Ramadan kerap kita maknai sebagai bulan ibadah dan penguatan spiritual. Namun dalam perspektif pendidikan, Ramadan sejatinya adalah ruang belajar yang luas—bukan hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi guru dan orang tua. Ia menghadirkan kesempatan reflektif untuk menata ulang cara kita mendidik, meneladani, dan membimbing generasi.
Dalam pandangan Islam Berkemajuan yang menjadi spirit gerakan Muhammadiyah, pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak.
Ramadan menyediakan ruang yang tepat untuk itu. Ia mengajarkan disiplin, kejujuran, pengendalian diri, kepedulian sosial, serta kesadaran akan tanggung jawab sebagai hamba dan khalifah.
Sekolah memiliki peran strategis dalam menjadikan Ramadhan sebagai bagian dari pendidikan karakter yang terencana.
Ramadan tidak cukup diposisikan sebagai penyesuaian kalender akademik atau rangkaian kegiatan seremonial. Pendidikan yang berkemajuan menuntut adanya pemaknaan.
Guru ditantang untuk menghadirkan keteladanan, mengintegrasikan nilai-nilai Ramadhan dalam pembelajaran, serta membimbing peserta didik memahami tujuan ibadah dalam kehidupan nyata.
Tradisi tajdid dalam Muhammadiyah mengajarkan pentingnya pembaruan cara berpikir dan bertindak.
Dalam konteks Ramadan, tajdid berarti berani mengevaluasi: apakah kegiatan Ramadhan di sekolah benar-benar mendidik, atau sekadar rutinitas tahunan tanpa dampak jangka panjang. Ramadhan seharusnya melahirkan perubahan sikap, bukan hanya laporan kegiatan.
Namun pendidikan tidak pernah bisa ditopang sekolah semata. Keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama dan utama. Orang tua memegang peran kunci dalam menghidupkan nilai-nilai Ramadhan di rumah.
Keteladanan dalam beribadah, kejujuran dalam bersikap, kesederhanaan dalam hidup, serta kepedulian terhadap sesama adalah pelajaran nyata yang akan membekas dalam diri anak.
Ramadan juga menjadi ruang belajar bagi orang tua. Ia mengingatkan bahwa mendidik bukan hanya soal mengarahkan, tetapi membersamai. Bukan hanya memberi perintah, tetapi memberi contoh.
Pendidikan berkemajuan menempatkan orang tua sebagai mitra aktif sekolah, yang bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan konsisten.
Di tengah tantangan era digital, Ramadhan menghadirkan latihan pengendalian diri yang relevan. Menahan lapar dan dahaga seharusnya diiringi dengan pengendalian penggunaan gawai dan media sosial.
Di sinilah sekolah dan orang tua perlu bersinergi menanamkan etika digital, agar anak-anak mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Ramadan, dalam spirit amar ma’ruf nahi munkar, bukan hanya ajakan kepada kebaikan, tetapi juga keberanian untuk memperbaiki. Sekolah dan orang tua diajak menjadikan Ramadhan sebagai momentum evaluasi bersama—tentang keteladanan, konsistensi nilai, dan arah pendidikan yang kita bangun.
Akhirnya, Ramadan adalah sekolah kehidupan. Ketika guru dan orang tua sama-sama bersedia belajar, merefleksi, dan berbenah, Ramadhan tidak hanya membentuk kesalehan individual, tetapi juga melahirkan generasi yang tercerahkan, mandiri, dan berkemajuan.
Ramadan pada juga mengajarkan satu hal mendasar: bahwa mendidik adalah proses belajar tanpa henti. Guru belajar untuk terus memperbaiki cara mendampingi dan meneladani.
Orang tua belajar untuk lebih hadir, lebih sabar, dan lebih sadar bahwa setiap sikapnya adalah pelajaran. Bahkan lembaga pendidikan pun perlu belajar untuk terus menata arah, agar tidak terjebak pada rutinitas tanpa makna.
Jika Ramadan hanya mengubah jadwal, tetapi tidak mengubah cara kita memandang pendidikan, maka kita kehilangan esensinya.
Namun jika Ramadan kita jadikan ruang belajar bersama—untuk merefleksi, memperbaiki, dan meneguhkan nilai—maka ia akan meninggalkan jejak yang jauh melampaui satu bulan.
Dari sinilah pendidikan menemukan ruhnya: membentuk manusia yang terus tumbuh, berdaya pikir, dan berdaya moral.
Semoga Ramadan tahun ini benar-benar menjadi madrasah kehidupan, tempat guru dan orang tua sama-sama belajar, agar anak-anak kita tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga matang secara akhlak dan kemanusiaan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments