Suasana siang yang hangat di kawasan Mulyorejo, Surabaya, mendadak terasa lebih hidup ketika rombongan Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya tiba di halaman Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Koordinator Jawa Timur, Rabu (11/3/2026).
Tepat pukul 16.00 WIB, puluhan siswa, guru, dan wali murid turun dari kendaraan mereka dengan wajah ceria sambil membawa paket takjil yang telah disiapkan sebelumnya.
Kedatangan rombongan ini merupakan bagian dari kegiatan Takjil on the Spot (TOS), sebuah program berbagi yang digagas sekolah selama bulan Ramadan. Kali ini, kegiatan tersebut terasa berbeda karena tak hanya membagikan makanan berbuka, tetapi juga menghadirkan edukasi kesehatan serta hiburan bagi para pasien yang tinggal di rumah singgah YKI.
Rombongan disambut hangat oleh pengelola yayasan. Acara pembukaan berlangsung sederhana namun meriah. Mega Desi Ambarwati, S.Pd, yang bertugas sebagai pembawa acara, memulai kegiatan dengan pantun bertema kesehatan yang langsung mengundang senyum para hadirin.
“Ayo bergaya hidup sehat, agar tubuh selalu kuat,” ucapnya membuka acara, yang disambut tepuk tangan para peserta.
Setelah itu, sambutan disampaikan oleh Suyono, S.Si, Wakil Kepala Sekolah Kreatif Baratajaya yang hadir mewakili kepala sekolah. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada YKI yang telah menerima rombongan dengan hangat.
“Terima kasih kami sampaikan kepada Yayasan Kanker Indonesia yang telah menerima kami beserta rombongan. Di sini hadir siswa, guru, dan juga wali murid. Semoga silaturahmi ini semakin erat dan membawa manfaat bagi kita semua,” ujarnya.
Pentingnya Pola Hidup Sehat
Suyono juga mengajak seluruh peserta untuk menyimak materi kesehatan yang akan disampaikan oleh pihak YKI, karena menurutnya pengetahuan tentang pola hidup sehat sangat penting ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.
Sambutan berikutnya datang dari Estiningtiyas Nugraheni, S.KM., MARS, pembina Yayasan Kanker Indonesia Jawa Timur. Ia menyambut kehadiran rombongan sekolah dengan penuh antusias.
“Terima kasih kami sampaikan kepada keluarga besar Sekolah Kreatif Baratajaya yang telah memilih kami sebagai mitra untuk berbagi. Kehadiran anak-anak di sini tentu membawa kebahagiaan tersendiri bagi para pasien,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Esti sapaan akrabnya menyampaikan materi edukatif bertajuk “Ayo Bergaya Hidup Sehat.” Penyampaian materi berlangsung interaktif dan menarik. Ia mengajak peserta memahami konsep kesehatan secara menyeluruh, mulai dari pola tidur, pola makan, kebiasaan berolahraga, hingga kebersihan diri.
Menurutnya, kesehatan tidak hanya soal tubuh yang tidak sakit, tetapi juga kondisi fisik yang bugar dan seimbang.
“Sehat dan bugar itu sama pentingnya. Karena itu kita harus menjaga kesehatan secara holistik,” jelasnya di hadapan siswa dan para wali murid.
Esti juga menjelaskan berbagai risiko penyakit yang muncul akibat gaya hidup tidak sehat. Ia mencontohkan kebiasaan merokok, begadang, serta pola hidup yang tidak seimbang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, termasuk tumor dan kanker.
“Hidup tidak sehat seperti merokok, begadang, dan kebiasaan lain yang tidak baik bisa berdampak fatal bagi tubuh kita,” tegasnya.
Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin, menghindari paparan asap rokok, serta menggunakan masker ketika berkendara di jalan raya untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
“Kalau merasa lelah, istirahatlah. Jangan memaksakan diri. Karena kalau kita sakit, yang rugi adalah diri kita sendiri,” pesannya.
Esti juga mengapresiasi pendekatan pendidikan yang diterapkan oleh Sekolah Kreatif Baratajaya yang menurutnya telah mendorong anak-anak untuk menjalani gaya hidup aktif.
Ia menilai berbagai aktivitas fisik seperti pembelajaran luar kelas, kegiatan outbound, dan pembelajaran kontekstual yang dilakukan sekolah sangat baik untuk membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini.
Sesi berikutnya menjadi semakin menarik ketika para siswa diberi kesempatan bertanya. Kania Prajnazanitha Harindra, siswi kelas VI, mengajukan pertanyaan yang cukup mendalam.
“Bagaimana cara menghadapi ujian ketika seseorang divonis sakit, misalnya kanker?” tanyanya.
Sementara itu, Razqa Putra Rheandra, siswa kelas IV, bertanya dengan polos namun penuh rasa ingin tahu.
“Kalau kita sudah hidup sehat, apakah masih ada risiko terkena penyakit?” ujarnya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan lugas oleh Esti, yang menjelaskan bahwa gaya hidup sehat dapat menurunkan risiko penyakit, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan kemungkinan seseorang sakit.
Setelah sesi diskusi, acara dilanjutkan dengan penyerahan donasi dari komunitas wali murid Sekolah Kreatif Baratajaya. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Ketua Komite Sekolah, Anda Marzudinta, kepada pihak Yayasan Kanker Indonesia.
Suasana kemudian berubah lebih santai ketika Ustadz Anwar mengajak tiga siswa Kania Prajnazanitha Harindra, Nabila Kamiliya Ulfa, dan Myekaela Syakira Az Zahrah bernyanyi bersama para pasien. Lagu-lagu ceria yang dinyanyikan bersama berhasil mencairkan suasana dan menghadirkan senyum di wajah para penghuni rumah singgah.
Tak berhenti di situ, hiburan semakin meriah ketika Ustadz Eko Wahyudi, S.Pd, salah satu guru sekolah, tampil dengan boneka tangan kesayangannya bernama Tobi. Boneka tersebut berinteraksi dengan para siswa dan pasien, menyampaikan pesan-pesan Ramadan dengan gaya lucu yang mengundang tawa.
Bagi para pasien yang tengah menjalani proses pengobatan, momen tersebut menjadi hiburan yang menyegarkan di tengah rutinitas perawatan medis.
Rumah Singgah YKI
Koordinator staf YKI, Khairun Sani, S.Psi, mengaku sangat senang dengan kunjungan tersebut.
Menurutnya, rumah singgah YKI selama ini menjadi tempat beristirahat bagi pasien kanker yang sedang menjalani pengobatan di rumah sakit.
“Pasien di sini berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, bahkan banyak juga dari Indonesia bagian timur. Mereka tinggal sementara di rumah singgah ini selama menjalani pengobatan di RS Dr. Soetomo,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan karena mampu memberikan semangat bagi para pasien.
Menjelang waktu berbuka puasa, seluruh peserta berkumpul di ruang utama rumah singgah. Paket takjil yang dibawa oleh rombongan sekolah kemudian dibagikan kepada para pasien dan keluarga mereka.
Suasana kebersamaan pun terasa hangat ketika siswa, guru, wali murid, dan para penghuni rumah singgah duduk berdampingan menikmati hidangan berbuka dan dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah.
Kegiatan Takjil on the Spot kali ini bukan sekadar aksi berbagi makanan, tetapi juga menghadirkan edukasi, hiburan, dan empati yang mempertemukan dua dunia dunia pendidikan dan dunia perjuangan melawan penyakit dalam satu ruang kebersamaan yang penuh makna. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments