Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rapor Bukan Angka, MBS Porong Tekankan Proses

Iklan Landscape Smamda
Rapor Bukan Angka, MBS Porong Tekankan Proses
Suasana penerimaan rapor sebagai wadah silaturahim dan konseling pertumbuhan murid. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Momentum penerimaan rapor kerap dipahami sebagai penanda capaian akademik peserta didik. Nilai menjadi tolok ukur utama, bahkan sering dijadikan dasar menilai keberhasilan seorang anak. Tidak jarang, rapor berubah menjadi alat pembanding dan sumber tekanan psikologis.

Di Muhammadiyah Boarding School Porong (MBS Porong), rapor diposisikan secara berbeda. Rapor tidak semata dimaknai sebagai hasil akhir, melainkan sebagai laporan proses pendidikan dan pengasuhan santri secara menyeluruh.

Kepala Pengasuhan Santri MBS Porong, Rozaq Akbar, menegaskan bahwa pendidikan pesantren Muhammadiyah tidak berdiri di atas logika akademik semata.

“Anak-anak yang kami didik bukan hanya belajar mata pelajaran, tetapi sedang menjalani proses pembentukan karakter, mental, dan spiritual sebagai sarana belajar hidup,” ujarnya dalam berbagai forum pembinaan wali santri.

Dalam kerangka pendidikan Muhammadiyah, sekolah dipahami sebagai ruang pembinaan manusia seutuhnya. Oleh karena itu, rapor tidak dimaksudkan sebagai alat penghakiman, melainkan sebagai media evaluasi bersama antara sekolah, orang tua, dan santri. Rapor menjadi cermin perjalanan anak, bukan hanya tentang apa yang dicapai, tetapi bagaimana ia bertumbuh dalam disiplin, adab, ibadah, dan tanggung jawab selama hidup di pesantren.

Suasana penerimaan rapor sebagai wadah silaturahim dan konseling pertumbuhan murid. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Cara pandang inilah yang melatarbelakangi diterapkannya empat jenis rapor di MBS Porong. Sistem ini dirancang agar orang tua dapat membaca perkembangan anak secara utuh, tidak sepotong-sepotong.

“Santri hidup dalam ekosistem pendidikan selama 24 jam. Karena itu, yang kami nilai bukan hanya apa yang mereka ketahui, tetapi bagaimana mereka bersikap, beribadah, dan menjalani kehidupan pesantren,” jelasnya.

Empat Rapor, Satu Tujuan Pendidikan

Pertama, rapor sekolah yang memuat capaian akademik formal sesuai kurikulum nasional. Rapor ini menggambarkan kemampuan kognitif santri dalam mata pelajaran umum seperti sains, matematika, bahasa, dan lainnya. Meski penting, rapor sekolah bukan satu-satunya indikator keberhasilan pendidikan di MBS Porong.

Kedua, rapor Al-Islam yang menjadi ciri khas pendidikan Muhammadiyah Boarding School Porong. Rapor ini memuat praktik ibadah santri, adab keseharian, serta pembelajaran Al-Quran menggunakan metode Ummi. Di dalamnya tercatat perkembangan kelancaran membaca, ketepatan makhraj, tartil, hingga konsistensi ibadah harian.

“Kemampuan anak berinteraksi dengan Al-Quran merupakan indikator penting dalam pendidikan kami,” tegasnya.

Ketiga, rapor mental santri yang menilai aspek nonakademik yang sangat menentukan pembentukan karakter. Penilaian meliputi kebersihan diri dan lingkungan, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, kemandirian, serta kemampuan mengelola emosi. Menurut Rozaq, pendidikan mental tidak dapat diukur secara instan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Mental yang kuat tidak lahir dari angka, melainkan dari pembiasaan dan pengasuhan yang konsisten,” ujarnya.

Keempat, rapor diniyah yang berfokus pada mata pelajaran kepesantrenan seperti fikih, akidah, akhlak, bahasa Arab, dan disiplin keilmuan Islam lainnya. Rapor ini menunjukkan sejauh mana santri memahami dasar-dasar keislaman sebagai bekal menjalani kehidupan dengan nilai dan kesadaran ibadah.

Keempat rapor tersebut dirancang untuk dibaca secara utuh dan saling melengkapi. Rapor sekolah menunjukkan kecerdasan intelektual, rapor Al-Islam mencerminkan fondasi spiritual, rapor mental santri menggambarkan kesiapan karakter, dan rapor diniyah menguatkan identitas kepesantrenan santri.

Rapor sebagai Ruang Dialog dan Muhasabah

Kegagalan memahami rapor secara menyeluruh justru berpotensi melahirkan tekanan psikologis bagi anak. Ketika rapor hanya dibaca dari angka, proses panjang yang dijalani santri—mulai dari adaptasi hidup mandiri, penguatan ibadah, hingga pembentukan tanggung jawab—sering kali terabaikan. Padahal, aspek-aspek tersebut merupakan fondasi utama pendidikan pesantren.

Karena itu, rapor seharusnya menjadi ruang dialog, bukan ruang intimidasi. Orang tua diharapkan hadir sebagai mitra pendidikan, bukan sebagai penentu vonis keberhasilan atau kegagalan anak.

“Rapor adalah bahan komunikasi, bukan alat membandingkan anak dengan anak lain. Setiap anak memiliki fase tumbuh yang berbeda. Tugas kita adalah membersamai proses itu,” tegasnya.

Prinsip ini sejalan dengan konsep parenting partnership yang dikembangkan MBS Porong. Sekolah diposisikan sebagai rumah kedua, sementara keluarga tetap menjadi pondasi utama pendidikan. Guru dan orang tua berjalan beriringan, saling menggenggam, dan mendampingi tumbuh kembang santri.

Pada akhirnya, di MBS Porong, rapor tidak dimaknai sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai penanda perjalanan pendidikan. Fokus utamanya bukan pada siapa yang unggul secara angka, tetapi pada sejauh mana santri bertumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak, mandiri, dan siap menghadapi kehidupan.

Melalui sistem empat rapor ini, MBS Porong menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan yang sejalan dengan nilai Islam Berkemajuan—pendidikan yang menumbuhkan akal, menguatkan mental, dan menanamkan iman. Rapor pun tidak lagi sekadar laporan hasil belajar, melainkan potret perjalanan santri menuju kedewasaan iman dan karakter.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu