan, 2025: xiii).
Sumber lain malah menyebut bahwa 2/3 bagian isi Al-Qur’an berisi sejarah, tentang kisah-kisah (Edgar Hamas, The Untold Islamic History; Sejarah Islam yang Belum Terungkap, 2021: vi).
Jika kita mengambil pendapat bahwa sepertiga bagian isi Al-Qur’an adalah tentang sejarah atau kisah, maka angka itu sudah cukup besar.
Kita bisa merasakan bahwa Allah memandang penting sejarah atau kisah. Islam menempatkan sejarah atau kisah dalam posisi yang baik karena banyak memberi pelajaran bagi manusia.
Bahkan, Surat ke-28 Al-Qur’an bernama Al-Qashash (maknanya, cerita atau kisah). Surat ke-18 Al-Qur’an bernama Al-Kahfi.
Beberapa Surat malah punya nama yang terhubung langsung nama orang seperti Muhammad (Surat ke-47), Yunus (Surat ke-10), Yusuf (Surat ke-11), Ibrahim (Surat ke-14), dan Nuh Surat ke-(Surat ke-71). Ada juga, ini: Ali ’Imran (Surat ke-3), Maryam (Surat ke-19), dan Luqman (Surat ke-31).
Berdaya Gugah
Al-Qur’an, misalnya, berkisah tentang perilaku dua jenis manusia yaitu yang baik dan tidak baik. Tentu, yang baik harus kita tiru. Sementara, yang tidak baik kita jauhi.
Contoh yang baik di dalam Al-Qur’an, seperti kisah Nabi dan Rasul. Ada juga kisah Luqman, orang yang bukan Nabi tapi sangat patut kita teladani. Bacalah QS Luqman [31]: 12-19. Kita baca, misalnya, ayat ini: ”Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Lukman, yaitu:
’Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji’.” QS Luqman [31]: 12).
Adapun contoh yang tidak baik di dalam Al-Qur’an seperti Fir’aun, Haman, dan Qarun. Ketiga tokoh ini menentang dan mendustakan Nabi Musa As. Perhatikan ayat ini: ”Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: ’(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta’.” (QS Al-Mu’min [40]: 23-24).
Metode Baik
Di antara metode pendidikan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad Saw adalah dengan menuturkan kisah-kisah. Bagi Rasul Saw, kisah dijadikan sebagai alat atau media untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran dan pelajaran.
Di kisah-kisah itu, baik yang bersumber dari dalam Al-Qur’an maupun dari Hadits, antara lain ada yang bertema tauhid, keharusan bersabar, dan sikap tawakkal. Ada yang bertema keutamaan bertobat dan jujur dalam pergaulan.
Ada yang memuat pesan tentang keyakinan dari orang yang bertauhid dahulu ketika diintimidasi, diteror bahkan dibunuh. Pun, banyak tema lainnya.
Kisah-kisah itu ada yang berkaitan dengan etika umum antarmakhluk. Isinya, mengandung dasar-dasar akhlak yang luhur. Misalnya, berbakti kepada orang tua, silaturahim, berbuat baik kepada kaum dhuafa, dan sebagainya.
Hal yang pasti, kisah yang berasal dari Nabi Saw memiliki keistimewaan karena didasarkan pada fakta. Kisah-kisah itu bukan fiksi. Ini bisa kita maklumi karena yang berkisah adalah orang yang jujur, yang dapat dipercaya.
Sang pemberi kisah diakui kejujurannya, yang tidak berkata menurut kemauan hawa nafsunya. Kisah-kisah dari Nabi Saw bukanlah sembarang kisah melainkan kisah yang memiliki tujuan dan target yang tinggi serta jelas (M. Alawi Al-Maliki, Prinsip-Prinsip Pendidikan Rasulullah Saw, 2002: 94-95).
Berikut ini, kisah yang berdasar HR Bukhari – Muslim tentang tiga bayi yang bisa berbicara. Disebutkan, tiga bayi yang berbicara saat masih dalam buaian itu sebagai tanda kekuasaan Allah. Berikut ini isi ringkasnya.
Bayi Isa
Bayi pertama adalah Isa ibn Maryam. Ketika kaumnya menuduh sang ibu yaitu Maryam melakukan perbuatan keji (karena diketahui dia memang belum punya suami), dia hanya menunjuk kepada bayinya.
Atas izin Allah, Isa yang masih bayi bisa berkata-kata. Perhatikan ayat ini: ”Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ’Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?’ Berkata Isa: ’Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi’.” (QS Maryam [19]: 29–30).
Bayi dan Juraij
Dahulu ada seorang ahli ibadah dari Bani Israil bernama Juraij. Ia membangun tempat ibadah khusus. Dia tekun beribadah di sana.
Suatu hari, ibunya datang memanggilnya saat dia sedang shalat sunnah. Dia ragu antara melanjutkan shalat atau memenuhi panggilan ibunya. Ia memilih meneruskan shalatnya dan tidak menjawab.
Peristiwa itu terjadi hingga tiga kali. Sang ibu yang merasa diabaikan, kecewa dan kemudian berdoa. Si ibu memohon agar Allah memperlihatkan kepada Juraij suatu ujian yang berat.
Tak lama kemudian, seorang wanita pezina mengaku bahwa bayi yang dilahirkannya adalah anak Juraij. Masyarakat marah, merobohkan tempat ibadahnya. Mereka mempermalukan Juraij.
Juraij meminta agar bayi itu dibawa kepadanya. Setelah berdoa, dia bertanya kepada bayi tersebut: “Siapa ayahmu?” Dengan izin Allah, bayi itu menjawab: “Ayahku adalah seorang penggembala.”
Kebenaran lalu terungkap. Masyarakat sadar bahwa Juraij difitnah dan mereka meminta maaf. Mereka ingin membangun kembali tempat ibadahnya dengan bahan yang lebih baik, tetapi Juraij meminta agar dibangun seperti semula.
Bayi Menolak
Ada seorang wanita sedang menyusui bayinya. Tiba-tiba lewatlah seorang lelaki yang gagah dan terpandang. Dia berpakaian indah dan berkendaraan yang bagus. Sang ibu terpesona dan berdoa: “Yaa Allah, jadikanlah anakku seperti lelaki itu.”
Dengan izin Allah, bayi yang masih menyusu itu melepaskan isapannya dan berkata: “Yaa Allah, jangan Engkau jadikan aku seperti dia.”
Kemudian lewat seorang perempuan miskin yang sedang dicaci dan dituduh berzina serta mencuri. Orang-orang memperlakukannya dengan kasar. Melihat itu, sang ibu berkata: “Yaa Allah, jangan Engkau jadikan anakku seperti perempuan ini.”
Bayi itu kembali berkata: “Yaa Allah, jadikanlah aku seperti dia.”
Sang ibu terkejut dan bertanya mengapa dia berkata demikian. Bayi itu menjelaskan:
Lelaki gagah tadi sebenarnya adalah orang zalim dan sombong. Perempuan yang dicaci itu sebenarnya wanita shalihah dan tidak bersalah serta sedang dizalimi.
Berbagai Pelajaran
Banyak kisah yang lain, di Al-Qur’an dan Hadits. Di Al-Qur’an, misalnya ada kisah sejumlah pemuda yang ditidurkan Allah di Gua Al-Kahfi lebih dari 300 tahun. Hal itu, untuk menyelamatkan akidah mereka dari ancaman penguasa yang kafir.
Di Al-Qur’an juga ada kisah Ashabul Ukhdud (Para Penggali Parit). Kisah itu disebut dalam lima ayat berikut ini. ”Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS Al-Buruj [85]: 4–8).
Adapun kisah lengkapnya ada di HR Muslim. Itu, kisah tentang para korban Ashabul Ukhdud di Najran – Yaman. Kisah tentang kaum beriman yang ditindas raja zalim.
Berikut ini, sekadar menyebut satu kisah lain dari Nabi Muhammad Saw. Kisah itu, tentang manfaat menyebut amalan terbaik yang pernah kita lakukan sebagai media agar doa kita lekas terkabul. Dalam kaitan ini, ada ”Kisah Doa Tiga Pemuda yang Terjebak dalam Gua”.
Kapan Saja
Tentu, dari masing-masing kisah, di Al-Qur’an atau di hadits, ada berbagai pelajaran penting. Misalnya, banyak pelajaran dari ”Tiga Bayi yang Bisa Bicara”. Kita dapat temukan pelajaran di balik kisah ”Bayi Isa”.
Kita bisa mendapat nasihat di balik kisah ”Bayi dan Juraij”. Kita memperoleh ilmu tentang keharusan berhati-hati mengambil kesimpulan dari semua yang kita lihat atau rasakan pada kisah ”Doa Ibu dan ’Penolakan’ Sang Anak”.
Alhasil, di dalam sejarah atau kisah, banyak pelajaran di dalamnya. Oleh karena itu perbanyaklah membaca kisah. Dengan kisah, kita bisa belajar kapan saja. Alhamdulillah! (*)






0 Tanggapan
Empty Comments