Ketiga unsur yang disebut di judul tulisan ini, terhubung erat. Patut kita telusuri kaitannya. Ada apa di Ramadan? Siapa dan apa kiprah Hamka? Bagaimana kaitan keduanya dengan spirit menulis?
Ramadan dan Al-Qur’an
Di bulan Ramadan, permulaan Al-Qur’an turun. “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu …..” (QS Al-Baqarah [2]: 185).
Al-Qur’an, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Isinya, berupa pedoman hidup. Di antaranya, ada QS Al-Alaq [96]: 1-5 yang meminta kita untuk aktif membaca dan suka menulis.
Ada juga QS Fushshilat [41]: 33 dan QS Ali ‘Imran [3]: 104 yang menyemangati kita agar aktif berdakwah. Ada lagi, QS Ali ‘Imran [3]: 110 yang mendorong kita menegakkan amar makruf dan nahi munkar.
Pun, QS An-Nahl [16]: 125 yang memberi panduan tentang bagaimana cara menyampaikan dakwah yaitu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan diskusi bahkan debat dengan cara yang baik.
Seiring, Bagus!
Pesan dakwah harus bisa kita komunikasikan dengan baik, termasuk dengan lisan dan tulisan. Terkait, perlu kiranya kita belajar kepada ulama yang punya kemampuan berdakwah lewat lisan sekaligus tulisan.
Untuk ini, pelajarilah kisah-kisah, seperti arahan QS Yusuf [12]: 111 ini: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal ……” (QS Yusuf [12]: 111).
Terkait dalam berdakwah, sebaiknya lisan dan tulisan berjalan seiring, tulis Isa Anshary dalam buku Mujahid Da’wah. Pidato dan pena harus bergerak serempak, tegas ulama yang berjuluk singa podium sekaligus mahir menulis itu.
Masih kata Isa Anshary, Hamka seorang pembicara kenamaan. Hanya saja, Hamka lebih indah karangannya dibanding pidatonya (tt, 27 dan 30). Dengan demikian, Hamka adalah salah seorang ulama yang patut kita dahulukan mempelajari perjuangan dakwahnya, lisan dan tulisan.
Sang Panutan
Hamka (1908-1981) adalah ulama teladan. Pendidikan formalnya, tak sampai lulus SD. Meski begitu, dia penulis lebih dari 100 judul buku. Puncak karyanya adalah Tafsir Al-Azhar.
Hamka lengkap, cakap menulis fiksi dan terampil menulis nonfiksi. Dia menulis fiksi, antara lain, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk. Lelaki itu menulis nonfiksi, antara lain, Tasawuf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup, dan Lembaga Budi.
Hal lain yang menarik, Hamka menulis dua memoar. Pertama, tentang ayahnya yang diberi judul Ayahku. Kedua, tentang dirinya sendiri dan berjudul Kenang-Kenangan Hidup.
Dari buku yang disebut terakhir di atas, ada terbaca jalan Hamka menjadi penulis terkemuka. Secara ringkas, gambarannya sebagai berikut: Hamka sangat suka membaca. Semua tema dibacanya. Hamka punya kebiasaan membaca beberapa jam dalam sehari. Dia memilih waktu yang tenang untuk membaca.
Hal lainnya, Hamka membaca sambil memikirkan yang dibaca. Hasilnya, dituangkan dalam bentuk tulisan. Saat Hamka menulis, hamparan buku sering ada di depannya.
Masih di buku Kenang-Kenangan Hidup, ada nasihat untuk calon pengarang bahkan juga bagi yang sudah menjadi pengarang. Nasihat itu, sebagai berikut: 1). Suka membacalah. 2). Boleh mengubah fokus/jenis tulisan. 3). Kualitas karya tulis harus meningkat. 4). Wajib berani untuk segera menulis. 5). Perlu istiqomah dalam menulis. 6). Utamakan orisinalitas karya. 7) Ada masa (ini terkait capaian prestasi, yaitu jangan berharap semua karya akan menjadi yang terbaik. 8). Mantapkan cita-cita.
Sekali lagi, di sejumlah bukunya, Hamka ada membahas masalah kepengarangan/kepenulisan. Selain di buku Kenang-kenangan Hidup, ada juga di Falsafah Hidup dan Lembaga Budi.
Penebal Semangat
Berdakwah lewat tulisan punya banyak kelebihan jika dibandingkan dengan lewat lisan. Berikut ini, gambaran sederhananya, bahwa pada dakwah dengan tulisan: 1). Pihak yang “mendengar” potensial jauh lebih banyak. Artinya, daya pengaruhnya bisa sangat luas. 2). Bisa “didengar” berkali-kali. 3). Sekali berdakwah, materinya bisa abadi.
Mari perhatikan poin 1 di atas. Simak kedahsyatan matarantai dakwah lewat tulisan, pada contoh berikut ini. Bisa dibilang, berawal dari Majalah Al-Urwatul Wutsqa (terjemahnya, Tali yang Kokoh) yang didirikan Jamaluddin Al-Afghani bersama sang murid, yaitu Muhammad Abduh di Paris pada 1884. Majalah itu beredar luas dan berpengaruh.
Lalu di Mesir, Majalah Al-Manar didirikan oleh murid Muhammad Abduh yaitu Rasyid Ridha pada 1898. Sama, beredar luas dan berpengaruh. Ahmad Dahlan salah satu pembacanya. Kemudian, Majalah Al-Imam didirikan di Singapura pada 1906 dan beredar sampai ke Sumatera.
Lantas, Majalah Al-Munir didirikan Abdullah Ahmad di Padang – Sumatera, pada 1911. Majalah Al-Munir dibaca Ahmad Dahlan di Jogjakarta. Tak berhenti sebagai pembaca, isi majalah itu diterjemahkannya ke bahasa Jawa. Kemudian, dia sebar ke masyarakat.
Berikutnya, Suara Muhammadiyah didirikan. Itu, terjadi di Yogyakarta pada 1915. Pendirinya, Ahmad Dahlan dan Fachrodin yang merupakan salah satu murid senior pendiri Muhammadiyah itu.
Berikut ini, nilai lebih yang lain dari berdakwah lewat tulisan. Contohnya, Hamka dan Berkah Memimpin Majalah Pedoman Masyarakat. Hamka, yang ketika itu tinggal di Medan, pergaulannya makin meluas.
Relasinya terjalin dengan tokoh-tokoh nasional terutama yang tulisannya dimuat di majalah yang dipimpinnya. Tokoh-tokoh itu antara lain Agus Salim, A. Hassan, Natsir, dan Isa Anshary. Juga, dengan Soekarno.
Pun, dengan generasi muda (kala itu) seperti Wahid Hasyim dan Mahfudz Shiddiq. Majalah Pedoman Masyarakat aktif pada 1936-1942. Terpaksa tutup karena kehadiran Penjajah Jepang.
”Pesan Terakhir”
Apa isi karangan Hamka yang terakhir? Karangan terakhir Hamka yang wafat pada Jum’at 22 Ramadhan 1981, berjudul 17 Ramadhan. Semula dimuat di Majalah Panji Masyarakat, kemudian menjadi bagian dari buku berjudul Iman dan Amal Shaleh (1982: 139-144).
Artikel 17 Ramadhan karya istimewa, karena: Pertama, terlihat sampai di dekat hari wafatnya, Hamka masih aktif mengarang. Sementara, mengarang adalah satu hal yang telah puluhan tahun menjadi kebiasaannya.
Kedua, tampak temanya aktual. Bukankah, 17 Ramadhan adalah salah satu dari berbagai kemuliaan di Bulan Suci karena permulaan Al-Qur’an turun di tanggal itu?
Ketiga, materi karangan tentang umat Islam yang harus aktif membaca dan menulis. Ini, sangat pokok dan penting. Ini berdasarkan QS Al-Alaq 1-5, lima ayat pertama yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad Saw pada 17 Ramadhan.
Mantap, Bismillah!
Banyak membacalah dan segera menulislah. Kata Hamka, calon pengarang yang banyak membaca akan kuat terdorong untuk segera berkarya. Siapa pun, perlu menempuh jalannya sendiri dalam mengarang. Percaya dirilah! Mulailah!
Sekadar melengkapi, ini pengalaman saya. Dalam belajar menulis, setidaknya ada tiga cara yang pernah saya lakukan, yaitu: 1). Belajar dari buku teori. 2). Ikut Pelatihan Menulis. 3). Membaca sebanyak mungkin karya tulis orang lain. Alhamdulillah, saya telah melakukan ketiganya.
Kesimpulan saya, yang paling banyak “memberikan ilmu” adalah cara ketiga yaitu membaca sebanyak mungkin karya tulis orang lain. Untuk belajar menulis artikel-opini, misalnya, cermati bagaimana para penulis menemukan tema aktual?
Bagaimana membuat judul yang sangat menarik? Bagaimana menulis paragraf pembuka yang bisa memancing rasa penasaran pembaca? Bagaimana mengurai masalah yang dibahas dengan argumentasinya yang kuat? Bagaimana menutup tulisan? Jangan lupa, perhatikan cara berbahasanya sehingga tulisan terasa hidup.
Untuk menulis buku, insya Allah sama. Simak judul-judul buku yang menarik. Perhatikan Daftar Isi-nya. Cermati bagaimana si penulis mengulas masing-masing bahasan.
Kata Hamka, seorang penulis harus lebih banyak membaca daripada menulis. Untuk itu, mantapkan cita-cita untuk bisa menulis. Ingatlah berbagai nilai lebih berdakwah lewat tulisan.
Selanjutnya, yang paling penting adalah lakukan 3 M, yaitu: Mulai, mulai, mulailah!
Kapan mulai? Sesegera mungkin! Di Ramadan, bahkan makin tepat suasananya untuk istiqomah mulai menulis. Bismillah, Allahu Akbar! (*)






0 Tanggapan
Empty Comments