Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ramadan dan Revolusi Literasi: Saatnya Umat Kembali pada Iqra

Iklan Landscape Smamda
Ramadan dan Revolusi Literasi: Saatnya Umat Kembali pada Iqra
Ramadhan dan Revolusi Literasi Saatnya Umat Kembali pada Iqra, Ilustrasi: Pexels/PWMU.CO
Oleh : Agus Triyono Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta
pwmu.co -

Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi momentum kebangkitan literasi umat.

Bulan Ramadan sering kali dimaknai secara simbolik hanya sebagai ibadah yang berfokus pada ritual fisik yakni menahan lapar dan dahaga. Namun, jika menelusuri akar sejarahnya, Ramadan merupakan momentum revolusi intelektual Islam.

Peristiwa Nuzulul Quran yang diperingati setiap tahunnya bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan deklarasi literasi dunia.

Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira bukanlah perintah ritual, melainkan perintah membaca. Firman Allah dalam QS. Al-Alaq ayat 1 berbunyi, “Iqra!” atau “Bacalah!”.

Perintah ini menjadi fondasi peradaban Islam sekaligus titik awal transformasi ilmu pengetahuan.

Melek Digital, Buta Literasi

Secara akademis, Indonesia saat ini berada dalam kondisi paradoks komunikasi yang tidak sederhana. Di satu sisi, masyarakat menjadi salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia.

Namun di sisi lain, kemampuan teknis mengoperasikan gawai tidak berbanding lurus dengan kemampuan mengolah informasi.

Berdasarkan laporan PISA 2022, skor literasi membaca siswa Indonesia berada di angka 359, jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 476. Ketertinggalan ini semakin kontras dibandingkan sejumlah negara ASEAN lainnya.

Bahkan data UNESCO mencatat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang, hanya satu yang memiliki kegemaran membaca secara aktif.

Ketimpangan antara kecepatan jempol di layar gawai dan kedalaman berpikir ini melahirkan masyarakat yang rentan terhadap hoaks, polarisasi, serta menurunnya empati digital.

Jeda Digital di Bulan Ramadan

Rendahnya literasi bukan sekadar persoalan statistik, melainkan ancaman nyata bagi kemanusiaan dan ilmu pengetahuan. Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat tradisi literasi di tengah derasnya arus digital.

Kita perlu mengalokasikan ruang khusus untuk melakukan jeda digital. Ramadan adalah kesempatan terbaik untuk berbenah dan membangun kembali budaya membaca.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Momentum tadarus Al-Quran tidak semestinya hanya mengejar kuantitas khatam, melainkan menjadi ajang pendalaman makna dan diskusi reflektif.

Membaca dan mendiskusikan ayat-ayat Al-Quran secara bersama dapat memperkuat daya analisis serta kejernihan berpikir. Masyarakat yang gemar membaca adalah masyarakat yang sulit dimanipulasi.

Literasi memperkuat kemampuan dalam menyaring hoaks dan provokasi, sekaligus meningkatkan daya tahan bangsa terhadap perpecahan.

Membangun Peradaban dengan Membaca

Sejarah membuktikan bahwa sebuah bangsa hanya bisa maju jika tradisi membaca diperkuat. Islam mencapai masa keemasan karena semangat literasi yang inklusif, memadukan wahyu dengan observasi akal.

Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Kewajiban ini bukan sekadar formalitas, melainkan panggilan untuk menjadi pribadi yang literat dan mampu membaca tanda-tanda zaman.

Literasi bukan hanya kemampuan mengeja huruf, tetapi kemampuan memberi makna pada realitas. Bangsa yang literat memiliki ketahanan mental, tidak mudah terprovokasi, memiliki empati digital, dan memandang kehidupan sebagai amanah yang harus dijaga.

Menjadikan Ramadan sebagai bulan literasi berarti mengembalikan umat pada identitas aslinya sebagai umat pembaca.

Dengan memperkuat budaya membaca, kita tidak hanya mencetak masyarakat yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang berempati.

Bangsa yang maju bukanlah bangsa yang sekadar memproduksi konten viral, melainkan bangsa yang mampu membaca tanda-tanda zaman dengan kearifan.

Peradaban besar tidak dibangun dengan emoji, melainkan dengan pemahaman mendalam. Pada akhirnya, peradaban agung bermula dari satu perintah sederhana yang mengguncang dunia di Gua Hira: Iqra.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu