Bulan suci Ramadan mulai dijalani umat Islam di berbagai negara Timur Tengah di tengah bayang-bayang krisis pangan dan energi akibat perang Rusia dan Ukraina.
Ramadan tahun ini dimulai pada Sabtu pagi di sebagian besar negara Timur Tengah, bertepatan dengan melonjaknya harga bahan pangan dan energi imbas invasi Rusia ke Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Ramadan Dimulai di Tengah Krisis Global
Perang antara Rusia dan Ukraina memberi dampak besar terhadap kehidupan masyarakat Muslim, terutama di kawasan Timur Tengah. Padahal, Ramadan identik dengan tradisi berkumpul bersama keluarga, berbuka puasa bersama, serta berbagai perayaan keagamaan.
Sejumlah negara mayoritas Muslim seperti Arab Saudi, Mesir, Suriah, Sudan, dan Uni Emirat Arab menetapkan awal Ramadan pada Sabtu. Sementara itu, sebagian negara lain seperti Yordania menetapkan awal puasa pada Minggu karena otoritas keagamaan setempat tidak melihat hilal.
Perbedaan Awal Ramadan Antarnegara
Umat Islam menggunakan kalender lunar dalam menentukan awal bulan Hijriah. Metode rukyat atau hisab yang berbeda membuat penetapan awal Ramadan dapat selisih satu hingga dua hari antarnegara.
Di Indonesia dan sebagian Asia Tenggara, umat Islam umumnya memulai puasa sehari setelah negara-negara Timur Tengah. Hal serupa juga terjadi di kalangan Syiah di Lebanon, Iran, dan Irak.
Organisasi Islam Muhammadiyah sempat menetapkan awal Ramadan lebih awal berdasarkan perhitungan astronomi, namun pemerintah menetapkan awal puasa sehari setelahnya usai hilal tidak terpantau.
Harga Pangan Melonjak, Beban Warga Bertambah
Dikutip dari CNN, konflik Rusia-Ukraina berdampak signifikan terhadap pasokan gandum dunia. Kedua negara tersebut menyumbang sekitar sepertiga ekspor gandum dan jelai global, yang menjadi bahan pangan utama di Timur Tengah.
Mesir sebagai importir gandum terbesar di dunia mengalami tekanan berat. Selain harga gandum yang melonjak, nilai tukar mata uang Mesir juga melemah, memperparah kenaikan harga kebutuhan pokok.
Warga Kairo tetap berbelanja kebutuhan Ramadan seperti lampion dan bahan makanan, namun dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena harga yang semakin mahal.
Tradisi Ramadan Tetap Bertahan
Meski kondisi ekonomi memburuk, tradisi Ramadan tetap dijaga. Di Mesir, tradisi “Tables of the Compassionate” atau meja makan gratis bagi kaum miskin tetap digelar di sejumlah kawasan.
“Ini bisa membantu dalam situasi seperti sekarang. Orang-orang lelah dengan harga yang terus naik,” ujar Rabei Hassan, muazin sebuah masjid di Giza, saat berbelanja bahan makanan.
Masjid Kembali Ramai Setelah Pandemi
Ramadan tahun ini juga menandai kembalinya salat tarawih berjemaah di banyak masjid setelah dua tahun dibatasi akibat pandemi Covid-19. Ribuan jamaah memadati Masjid Al-Azhar di Kairo pada malam pertama tarawih.
“Ramadan tanpa tarawih di masjid bukanlah Ramadan,” kata Saeed Abdel-Rahman, seorang pensiunan guru berusia 64 tahun.
Kondisi Sulit di Gaza, Lebanon, dan Irak
Di Jalur Gaza, suasana pasar tampak sepi menjelang Ramadan. Pedagang mengeluhkan harga yang melonjak akibat perang global dan blokade yang telah berlangsung lama.
Di Lebanon, krisis ekonomi yang telah berlangsung bertahun-tahun diperparah oleh kenaikan harga pangan global. Kondisi serupa dirasakan warga Irak yang harus menghadapi lonjakan harga minyak goreng dan tepung.
“Bagaimana keluarga dengan lima anggota bisa bertahan jika harga kebutuhan pokok terus naik?” ujar Suhaila Assam, aktivis perempuan di Irak.
Tarawih Kembali Digelar di Hagia Sophia
Sementara itu di Turki, umat Islam melaksanakan salat tarawih di Hagia Sophia untuk pertama kalinya dalam 88 tahun. Ribuan jamaah memadati bangunan bersejarah tersebut, menandai momen bersejarah setelah pandemi membatasi aktivitas ibadah.






0 Tanggapan
Empty Comments