Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ramadan dan Transformasi Diri, Pesan Inspiratif Pengajian di RSI Siti Aisyah Madiun

Iklan Landscape Smamda
Ramadan dan Transformasi Diri, Pesan Inspiratif Pengajian di RSI Siti Aisyah Madiun
Dr. Agus Tricahyo (kanan) menyampaikan tausiyah dalam pengajian di RSI Siti Aisyah Madiun. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, RSI Siti Aisyah Madiun menggelar pengajian rutin sebagai bagian dari persiapan spiritual seluruh karyawan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Muchsin Ali, Gedung Mas Mansyur Lantai 2, Jumat (13/2/2026), dengan menghadirkan penceramah Dr. KH. Agus Tricahyo, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Madiun.

Mengusung tema yang menggugah, “Ramadhan dan Kesempatan untuk Menjadi Lebih Baik”, pengajian ini berlangsung khidmat dan penuh antusiasme.

Seluruh peserta mengikuti rangkaian acara dengan penuh kekhusyukan, dimulai dengan tilawah Al-Qur’an.

Acara dibuka dengan lantunan Surat Al-Baqarah ayat 183–188, yang dibaca dan diikuti jamaah secara bersama-sama. Ayat-ayat tersebut menegaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah:

“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.” (Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).

Pembacaan ayat ini menjadi pengingat bahwa puasa bukan sekadar ibadah ritual, melainkan sarana pembentukan ketakwaan dan karakter.

Dalam tausiyahnya, Dr. Agus Tricahyo menegaskan, Ramadan tidak boleh dipandang sebagai rutinitas tahunan yang datang dan pergi tanpa makna.

“Ramadan adalah anugerah dan kesempatan kedua. Tidak semua orang diberikan umur untuk kembali bertemu dengan bulan mulia ini. Jika kita masih dipertemukan, itu tanda Allah masih memberi peluang bagi kita untuk berubah,” tuturnya.

Dia mengajak seluruh peserta untuk mensyukuri pertemuan dengan Ramadan sebagai momentum evaluasi diri. Sebab, sejatinya, tidak ada jaminan seseorang akan kembali berjumpa dengan Ramadan berikutnya.

Lebih lanjut, Ustaz Agus menjelaskan, Ramadan adalah ruang spiritual paling kondusif untuk melakukan transformasi diri.

Pada bulan inilah umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak istighfar dan taubat.

Ustaz Agus mengingatkan, para ulama salaf terdahulu bahkan telah berdoa sejak enam bulan sebelum Ramadan agar diberi kesempatan berjumpa dengan bulan suci. Enam bulan setelahnya, mereka berdoa agar seluruh amal ibadah di bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT.

“Ini menunjukkan betapa berharganya Ramadan dalam pandangan orang-orang saleh terdahulu. Mereka mempersiapkan diri jauh-jauh hari,” jelasnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ustaz Agus lalu merinci, tujuan utama puasa adalah melahirkan pribadi bertakwa. Lingkungan Ramadan sangat mendukung perubahan perilaku karena beberapa faktor penting:

1. Atmosfer Ibadah

Pada bulan Ramadan, setan-setan dibelenggu, pahala dilipatgandakan, dan semangat ibadah kolektif meningkat. Masjid-masjid ramai, lantunan Al-Qur’an terdengar di berbagai tempat, dan suasana religius terasa lebih kuat dari biasanya.

2. Latihan Mengendalikan Nafsu

Puasa melatih manusia untuk menahan lapar dan dahaga, sekaligus menahan lisan dari ucapan yang tidak baik, mengendalikan emosi, serta membentuk pribadi yang sabar dan pemaaf.

3. Self-Control (Pengendalian Diri)

Menurutnya, puasa adalah sarana terbaik dalam melatih pengendalian diri secara menyeluruh. Bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga pandangan, hati, serta perilaku.

“Ramadan adalah sekolah karakter. Jika kita mampu menjaga diri selama satu bulan penuh, seharusnya kebiasaan baik itu bisa kita lanjutkan di bulan-bulan berikutnya,” tegasnya.

Pengajian ini diharapkan menjadi bekal spiritual bagi seluruh karyawan RSI Siti Aisyah Madiun dalam menyambut Ramadan dengan kesiapan iman dan mental.

Sebagai institusi layanan kesehatan berbasis nilai-nilai Islam, penguatan spiritual menjadi bagian penting dalam membentuk budaya kerja yang amanah, sabar, dan penuh empati.

Melalui kegiatan ini, manajemen berharap setiap detik di bulan Ramadan dapat dimaksimalkan sebagai momentum transformasi diri, bukan hanya menjadi pribadi yang lebih baik secara spiritual, tetapi juga lebih profesional dan berintegritas dalam menjalankan tugas.

Ramadan bukan sekadar datang dan berlalu, melainkan peluang emas untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah, serta memperindah hubungan dengan sesama. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu