Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ramadan, Rutinitas Tahunan atau Titik Balik Kehidupan?

Iklan Landscape Smamda
Ramadan, Rutinitas Tahunan atau Titik Balik Kehidupan?
Foto: islamic-relief.org.uk
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Alhamdulillah, dua pekan lagi kita akan memasuki bulan Ramadan. Bulan kesembilan dalam kalender Islam yang menjadi bulan suci dan penuh kemuliaan bagi umat Islam. Bulan yang selalu dirindukan, yang kehadirannya disambut dengan doa dan harapan.

Ramadan bukan sekadar pergantian bulan. Ia adalah ruang pendidikan ruhani, madrasah kehidupan, sekaligus momentum evaluasi diri.

Pada bulan ini, umat Islam diwajibkan berpuasa dari fajar hingga maghrib—menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu demi meraih derajat takwa.

Namun, sering kali muncul pertanyaan dalam hati kita: apakah Ramadhan hanya akan menjadi rutinitas tahunan, atau benar-benar kita jadikan sebagai peluang besar untuk kebaikan?

Ada beberapa amalan yang hampir selalu kita lakukan setiap Ramadhan:

1. Puasa

Berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Setiap hari kita bangun lebih awal untuk sahur, menahan diri sepanjang siang, lalu berbuka dengan rasa syukur.

Puasa bukan hanya menahan lapar. Seorang pedagang yang tetap jujur meski tak ada yang mengawasi, seorang pegawai yang tetap bekerja maksimal walau tubuh terasa lemas, seorang ibu yang tetap sabar melayani keluarga meski energi menurun—itulah puasa yang hidup.

Puasa melatih integritas ketika tidak ada yang melihat, karena kita sadar Allah Maha Melihat.

2. Tarawih

Masjid menjadi lebih ramai. Shaf-shaf terisi penuh. Anak-anak berlarian kecil dengan wajah ceria, para orang tua duduk tenang menanti iqamah.

Tarawih bukan sekadar shalat malam tambahan. Ia adalah simbol kebersamaan. Di sana kita berdiri sejajar, tanpa melihat jabatan atau status.

Seorang pejabat, guru, buruh, mahasiswa—semuanya sama di hadapan Allah. Ramadhan mengajarkan bahwa kemuliaan bukan pada kedudukan, tetapi pada ketakwaan.

3. Tilawah Al-Qur’an

Banyak orang menargetkan khatam satu kali, dua kali, bahkan lebih.

Ada pemandangan indah: seorang ayah membaca Al-Qur’an setelah Subuh, anaknya menirukan dengan terbata-bata.

Di sudut lain, seorang lansia dengan kacamata tebal tetap tekun membuka mushaf. Ramadhan menghadirkan kembali keakraban kita dengan kitab suci, seolah-olah Al-Qur’an memanggil kita untuk pulang.

4. Zakat Fitrah

Zakat fitrah mengajarkan bahwa kebahagiaan Idul Fitri harus dirasakan semua orang.

Saat kita menyerahkan beras atau sejumlah uang untuk zakat, sejatinya kita sedang membersihkan jiwa.

Bayangkan seorang keluarga dhuafa yang bisa tersenyum di pagi Lebaran karena bantuan itu. Ramadan mendidik kita agar tidak hidup sendiri.

5. Sedekah

Ramadan identik dengan berbagi. Ada yang membagikan takjil, ada yang memberi paket sembako, ada pula yang membantu diam-diam tanpa diketahui siapa pun.

Sedekah di bulan ini ibarat menanam benih di tanah yang sangat subur. Sekecil apa pun kebaikan, nilainya berlipat ganda.

Ramadan: Peluang Kebaikan yang Tak Ternilai

Jika hanya dipandang sebagai rutinitas, Ramadhan akan berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi jika dipahami sebagai peluang, maka setiap detiknya menjadi sangat berharga.

1. Meningkatkan Ibadah

Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Allah.

Seorang yang sebelumnya jarang ke masjid, mulai rutin berjamaah. Yang biasanya sulit bangun malam, kini mampu bangun untuk sahur dan tahajud. Ramadhan membuktikan bahwa sebenarnya kita mampu—asal mau.

2. Membentuk Karakter

Puasa melatih kesabaran. Menahan marah ketika diprovokasi. Menahan diri dari membalas kata-kata kasar.

Di sinilah karakter dibentuk. Ramadan bukan hanya mengubah jadwal makan, tetapi membentuk kepribadian yang lebih matang: sabar, syukur, empati.

Ketika kita merasakan lapar, kita belajar memahami mereka yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Dari situ tumbuh rasa peduli yang lebih dalam.

3. Meningkatkan Kesadaran Sosial

Ramadan mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.

Ada kisah sederhana: seorang anak kecil menyisihkan uang jajannya untuk membeli takjil dan membagikannya di jalan. Nilainya mungkin kecil, tetapi kesadaran sosial yang tumbuh darinya jauh lebih besar.

4. Membangun Komunitas

Buka puasa bersama, tadarus berjamaah, kegiatan sosial, santunan anak yatim—semuanya mempererat ukhuwah.

Ramadan menyatukan hati. Perbedaan pandangan dan latar belakang mencair dalam kebersamaan ibadah.

Tips Memaksimalkan Ramadan

Agar Ramadhan tidak berlalu sia-sia, beberapa langkah sederhana bisa kita lakukan:

1. Buat Rencana

Tentukan target ibadah: berapa juz tilawah per hari, berapa kali sedekah, ibadah apa yang ingin diperbaiki. Tanpa rencana, Ramadhan mudah terlewat begitu saja.

2. Jaga Kesehatan

Tubuh adalah amanah. Konsumsi makanan seimbang saat sahur dan berbuka. Istirahat cukup. Ibadah yang kuat memerlukan fisik yang terjaga.

3. Maksimalkan Waktu

Kurangi aktivitas yang kurang bermanfaat. Gunakan waktu luang untuk membaca, berdzikir, atau membantu sesama.

4. Jaga Komitmen

Semangat Ramadhan biasanya tinggi di awal. Tantangannya adalah menjaga konsistensi hingga akhir. Justru sepuluh hari terakhir adalah puncaknya.

Refleksi Pribadi

Bagi penulis, Ramadan kali ini merupakan tahun ke-57 sejak aqil baligh. Lima puluh tujuh kali sudah merasakan hadirnya bulan suci ini. Tentu di dalamnya ada hari-hari yang terlewat karena uzur syar’i—sakit atau safar—yang insya Allah telah diqadha.

Setiap Ramadan yang datang terasa berbeda. Dulu mungkin berpuasa dengan semangat masa muda, kini dengan kesadaran usia yang bertambah. Ada sahabat yang dahulu bersama-sama tarawih, kini telah lebih dahulu dipanggil Allah.

Ramadan mengajarkan satu hal penting: kesempatan tidak selalu datang dua kali.

Karena itu, di Ramadan tahun ini, penulis berdoa semoga dapat menunaikan puasa hingga bertemu 1 Syawal 1447 H dalam keadaan sehat wal afiat bersama keluarga. Āmīn.

Mari kita bertanya pada diri sendiri, akankah Ramadan kali ini sekadar rutinitas tahunan? Ataukah benar-benar menjadi peluang emas untuk memperbaiki diri?

Semoga Allah memberi kita umur panjang, kesehatan, dan kekuatan untuk memaksimalkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu