Di era digitalisasi seperti sekarang, penyebaran informasi terjadi secara maksimal dan tak terhindarkan. Informasi, baik yang bermanfaat maupun yang berpotensi merusak, dapat dengan mudah tersebar luas ke masyarakat.
Salah satu bentuk penyebaran informasi yang berpotensi merusak, khususnya keyakinan beragama, adalah konten ramalan zodiak di berbagai media sosial seperti TikTok, Facebook, Instagram, bahkan grup WhatsApp. Jika dulu ramalan zodiak hanya ada di majalah atau koran, kini semua orang dapat mengaksesnya secara cepat, mudah, dan gratis melalui smartphone.
Masifnya konten ramalan zodiak ini menunjukkan bahwa minat sebagian masyarakat Indonesia terhadap hal mistis masih sangat besar. Ironisnya, di tengah arus modernitas yang lekat dengan sains dan teknologi —yang membuktikan ramalan zodiak tidak valid secara ilmiah— kepercayaan terhadap ramalan justru tetap subur.
Dalam perspektif Islam, kepercayaan pada ramalan zodiak adalah warisan budaya kuno (jahiliyah) oleh manusia sebelum datangnya Islam. Ajaran Islam menegaskan bahwa tidak ada satupun makhluk yang mengetahui perkara gaib, termasuk nasib seseorang, —apalagi hanya sekedar ramalan zodiak—, kecuali Allah SWT.
Hal ini sesuai firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 65 yang artinya, “Katakanlah: ‘tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’.” Bahkan organisasi keagamaan besar seperti Muhammadiyah berdiri, salah satu tujuannya untuk memerangi dosa syirik semacam ini.
Oleh karena itu, dari perspektif sains maupun agama (Islam), mempercayai ramalan zodiak tidak bisa dan tidak boleh dilakukan.
Ancaman Aqidah dan risiko mental
Derasnya konten ramalan zodiak sangat berbahaya karena dapat menggerus akidah dan keimanan umat Muslim. Fenomena ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi pihak-pihak terkait dan memerlukan kesadaran tinggi bagi setiap Muslim untuk teguh pada nilai-nilai akidah yang benar.
Sungguh memprihatinkan ketika melihat seorang Muslim yang rajin menjaga ibadah spiritual dan sosialnya, namun pada sisi lain juga membaca dan mempercayai ramalan zodiak. Ini adalah dua sikap yang bertentangan dan sulit disatukan, namun nyata terjadi saat ini.
Menurut Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh dalam At-Tamhid Li Syarh Kitabut Tauhid , ada dua rincian hukum terkait ramalan zodiak:
- Haram: Bagi umat Islam yang hanya membaca ramalan zodiak, meskipun belum mempercayainya, salatnya tidak akan diterima selama 40 hari ke depan.
- Kufur (Mengingkari Al-Qur’an): Jika seseorang membenarkan dan meyakini ramalan zodiak yang dibaca. Hal ini didasari Hadis Riwayat Ahmad nomor 9532, “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al-Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.“
Faktanya, masih banyak masyarakat Islam yang membenarkan dan mempercayai ramalan, baik karena ketidaktahuan hukumnya maupun karena memilih mengabaikannya.
Gerakan pembaharuan Islam —baik yang merujuk ke Eropa-sentris, Islam-sentris, gabungan antara keduanya atau varian moderat— tidak cukup membuat pemeluknya menyadari bahwa kepercayaan terhadap ramalan zodiak adalah perilaku jahiliyah.
Selain bahaya kemusyrikan, mempercayai ramalan zodiak juga berisiko mengganggu kesehatan mental. Hal ini terkait dengan Barnum Effect atau Forrer Effect dalam psikologi, dimana seseorang cenderung memercayai deskripsi karakter yang umum seolah-olah itu sangat personal dan spesifik bagi dirinya.
Risiko lainnya, orang yang percaya zodiak cenderung salah dalam mengambil keputusan. Keputusan sering kali didasari isi ramalan. Jika ramalan baik, ia semangat; jika buruk, ia bisa putus asa dan malas berusaha.
Ada kisah dari Tiongkok tentang Yu Fan, seorang yang percaya ramalan. Suatu hari, ramalan bintangnya tidak baik. Yu Fan menjadi tidak bergairah menjalani hari, dan benar saja, hal buruk menimpanya. Ia baru sadar kesalahannya setelah bertemu biksu yang menjelaskan pentingnya usaha dan takdir. Yu Fan terlalu memercayai ramalan buruk itu ketimbang berusaha.
Dalam sejarah penulisan ramalan, pengakuan dari beberapa penulis rubrik zodiak di majalah remaja era 90-an juga mencengangkan. Mereka mengaku menulis tanpa keahlian astronomi atau astrologi. Bahkan ada yang mengarang bebas ketika buku referensi ahli astrologi dunia sudah tidak terbit lagi. Mirisnya, banyak orang memercayainya.
Dunia boleh berkembang pesat, namun nilai-nilai Islam tetap menjadi penerang. Tidak ada yang mampu mengubah nasib seseorang, kecuali usaha dari dirinya sendiri dan pertolongan Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
Oleh karena itu, tidak ada yang bisa meramal apalagi mengubah nasib seseorang, kecuali usaha dan doa. Mari kita senantiasa berikhtiar semaksimal mungkin, bertawakal kepada Allah, dan menjauhi syirik dengan tidak memercayai zodiak atau ramalan yang menjauhkan kita dari kebenaran Allah.***





0 Tanggapan
Empty Comments