Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ramadan sebagai Madrasah Kejujuran, Pesan Ahmad Al Farizi dalam Kajian Qiyamu Ramadan di Masjid An-Nur PDM Sidoarjo

Iklan Landscape Smamda
Ramadan sebagai Madrasah Kejujuran, Pesan Ahmad Al Farizi dalam Kajian Qiyamu Ramadan di Masjid An-Nur PDM Sidoarjo
etua PDPM Sidoarjo Ahmad Al Farizi M.Pd menyampaikan kajian qiyamul romadhon di Masjid An Nur PDPM Sidoarjo (Zulkifli/PWMU.CO)
pwmu.co -

Suasana khusyuk menyelimuti Masjid An-Nur PDM Sidoarjo pada Rabu malam (4/3/2026). Jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti kajian Qiyamu Ramadan yang disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Sidoarjo, Ahmad Al Farizi S.Pd.I., M.Pd.

Dalam kajian bertema “Ramadan sebagai Madrasah Kejujuran”, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Muhammadiyah 3 Tulangan itu mengajak jamaah menjadikan bulan suci Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri, terutama dalam menanamkan nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Faris—sapaan akrabnya—mengawali kajian dengan mengajak jamaah mensyukuri berbagai nikmat Allah. Menurutnya, nikmat terbesar bukan hanya kesehatan atau kesempatan hidup, tetapi juga nikmat iman dan hidayah.

“Alhamdulillah pada malam hari ini kita masih diberi nikmat sehat, nikmat sempat, dan yang paling utama nikmatul iman wal hidayah. Dengan nikmat itu kita bisa menunaikan salat Isya berjamaah dan melanjutkan qiyamu Ramadan,” tuturnya.

Ia berharap Ramadan menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin istikamah dalam ketaatan kepada Allah. Terlebih, kesempatan bertemu Ramadan sejatinya adalah karunia besar yang tidak semua orang dapatkan setiap tahun.

Hadiah Besar Bernama Ramadan

Dalam ceramahnya, Faris mengutip Surah Al-Hadid ayat 16 yang mengingatkan orang beriman agar melembutkan hati dengan mengingat Allah.

Menurutnya, Ramadan merupakan hadiah besar bagi umat Nabi Muhammad SAW. Hal itu karena usia rata-rata umat Nabi berada di kisaran 60 hingga 70 tahun.

“Usia umat Nabi Muhammad itu antara 60 sampai 70 tahun. Maka Allah beri hadiah Ramadan, bahkan di dalamnya ada malam Lailatul Qadar. Sungguh sangat disayangkan jika ada orang yang mengaku beriman tetapi tidak bersungguh-sungguh memanfaatkan hadiah besar ini,” ujarnya.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa dalam kehidupan dengan memperbanyak amal saleh. Sebab, manusia terbaik adalah mereka yang diberi umur panjang dan diiringi dengan amal yang baik.

Kejujuran sebagai Jalan Menuju Surga

Salah satu amal utama yang ditekankan Faris dalam Ramadan adalah kejujuran. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa kejujuran akan mengantarkan seseorang pada kebaikan, dan kebaikan akan membawa kepada surga.

“Sebaliknya, dusta akan membawa kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. Maka pondasi kejujuran inilah yang dahulu ditanamkan Rasulullah kepada para sahabat,” jelasnya.

Menurutnya, kejayaan Islam pada masa lalu tidak lepas dari kuatnya integritas dan kejujuran umatnya. Oleh karena itu, nilai tersebut harus dimulai dari lingkup paling kecil, yakni dari diri sendiri dan keluarga.

Dalam penyampaiannya yang sesekali diselingi humor berbahasa Jawa, Faris memberi contoh sederhana tentang pentingnya kejujuran dalam rumah tangga. Ia menyinggung kebiasaan kecil yang sering terjadi, seperti tidak jujur soal penghasilan atau menyembunyikan uang yang ditemukan di saku pakaian.

Candaan tersebut mengundang tawa jamaah, namun sekaligus menyimpan pesan moral bahwa kejujuran harus dilatih sejak hal-hal kecil.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Kisah Penggembala Domba yang Jujur

Untuk menegaskan pentingnya integritas, Faris juga menceritakan kisah teladan dari masa Khalifah Umar bin Khattab. Suatu ketika Umar bertemu seorang penggembala muda yang menjaga banyak domba milik tuannya.

Umar kemudian mencoba menguji kejujuran pemuda itu dengan meminta membeli satu ekor domba secara diam-diam. Namun pemuda tersebut menolak karena domba-domba itu bukan miliknya.

Ketika Umar berkata bahwa tuannya tidak akan mengetahui jika satu ekor domba dijual, pemuda itu menjawab dengan kalimat yang menggugah: “Fa ainallah? Lalu di mana Allah?”

Mendengar jawaban tersebut, Umar bin Khattab terdiam dan meneteskan air mata. Ia tak menyangka seorang budak memiliki integritas yang begitu tinggi.

Kisah itu berakhir dengan Umar memerdekakan pemuda tersebut dan mengangkat derajatnya.

“Dari kisah ini kita belajar bahwa kejujuran akan meninggikan derajat seseorang di sisi Allah,” ujar Faris.

Fondasi Keberkahan Bangsa

Di akhir kajiannya, Faris menegaskan bahwa nilai kejujuran bukan hanya penting bagi individu, tetapi juga bagi kehidupan sebuah bangsa.

Ia mengingatkan bahwa sebuah negeri akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang baik dan mendapat ampunan Allah—jika masyarakatnya menjunjung tinggi kejujuran.

Sebaliknya, jika kecurangan, kebohongan, dan korupsi merajalela dari tingkat bawah hingga atas, maka keberkahan akan sulit hadir dalam kehidupan bangsa.

“Ramadan adalah madrasah kejujuran bagi kita. Mari kita latih diri untuk jujur dalam perkataan dan perbuatan. Ketika kejujuran menjadi karakter kita, insyaallah Allah akan meridai dan mengangkat derajat kita,” pungkasnya.

Kajian tersebut pun ditutup dengan doa agar seluruh jamaah mampu memanfaatkan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat iman, serta meneguhkan komitmen hidup dalam kejujuran. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡