Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ramadan dan Kebangkitan Jiwa yang Lama Tertidur

Iklan Landscape Smamda
Ramadan dan Kebangkitan Jiwa yang Lama Tertidur
Foto: Shutterstock
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Lima belas hari lagi, insya Allah, kita akan kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadan yang dahsyat dan luar biasa.

Betapa tidak, Ramadan adalah satu-satunya bulan yang disebut secara eksplisit di dalam Al-Qur’an. Ia bukan sekadar penanda waktu dalam kalender hijriah, melainkan momentum ilahiah yang menghadirkan getaran spiritual berbeda dari bulan-bulan lainnya.

Ramadan selalu dinanti, disambut dengan sukacita, dan didudukkan sebagai tamu agung yang dimuliakan.

Ramadan bukan sekadar nama bulan. Ia adalah madrasah ruhani, ruang pembentukan jiwa, sekaligus momentum perjumpaan seorang hamba dengan fitrahnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia terjebak dalam rutinitas duniawi—pekerjaan yang menumpuk, target yang memburu, ambisi yang tak pernah selesai.

Ramadan hadir untuk menghentikan sejenak laju itu. Ia seperti lampu merah di persimpangan hidup, memberi tanda: berhenti, renungkan, lalu lanjutkan perjalanan dengan arah yang lebih benar.

Di Ramadan, kita menyaksikan perubahan yang kadang terasa ajaib. Seseorang yang biasanya sulit bangun pagi, tiba-tiba mampu terjaga sebelum fajar demi sahur dan salat subuh berjamaah.

Seorang pedagang yang biasanya sibuk menghitung untung-rugi, mendadak lebih ringan tangan menyisihkan sebagian rezekinya untuk berbagi takjil gratis di tepi jalan.

Seorang anak muda yang hari-harinya diisi dengan gawai dan media sosial, mulai meluangkan waktu duduk bersila di masjid, membuka mushaf, dan mengeja ayat-ayat suci dengan mata yang berkaca-kaca.

Ramadan membentuk kesadaran kolektif akan fitrah manusia—kecenderungan menuju kebenaran (hanif). Ia menanamkan nilai-nilai keislaman bukan sekadar dalam wacana, tetapi dalam praktik nyata.

Kesalehan individual tumbuh melalui puasa, tilawah, qiyamul lail, dan doa-doa panjang di sepertiga malam.Kesalehan sosial pun bersemi melalui zakat, infak, sedekah, dan kepedulian kepada sesama.

Masjid-masjid yang pada bulan biasa terasa lengang, mendadak makmur. Saf-saf shalat terisi rapat. Lantunan Al-Qur’an terdengar hampir sepanjang hari. Anak-anak kecil belajar berpuasa dengan wajah ceria, meski sesekali meringis menahan lapar.

Para orang tua tersenyum haru melihat generasi mereka mulai mencintai ibadah. Bahkan di kampung-kampung kecil, suasana menjelang berbuka menjadi momen kebersamaan yang hangat—tetangga saling mengantar makanan, aroma kolak dan gorengan menyatu dalam harmoni kebersamaan.

Di perkantoran, suasana pun berbeda. Waktu istirahat yang biasanya diisi makan siang bersama, berubah menjadi tadarus singkat atau kajian ringan.

Di rumah-rumah, keluarga yang mungkin jarang duduk bersama, kini berkumpul setiap maghrib, menanti azan dengan doa yang sama: semoga puasa hari ini diterima Allah.

Ramadan benar-benar menjadi magnet transformasi. Ia mendorong hijrah batin—perubahan yang mungkin tak kasatmata, tetapi terasa dalam.

Orang yang dulu mudah marah, belajar menahan emosi karena sadar puasanya bisa ternodai. Mereka yang lalai dalam shalat, mulai memperbaiki saf dan menjaga waktu. Mereka yang jarang bersedekah, mulai merasakan kenikmatan memberi.

Ramadan mengajarkan bahwa lapar bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi latihan empati.

Saat perut terasa kosong, kita belajar memahami mereka yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Saat tenggorokan kering, kita diingatkan akan nikmat seteguk air yang sering kita abaikan. Dari situlah lahir kepedulian sosial yang lebih tulus.

Inilah kekuatan sejati Ramadan. The Power of Ramadan. Ia bukan hanya ritual tahunan, tetapi energi pembaruan diri.

Ramadan bukan sekadar tradisi, tetapi transformasi. Ramadhan membangunkan hati yang lama tertidur, melembutkan jiwa yang mengeras, dan menyalakan kembali cahaya iman yang mungkin mulai redup.

Menyambut Ramadan 1447 H / 2026 ini, mari kita hadirkan spirit: The Power of Ramadan – berbagi, meraih berkah ilahi.

Kita siapkan diri bukan hanya dengan stok bahan makanan, tetapi dengan niat yang lurus, tekad yang kuat, dan hati yang bersih.

Kita tata ulang jadwal, kita perbanyak istighfar, kita perkuat silaturahmi, dan kita niatkan Ramadhan kali ini menjadi yang terbaik dalam hidup kita.

Semoga Ramadan yang akan datang bukan sekadar lewat dalam hitungan hari, tetapi meninggalkan jejak mendalam dalam jiwa. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hidayah, maghfirah, dan keberkahan yang melimpah.

Selamat menyambut Ramadan. Semoga kita dipertemukan dalam keadaan sehat, iman yang menguat, dan hati yang siap menerima cahaya-Nya.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu