Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gresik Innik Hikmatin, S.Pd, M.Pd.I mengajak agar Ramadan 1447 H tahun ini sebagai momentum Hijrah Spiritual. Hal ini disampaikan dalam kajian Ramadan Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA Gresik yang digelar secara online, Rabu (18/2/2026).
Dalam kajiannya, Innik panggilan akrabnya mengawalinya dengan ajakan ucapan rasa syukur kepada Allah atas karunia sehat yang luar biasa sehingga bertemu dengan Ramadan kembali di tahun ini.
“Ibu-ibu marilah kita bersyukur atas kedatangan bulan Ramadan ini, mari kita sambut dengan perasaan penuh kegembiraan, kerinduan dan suka cita, semoga dapat memberikan syafa’at di dunia dan akhirat,” ujarnya.
Menurutnya, Ramadan ini harus ditandai dengan kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan manusia.
“Jika perubahan ini berlanjut setelah Ramadan berakhir, maka puasa tersebut dianggap berhasil,” ucapnya.
Pada bulan Ramadan ini, lanjutnya, Allah membukakan pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka serta membelenggu syetan.
“Allah juga akan melipat gandakan amalan saleh bagi hamba beriman yang mampu menjaga diri dari perbuatan yang membatalkan maupun merusak ibadah puasanya, sehingga dia akan diampuni dosa-dosanya,” lanjutnya.
Innik kemudian menyitir Alquran surat Albaqarah ayat 183 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”
“Ibu-ibu, dari ayat di atas tidak hanya kewajiban berpuasa, namun puasa menjadikan bulan Ramadan sebagai ruang pembinaan diri, transformasi akhlak menuju kualitas hidup yang lebih baik,” jelasnya.
Ramadan, imbuhnya, harus melahirkan pribadi-pribadi berihsan yang berkontribusi pada terbangunnya masyarakat yang saleh, damai, berkemajuan, dan berkeadaban, serta menumbuhkan praktik kebaikan yang membawa kemaslahatan bersama, termasuk dalam kehidupan antar umat beragama.
“Pelaksanaan ibadah puasa hendaknya dimaknai sebagai sarana penguatan karakter muslim yang mampu menjadi teladan dalam sikap, tutur kata, dan perilaku sosial,” terang ibu dua anak ini.
Momentum Hijrah Spiritual
Innik menjelaskan, Ramadan ini merupakan madrasah tahunan yang menjadi titik tolak bagi umat Islam untuk melakukan hijrah spiritual, yaitu transformasi dari kondisi yang kurang baik menuju pribadi yang lebih bertaqwa.
“Momentum ini bukan sekedar ritual menahan lapar, melainkan proses perpindahan batiniah yang mendalam,” ungkap wanita kelahiran Sidayu Gresik ini.
Dia menerangkan ada tiga dimensi utama hijrah spiritual di bulan Ramadan.
Pertama, hijrah spiritual yang berisi tentang pendalaman iman dan mendekatkan diri.
“Ramadan adalah waktu untuk kembali kepada Allah dengan memperbaiki kualitas ibadah, memperbaiki shalat, memperbanyak bacaan Al-Quran, dan bertaubat, serta mengubah orientasi hidup dari materialisme kembali kepada Allah,” jelasnya.
Menurutnya ini adalah upaya mengatasi kekosongan jiwa akibat kedangkalan spiritual dan materialisme.
Kedua, hijrah moral yaitu transformasi perilaku dan perbaikan akhlak. Menurutnya, puasa melatih pengendalian diri dari perbuatan buruk.
Hijrah ini, tambahnya, berarti memuasakan lisan dari ghibah serta tindakan yang menyakiti orang lain, beralih menuju kesabaran dan kejujuran.
Ketiga, hijrah sosial yaitu tentang penguatan empati dan kepedulian.
“Hijrah ini meningkatkan empati melalui zakat, sedekah, dan berbagi kebahagiaan, yang memperkuat hubungan persaudaraan dan sosial,” tuturnya.
Innik mengatakan melalui rasa lapar, seorang Muslim didorong untuk berhijrah dari sikap individualistis menjadi peduli sesama melalui sedekah dan zakat.
“Tujuan utama dari hijrah ini adalah mencapai derajat taqwa yang ditandai dengan kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan manusia,” jelasnya.
Jika perubahan ini berlanjut, imbuhnya, setelah Ramadan berakhir, maka puasa tersebut dianggap berhasil.
Amalan Spesifik Transformasi Spiritual
Innik menjelaskan untuk meningkatkan kualitas iman dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan ada beberapa amalan spesifik sebagai transformasi spiritual.
“Antara lain tadarus dan tadabbur Al-Qur’an, qiyamul lail tahajud dan tarawih menghidupkan malam, terutama di sepuluh malam terakhir,” terangnya.
Selain itu, tambahnya, memperbanyak dzikir dan istighfar, sedekah harian, i’tikaf, menjaga lisan dan hati.
“Dan yang paling penting menghindari ghibah, amarah, dan hal yang sia-sia agar puasa tidak hanya mendapatkan lapar dan haus.
Diakhir paparannya, Innik mengajak kita semua untuk berdoa bersama agar senantiasa mendapat kesehatan, kekuatan, dan kemudahan untuk beribadah selama Ramadan.
“Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 H semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadan ini, dan kita semua mendapat predikat umat yang Muttaqin,” ucapnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments