Bulan Ramadan dimaknai sebagai saat yang tepat untuk menata ulang arah hidup dan meluruskan ketulusan hati. Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadan disebut sebagai ruang refleksi untuk melakukan “rekonstruksi niat” agar setiap aktivitas memiliki makna mendalam.
Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam kajian Ramadan di Masjid A.R. Fachruddin UMM, Kamis (19/2/2026).
Kajian ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ramadan UMM yang dirancang untuk memperkuat spiritualitas sekaligus etos kerja civitas akademika.
Bulan suci dijadikan momentum meneguhkan integritas, keikhlasan, dan semangat kemajuan bersama. Dalam ceramah yang berlangsung pada hari kedua Ramadan 1447 H itu, Nazar—sapaan akrabnya—mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan bertemu bulan penuh keberkahan dan nilai keikhlasan.
Ia menegaskan bahwa niat bersifat dinamis dan perlu terus diperbarui. Puasa, zakat, dan infak disebutnya sebagai sarana melatih keikhlasan sekaligus membangun kualitas diri.
Menurutnya, niat yang tulus tidak hanya berdampak pada diri pribadi, tetapi juga memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.
Nazar menjelaskan bahwa niat harus senantiasa diarahkan menuju kebaikan tertinggi. Ketika niat yang baik diwujudkan dalam ibadah dan pekerjaan, manfaatnya akan terasa secara sosial.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengenalkan konsep empty motive, yakni kondisi ketika seseorang tetap memiliki tujuan, namun terbebas dari keinginan untuk dipuji atau memperoleh imbalan manusia. Kemurnian niat, menurutnya, akan memperkuat kualitas amal sekaligus profesionalitas.
Lebih lanjut, ia menyinggung kemajuan sejumlah negara seperti Jepang, Korea, dan China yang dinilai berhasil bertransformasi melalui perubahan pola pikir dan budaya kerja.
Kemajuan tersebut, katanya, lahir dari kesadaran kolektif untuk terus memperbaiki diri dan bergerak menuju tahap yang lebih tinggi.
Dalam konteks kelembagaan, ia menekankan pentingnya keikhlasan sebagai fondasi kemajuan institusi. Seluruh civitas akademika UMM, baik dosen maupun tenaga kependidikan, diajak meninggalkan ego sektoral dan individual demi kepentingan bersama.
Ia menegaskan bahwa kemajuan tertinggi tercapai ketika setiap individu mampu melepaskan ego pribadi. Bukan soal siapa yang paling berperan, melainkan bagaimana institusi dapat melahirkan capaian terbaik melalui semangat gotong royong dan kebersamaan.
Menutup kajian, Nazar mengutip surah al-Bayyinah ayat 5 sebagai pengingat untuk memurnikan ketaatan kepada Allah.
Ia berharap nilai keikhlasan dapat menjadi kontrol diri dalam setiap tindakan, sehingga seluruh aktivitas profesional bernilai ibadah dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments