Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ramadhan Waktu untuk Mengeliminasi Nafsu Amarah: Kajian Ahad Pagi Edisi Khusus

Iklan Landscape Smamda
Ramadhan Waktu untuk Mengeliminasi Nafsu Amarah: Kajian Ahad Pagi Edisi Khusus
Kajian bersama Prof. Sukadiono. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Pengajian Ahad Pagi KH Ahmad Dahlan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Batu, di masjid At-Taqwa pada Ahad (25/1/2026) sangat istimewa karena merupakan kajian edisi khusus menyambut Bulan Ramadhan 1448 H. Menghadirkan Ustadz Prof. Dr. dr Sukadiono, M.M., Ketua PWM Jawa Timur, sebagai pemateri. Tema yang dibahas adalah “Ramadhan Waktu untuk Mengeliminasi Nafsu Amarah”.

Mengawali kajian ini, Prof. Sukadiono menyampaikan bahwa kata “marhaban” menurut Quraish Shihab mengandung 2 makna: 1) rahbah adalah tempat yang lapang. Dalam hal Ramadhan berarti hati yang lapang dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Jadi, marhaban tak sekadar bermakna ahlan wa sahlan (selamat datang), karena ahlan wa sahlan biasanya untuk menyambut keluarga dan di dalamnya masih terdapat perasaan nelangsa bila ada keluarga yang datang berkunjung. 2) marhab artinya stasiun atau persinggahan.

Ramadhan adalah stasiun, sebagai bulan untuk pemberhentian guna memperbaiki hati kita dan mencari bekal lagi guna menghadapi perjalanan hidup berikutnya, termasuk salah satunya untuk mengurangi nafsu buruk dalam hati kita, yaitu nafsu amarah.

Selanjutnya, Prof. Sukadiono menjelaskan ada 5 tingkatan nafsu dari terendah hingga tertinggi. Paling rendah adalah nafsu amarah. Di atasnya ada nafsu sawwalah, nafsu yang menganggap benar perbuatan yang salah.

Berikutnya adalah nafsu lawwamah, yaitu nafsu yang mengajak untuk berbuat salah tapi kemudian memunculkan penyesalan dan mengingat Allah setelahnya. Inilah nafsu yang kebanyakan ada di dalam diri orang beriman. Di atas nafsu lawwamah adalah nafsu rahimah, yaitu nafsu yang selalu mendapatkan kasih sayang dari Allah.

Ketika seseorang akan berbuat kesalahan, Allah mengingatkan orang tersebut dengan berbagai petunjuk sesuai kehendak-Nya. Nafsu yang paling tinggi adalah nafsu mutmainah, inilah nafsu yang tenang, suatu kondisi jiwa yang telah mencapai ketenangan, kepuasan, dan kedamaian hakiki dalam beribadah dan beriman kepada Allah SWT.

“Menjelang bulan Ramadhan hendaknya kita berusaha mengeliminasi nafsu-nafsu buruk dalam diri agar siap memasuki bulan Ramadhan. Tujuannya, di bulan Ramadhan, kita bisa mengendalikan nafsu amarah, berusaha memaafkan kesalahan orang lain, dan ketika berbuat salah segera kembali pada Allah Swt,” terangnya.

Di akhir kajian, Prof. Sukadiono mengajak jamaah agar di bulan Ramadhan nanti berusaha mengeliminasi nafsu amarah, sawwalah, dan lawwamah menjadi rahimah.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu