Pertama kali saya mengenal filsafat eksistensialisme bukan dari buku tebal di perpustakaan, tetapi dari sebuah kajian keilmuan di Rumah Ikatan saat saya aktif di IMM Lamongan.
Di ruang diskusi sederhana itulah Dr. Sutikno, M.Si., memperkenalkan saya pada pemikiran Jean-Paul Sartre. Waktu itu saya masih mahasiswa S1 yang lebih sering berbicara soal gerakan dan advokasi, tetapi pertemuan dengan eksistensialisme dalam forum tersebut membuat saya mulai bertanya lebih dalam tentang diri saya sendiri.
Sartre mengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Awalnya saya cukup bingung dengan kalimat itu. Tetapi semakin saya renungkan, semakin terasa dekat. Manusia, kata Sartre, tidak lahir dengan makna yang sudah jadi. Kita ada terlebih dahulu, lalu kita membentuk diri kita melalui pilihan dan tindakan. Tidak ada peran yang otomatis melekat. Semua kembali pada keputusan yang kita ambil.
Bagi saya, gagasan ini sangat relevan ketika memasuki Ramadan. Secara harfiah, puasa berarti menahan diri. Menahan lapar, menahan haus, menahan amarah, bahkan menahan ego yang sering kali ingin diakui. Puasa bukan sekadar tidak makan dan tidak minum, tetapi latihan sadar untuk mengendalikan diri.
Di titik inilah saya melihat pertemuan antara Ramadan dan eksistensialisme Sartre. Jika manusia adalah makhluk yang bebas, maka puasa adalah momen ketika kebebasan itu diuji. Kita sebenarnya bebas untuk makan secara diam diam. Kita bebas untuk marah. Kita bebas untuk membalas. Tetapi kita memilih untuk menahan. Pilihan itu tidak dipaksakan oleh orang lain. Ia lahir dari kesadaran pribadi.
Sartre juga berbicara tentang kecenderungan manusia untuk lari dari tanggung jawab atas kebebasannya. Ia menyebutnya sebagai Bad Faith, yaitu sikap tidak jujur pada diri sendiri. Dalam kehidupan modern, saya melihat banyak orang yang sibuk sekali, tetapi tidak benar-benar tahu untuk apa ia sibuk. Kita mengejar karier, status, pengakuan, tetapi jarang duduk diam untuk bertanya siapa sebenarnya diri kita.
Keterasingan hari ini bukan hanya soal tidak punya teman. Banyak orang dikelilingi keramaian, tetapi tetap merasa kosong. Media sosial penuh interaksi, tetapi hati terasa jauh dari diri sendiri. Kita hadir di banyak ruang, tetapi tidak sungguh-sungguh hadir sebagai manusia yang sadar.
Ramadan menurut saya seharusnya menjadi momen untuk memulihkan kesadaran itu. Rasa lapar membuat kita sadar bahwa kita terbatas. Rasa haus mengingatkan bahwa tubuh ini rapuh. Dalam kondisi seperti itu, kita dipaksa berhenti dari ritme yang biasanya serba cepat. Kita diberi ruang untuk merenung.
Namun saya juga melihat paradoks. Ramadan sering berubah menjadi ajang konsumsi besar-besaran. Iklan makanan bertebaran. Diskon di mana-mana. Seolah-olah menahan diri hanya berlangsung beberapa jam, lalu diganti dengan pelampiasan yang berlebihan saat berbuka. Jika memakai kacamata Sartre, ini bisa menjadi bentuk pelarian dari kegelisahan. Kita tidak ingin berhadapan terlalu lama dengan sunyi, maka kita isi dengan keramaian.
Bagi saya pribadi, pelajaran dari Dr. Sutikno, M.Si., tentang eksistensialisme selalu kembali saat Ramadan tiba. Bahwa menjadi manusia berarti berani bertanggung jawab atas pilihan sendiri. Puasa mengajarkan bahwa kebebasan bukan berarti mengikuti semua keinginan, tetapi berani mengatakan cukup pada diri sendiri.
Mungkin inilah yang membuat Ramadan terasa penting di tengah dunia modern yang bising. Ia mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur, apakah saya sungguh hidup sebagai diri saya, atau hanya menjalani peran yang dibentuk lingkungan.
Pada akhirnya, keterasingan manusia tidak selalu datang dari luar. Ia bisa muncul ketika kita terlalu jauh dari diri sendiri. Ramadan memberi kesempatan untuk pulang. Bukan sekadar pulang ke rumah saat berbuka, tetapi pulang ke kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang bebas sekaligus bertanggung jawab atas hidup yang kita jalani.
Sebagai aktivis yang masih terus belajar, saya tidak melihat eksistensialisme sebagai teori yang jauh dari agama. Justru dalam puasa, saya menemukan bahwa refleksi tentang kebebasan dan tanggung jawab itu terasa sangat nyata. Dan mungkin, di situlah Ramadan menemukan maknanya yang paling dalam.






0 Tanggapan
Empty Comments