Bulan suci adalah waktu yang sangat tepat untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, lalu menengok kembali perjalanan diri. Ia menjadi ruang sunyi bagi manusia untuk melakukan muhasabah, menimbang amal, menilai langkah, dan memperbaiki arah hidup.
Manfaatkan dan pergunakanlah masa hidupmu, kesehatan, serta masa mudamu dengan kebaikan sebelum maut datang menjemput. Sebab kehidupan ini berjalan begitu cepat. Hari demi hari berlalu tanpa terasa.
Banyak orang baru menyadari berharganya waktu ketika usia telah menua, ketika tenaga tak lagi sekuat dulu, atau ketika kesempatan telah lewat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang yang begitu sibuk mengejar urusan dunia. Seorang pekerja misalnya, berangkat pagi dan pulang larut malam. Tenaga dan pikirannya tercurah pada pekerjaan, target, dan berbagai urusan ekonomi.
Namun ketika Ramadan datang, ia mulai menyadari bahwa hidup bukan sekadar bekerja dan mencari nafkah. Ada dimensi ruhani yang perlu dipelihara: salat yang khusyuk, doa yang tulus, dan hati yang selalu terhubung kepada Allah.
Karena itu, bertobatlah kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar taubat dalam setiap waktu dari segala dosa dan perbuatan terlarang. Taubat bukan sekadar ucapan di bibir, tetapi kesadaran yang lahir dari hati yang ingin kembali kepada jalan yang benar.
Tidak sedikit orang yang menunda-nunda taubat. Mereka berpikir masih ada waktu, masih muda, masih banyak kesempatan. Padahal kehidupan tidak pernah memberi jaminan.
Betapa banyak orang yang pagi hari masih beraktivitas seperti biasa, namun sore harinya telah dipanggil oleh Allah. Ramadan mengingatkan kita bahwa kesempatan memperbaiki diri tidak boleh ditunda.
Jagalah kewajiban dan perintah Allah Ta’ala serta jauhilah apa yang diharamkan dan dilarang-Nya, baik pada bulan Ramadan maupun pada bulan lainnya. Ramadhan seharusnya menjadi latihan spiritual yang membentuk kebiasaan baik sepanjang tahun.
Misalnya dalam hal salat berjamaah. Banyak orang yang pada bulan Ramadhan rajin datang ke masjid untuk salat tarawih. Masjid menjadi ramai, saf-saf penuh oleh jamaah.
Semangat itu sejatinya bisa terus dijaga bahkan setelah Ramadhan berlalu. Sebab kedekatan dengan Allah tidak hanya dibutuhkan selama satu bulan, melainkan sepanjang hidup.
Jangan sampai menunda-nunda taubat lalu mati dalam keadaan bermaksiat. Karena kita tidak tahu apakah masih menjumpai lagi bulan Ramadhan di tahun depan atau tidak.
Kesadaran ini juga penting dalam kehidupan keluarga. Bersungguh-sungguhlah dalam mengurus keluarga, anak-anak, dan siapa saja yang menjadi tanggung jawab kita agar mereka taat kepada Allah Ta’ala dan menjauhkan diri dari maksiat kepada-Nya.
Seorang ayah misalnya, bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ia juga bertanggung jawab membimbing anak-anaknya agar mengenal agama. Mengajak mereka salat berjamaah, mengajarkan membaca Al-Qur’an, serta menanamkan nilai kejujuran dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian pula seorang ibu yang setiap hari mendampingi anak-anak di rumah. Ia menjadi madrasah pertama bagi mereka. Dari lisan dan teladannya, anak-anak belajar tentang kesabaran, kasih sayang, dan keimanan.
Jadilah teladan yang baik bagi keluarga dalam segala bidang. Sebab seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di hadapan Allah Ta’ala.
Karena itu, bersihkan rumah kita dari segala bentuk kemungkaran yang dapat menjadi penghalang untuk berdzikir dan salat kepada Allah. Rumah yang dipenuhi bacaan Al-Qur’an, doa, dan salat berjamaah akan melahirkan ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh kemewahan materi.
Sebaliknya, rumah yang dipenuhi pertengkaran, tontonan yang tidak mendidik, dan kelalaian dari ibadah akan terasa gersang meskipun secara lahir tampak mewah.
Sibukkan diri dan keluarga kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Ingatkan mereka agar menjauhkan diri dari hal-hal yang membahayakan agama, dunia, dan akhirat mereka.
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang mukmin tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga menjaga keluarganya agar tetap berada di jalan kebaikan.
Alhamdulillah, pada hari Jum’at ini kita diingatkan kembali untuk memperbanyak amal kebaikan. Mari membaca Surah Al-Kahfi, memperbanyak istighfar, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw, berdoa, dan bersedekah.
Amal-amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas seringkali menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Sebuah sedekah sederhana, misalnya, bisa menjadi penolong di hari ketika manusia sangat membutuhkan pertolongan.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.
Ya Allah Ya Rabb…
Ampunilah dosa dan kesalahan kedua orang tua kami. Ampunilah kami, keluarga kami, dan saudara-saudara kami.
Ya Allah Ya Rabb…
Sehatkan dan sembuhkan saudara serta sahabat kami yang sedang sakit.
Jadikanlah sebaik-baik amal kami pada penutupannya.
Jadikan kami dan keluarga kami sehat lahir dan batin.
Lindungilah kami dari berbagai penyakit, bencana, dan kesulitan lainnya.
Jadikan kami insan yang pandai bersyukur dan mampu membahagiakan orang lain.
Jadikan kami menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Dan jadikan negeri ini negeri yang lebih baik, penuh kedamaian dan keberkahan.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments