Saudaraku yang dirahmati Allah, atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala, pada 18 Februari mendatang kita kembali akan dipertemukan dengan bulan suci Ramadan.
Bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan, sekaligus momentum terbaik untuk melatih keteguhan hati dan keistamahan dalam kebaikan.
Dalam kehidupan ini, setiap pekerjaan atau perilaku positif—baik berupa ibadah maupun ikhtiar dalam kehidupan sehari-hari—apabila dilakukan secara istikamah, lambat laun akan menunjukkan hasil. Tidak selalu cepat terlihat, tidak selalu langsung terasa, tetapi pasti membawa kebaikan.
Ibarat seorang petani yang setiap hari menyiram tanamannya. Ia tidak menuntut panen esok hari. Ia bersabar, tetap merawat meski panas menyengat dan hujan belum turun.
Hingga pada waktunya, Allah menumbuhkan hasil dari ketekunan yang ia jaga. Demikian pula istikamah dalam hidup: dikerjakan terus-menerus, meski pelan, meski sederhana.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Maka tetaplah kamu bersikap lurus (istikamah) pada jalan menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6)
Istikamah bukan berarti tidak pernah lelah, bukan pula berarti tidak pernah tergelincir. Istikamah adalah kemampuan untuk terus kembali kepada kebenaran.
Saat lalai, kita sadar. Saat jatuh, kita bangkit. Saat iman melemah, kita perbaiki niat dan mendekat kembali kepada Allah.
Orang yang memiliki iman yang teguh akan mengembalikan setiap persoalannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ketika rezeki terasa sempit, ia tetap menjaga kejujuran. Ketika hidup terasa berat, ia tetap menjaga shalat. Ketika dikecewakan manusia, ia tidak kehilangan harap kepada Rabb-nya.
Dengan imannya, ia berusaha melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan yang tercela.
Dalam keseharian, hal itu tampak dari hal-hal sederhana: menjaga lisan, menahan emosi, bersikap amanah meski tidak diawasi, serta tetap berbuat baik meski tidak selalu dihargai.
Iman yang kokoh dan amal saleh yang dijaga secara istikamah akan mengantarkan seseorang pada kehidupan yang baik dan terpuji, sebagaimana janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Kehidupan yang baik tidak selalu berarti hidup tanpa masalah, tetapi hati yang tenang, jiwa yang lapang, dan keyakinan bahwa Allah selalu membersamai setiap langkah.
Ramadan yang akan segera hadir hendaknya menjadi titik awal untuk memperbaiki diri. Bukan dengan target yang berat dan memberatkan, tetapi dengan komitmen yang ringan namun dijaga: salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an meski sedikit tetapi rutin, memperbanyak istighfar, menahan amarah, dan meluruskan niat dalam setiap amal.
Marilah kita saat ini berdoa dan bertobat, sekaligus membuat komitmen baru untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna—lebih dekat kepada Allah, lebih bermanfaat bagi sesama, dan lebih jujur terhadap diri sendiri.
Semoga dengan niat baik ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kelancaran dalam segala urusan kita, menganugerahkan keberkahan dalam rezeki kita, menjaga kita dari segala mara bahaya, meluaskan rezeki kita dengan cara yang halal dan diridai, menjaga akidah kita beserta keluarga dan anak cucu dari segala aliran dan ajaran yang menyimpang, dan semoga Allah menutup usia kita semua dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments