Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ramadan: Pertaruhan Iman, Bahaya Lalai Raih Ampunan

Iklan Landscape Smamda
Ramadan: Pertaruhan Iman, Bahaya Lalai Raih Ampunan
Foto: Rick Steves
pwmu.co -

Ramadan kembali hadir. Pintu ampunan dibuka lebar, pahala dilipatgandakan, dan rahmat Allah mengalir tanpa batas. Namun di balik kemuliaan itu, ada satu ancaman serius: celakalah orang yang mendapati Ramadan tetapi tak meraih ampunan.

Demikian hal itu disampaikan Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam sebuah ceramhanya. Dia menegaskan, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah tahunan, melainkan momentum pertaruhan iman. Siapa yang sungguh-sungguh akan dimuliakan, siapa yang lalai terancam merugi.

“Tidak semua orang sampai ke Ramadan. Karena itu, menurutnya, kehadiran di bulan suci bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan anugerah besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.” ujar UAH seperti dikutip dari kanal Youtube Adi Hidayat Official.

UAH lalu mengutip riwayat yang didokumentasikan oleh Al-Hakim al-Naisaburi dalam kitab Al-Mustadrak, tentang momen ketika Nabi Muhammad saw menaiki mimbar dengan tiga undakan.

Pada setiap langkah, Nabi mengucapkan doa yang sangat keras maknanya, lalu diaminkan oleh malaikat.

Salah satu doa itu berbunyi: celakalah seseorang yang mendapati Ramadan, tetapi tidak meraih ampunan Allah di dalamnya.

“Jarang-jarang Nabi berdoa lalu langsung diaminkan malaikat,” ujar UAH.

Dia menjelaskan, para ulama menempatkan hadis ini sebagai peringatan keras—sebuah kecaman bagi Muslim yang diberi kesempatan hidup di bulan Ramadan namun lalai memanfaatkannya.

Ayat Puasa Dibuka dengan Iman

UAH kemudian mengupas makna mendalam dari ayat puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang diawali dengan seruan, ‘Ya ayyuhalladzina amanu’—wahai orang-orang yang beriman.

Menurutnya, setiap perintah dalam Al-Qur’an yang diawali dengan panggilan iman menunjukkan bahwa pelaksanaannya menjadi ukuran kualitas keimanan seseorang. Salat, misalnya, menjadi cermin kuat atau lemahnya iman. Begitu pula puasa Ramadan.

“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah pertaruhan iman,” tegasnya.

Orang yang bersemangat mengisi Ramadan dengan salat, tilawah, sedekah, dan amal saleh menunjukkan imannya hidup. Sebaliknya, mereka yang malas beribadah di bulan suci patut mengevaluasi kondisi imannya.

UAH menjelaskan bahwa Ramadan adalah momentum penghapusan dosa secara total—siang dan malam.

Dia mengutip sabda Nabi: barang siapa berpuasa dengan iman dan penuh pengharapan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Begitu pula orang yang menghidupkan malam Ramadan dengan qiyam, akan diampuni dosa-dosanya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Artinya, pagi hari dosa berguguran, malam hari pun demikian. Ramadan menjadi bulan “pembersihan total” bagi siapa saja yang serius mengisinya.

Keutamaan juga berlipat ganda. Salat yang biasa bernilai satu, di Ramadan dilipatkan berkali-kali. Tilawah Al-Qur’an yang biasanya satu huruf bernilai sepuluh kebaikan, di malam istimewa Ramadan bisa bernilai lebih dari seribu bulan—setara lebih dari 80 tahun ibadah.

“Allah kumpulkan semua kemuliaan dalam satu bulan,” ujarnya.

Jangan Abaikan Hadiah Allah

UAH mengibaratkan Ramadan sebagai hadiah besar dari Allah. Jika manusia diberi hadiah ratusan juta rupiah, tentu akan diterima dengan gembira.

Namun ketika Allah menghadiahkan ampunan, rahmat, dan pembebasan dari neraka, justru ada yang mengabaikannya.

“Itulah yang Nabi sebut celaka,” katanya.

Menurutnya, minimal ampunan bisa diraih dengan memperbanyak istigfar, doa, mengikuti sunah Nabi, menunaikan tarawih, memperbanyak tilawah, dan bersedekah. Semua pintu kebaikan dibuka lebar selama Ramadan.

Namun ironi terjadi ketika seseorang mengaku ingin masuk surga, tetapi enggan membaca Al-Qur’an, malas tarawih, dan berat bersedekah.

UAH juga menyinggung fenomena wafatnya orang-orang saleh menjelang atau di awal Ramadan. Menurutnya, bisa jadi Allah menilai bekal mereka telah cukup.

Sementara yang masih diberi umur hingga Ramadan berarti masih membutuhkan waktu untuk memperbaiki diri, menghapus dosa, dan memperbanyak amal.

“Ramadan ini kesempatan terakhir atau bukan, kita tidak tahu. Maka isi dengan sebaik-baiknya,” pesannya.

UAH mengajak jamaah memperbanyak amal di pagi dan malam hari, serta memohon pertolongan Allah. Sebab, menurutnya, beramal tidak cukup hanya dengan kekuatan pribadi—godaan setan dan hawa nafsu lebih kuat.

Dia menganjurkan doa yang diajarkan Nabi, yakni memohon pertolongan agar mampu berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu