Ramadan bukan sekadar bulan puasa. Ia adalah bulan penuh keistimewaan yang tidak dimiliki bulan lain.
Dalam ceramahnya, Ustaz Adi Hidayat (UAH) menegaskan bahwa sejak pertama kali perintah puasa diturunkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam langsung menjelaskan kemuliaan ibadah ini kepada para sahabat.
Menurut UAH, turunnya perintah puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 bukan tanpa konteks. Saat itu, sebagian kaum Yahudi di Madinah menyebarkan narasi bahwa umat Islam tidak memiliki puasa sebagaimana mereka. Lalu Allah menurunkan ayat:
“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumus shiyām kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
“Jadi puasa kita ini bukan ikut-ikutan,. Jstru Allah menegaskan bahwa puasa umat Nabi Muhammad itu istimewa,” ujar UAH seperti dilansir di kanal Youtube Adi Hidayat Official.
UAH mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menjadi kalimat pertama Rasulullah saat menjelaskan puasa: “Ash-shiyāmu junnah.”
“Puasa itu adalah perisai.”
UAH menjelaskan perbedaan istilah dalam Al-Qur’an antara shaum dan shiyam. Kata shaum bersifat umum, bermakna menahan.
Seperti kisah Maryam dalam Surah Maryam ayat 26, yang diperintahkan “shaum” dengan arti menahan bicara, meski tetap makan dan minum.
Sedangkan shiyam adalah puasa dengan aturan khusus—ada syarat, rukun, dan ketentuannya.
“Kalau sudah disebut shiyam, itu bukan sekadar menahan. Itu ibadah yang ada aturan dan kemuliaannya,” jelasnya.
Lalu apa arti junnah?
UAH menguraikan akar kata yang sama antara junnah (perisai), jannah (surga), dan jinn (makhluk tak terlihat). Semuanya berasal dari huruf jim dan nun yang bermakna sesuatu yang tersembunyi.
“Janin disebut janin karena tersembunyi. Jin disebut jin karena tidak terlihat. Surga disebut jannah karena belum tampak. Dan junnah, perisai, itu melindungi tapi tak terlihat,” paparnya.
Artinya, jika puasa dilakukan dengan benar, ia menghadirkan benteng tak kasat mata yang melindungi pelakunya dari godaan setan.
UAH menegaskan, ciri keberhasilan puasa Ramadan adalah meningkatnya amal saleh dan tertahannya maksiat.
“Coba perhatikan,” katanya, “orang yang biasanya mudah marah, saat Ramadan bisa menahan diri. Yang biasanya berat sedekah, tiba-tiba ringan memberi. Yang jarang ke masjid, tiba-tiba gelisah kalau ketinggalan tarawih.”
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan: “Jika Ramadan tiba, dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.”
UAH menjelaskan bahwa pintu surga berjumlah delapan, masing-masing sesuai jenis amal: shalat, sedekah, puasa (Ar-Rayyan), dan lainnya. Sementara pintu neraka ada tujuh, sebagaimana disebut dalam Surah Al-Hijr ayat 44.
“Bayangkan, delapan pintu surga dibuka, tujuh pintu neraka ditutup. Setan dibelenggu. Lalu kita masih kalah oleh hawa nafsu sendiri?” ujar UAH retoris.
Pahala Dilipatgandakan Tanpa Batas
Keistimewaan lain Ramadan adalah pelipatgandaan pahala. Secara umum, satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat sebagaimana Surah Al-An’am ayat 160.
Namun untuk puasa, Allah berfirman dalam hadis qudsi: “Ash-shiyāmu lī wa anā ajzī bih.”
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya.”
“Artinya apa? Kalau amal lain ada hitungannya, puasa tidak dibatasi. Allah sendiri yang menentukan ganjarannya,” jelas UAH.
Bahkan membaca satu huruf Al-Qur’an saja mendapat sepuluh pahala. Dalam Ramadan, nilainya berlipat lebih besar lagi.
“Bayangkan kalau satu huruf sepuluh pahala. Satu ayat berapa? Satu halaman berapa? Satu khatam berapa?” ungkapnya.
Karena itu, Rasulullah sendiri memperbanyak tadarus di bulan Ramadan, bahkan dua kali khatam pada tahun wafatnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments