Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Reaktualisasi Ali-Imran Ayat 110: IMM sebagai Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Iklan Landscape Smamda
Reaktualisasi Ali-Imran Ayat 110: IMM sebagai Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Ahmad Muwaffiqul Choir (Mahasantri Pondok Hajjah Nuriah Shabran). Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Ahmad Muwaffiqul Choir (Mahasantri Pondok Hajjah Nuriah Shabran)
pwmu.co -

Tidak asing di telinga para mahasiswa, khususnya mahasiswa Muhammadiyah, untuk mengenal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu organisasi pergerakan mahasiswa di Indonesia. IMM merupakan organisasi mahasiswa yang berada di bawah naungan Muhammadiyah.

Pada 1950–1964, ketika partai-partai politik berupaya menyebarkan ideologi masing-masing demi menjadi aktor utama dalam mengisi kemerdekaan, peran mahasiswa sebagai social control turut terpengaruh. Banyak organisasi mahasiswa kehilangan arah geraknya dan justru menjadi pelaksana kepentingan partai tertentu.

Melihat maraknya penetrasi ideologi politik pada mahasiswa, Muhammadiyah menyadari pentingnya menjaga ideologi Muhammadiyah dalam diri kadernya, khususnya mahasiswa. Gerakan dakwah Muhammadiyah yang semakin berkembang juga membutuhkan kader yang ideologis, kompeten, dan berakhlak mulia.

Menjawab kebutuhan itu, Muhammadiyah menyetujui berdirinya IMM pada 14 Maret 1964 yang diinisiasi Djazman Al-Kindi dan rekan-rekannya. IMM hadir untuk membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia guna mewujudkan cita-cita Muhammadiyah.

Dalam sejarah panjang perkembangannya, IMM memiliki dasar ideologi fundamental yang tertuang dalam trikoda: Intelektualitas, Humanitas, dan Religiusitas.

Sebagai mahasiswa, kader IMM dituntut memiliki cakrawala keilmuan yang luas, berpikir rasional, kritis, dan menghasilkan solusi atas berbagai problem sosial. Lalu humanitas menekankan pentingnya empati dan keberpihakan kepada kaum lemah. Ini selaras dengan spirit Al-Ma’un yang menegaskan pentingnya menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

Sementara religiusitas merupakan pilar utama. Banyak orang memaknainya hanya sebatas ritual ibadah, padahal KBBI menjelaskan religiositas sebagai pengabdian terhadap agama; kesalehan. Pengabdian ini mencakup dua dimensi: habluminallah melalui ibadah ritual, dan habluminannas melalui kepedulian sosial. Muhammadiyah memahami bahwa ibadah juga hadir dalam bentuk sosio-ritual, yakni amal kemasyarakatan.

IMM wajib mengimplementasikan religiositas dalam dua dimensi itu: tidak hanya membentuk diri menjadi pribadi saleh, tetapi juga menebar kesalehan sosial kepada sesama.

Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar IMM

Amar ma’ruf nahi munkar dimaknai sebagai ajakan kepada kebaikan dan pencegahan terhadap keburukan. Gerakan ini melekat dalam dakwah Muhammadiyah dan menjadi fondasi gerakan IMM.

Hal itu sejalan dengan firman Allah dalam Ali-Imran ayat 110:

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”

Kuntowijoyo menafsirkan tiga pilar utama dari ayat tersebut: Humanisasi (amar ma’ruf), Liberasi (nahi munkar), dan Transendensi (tu’minuna billah).

  1. Humanisasi (Amar Ma’ruf)

Humanisasi berarti mengembalikan manusia pada fitrah kemuliaannya. Fitrah manusia adalah berbuat baik, sementara keburukan muncul karena faktor eksternal. Amar ma’ruf berfungsi membendung faktor-faktor penyebab kerusakan dan menjaga manusia tetap pada kodratnya.

  1. Liberasi (Nahi Munkar)

Liberasi berarti pembebasan. Ketika kesejahteraan hanya dinikmati golongan tertentu, maka terjadi kesenjangan. Liberasi bertujuan membebaskan kaum mustadh’afin dari kebodohan, kemiskinan, dan ketertindasan.

  1. Transendensi (Iman kepada Allah)

Transendensi adalah puncak dari gerak sosial. Humanisasi dan liberasi dilakukan bukan sekadar aksi sosial, tetapi sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, yang harus selaras dengan Al-Qur’an dan sunnah.

IMM, sebagai ortom Muhammadiyah, harus senantiasa menggaungkan semangat amar ma’ruf nahi munkar sebagai penyempurna gerak dakwah Muhammadiyah. Implementasi tiga pilar—humanisasi, liberasi, dan transendensi—menjadi kunci dalam mewujudkan khairu ummah: umat terbaik yang menghadirkan kebaikan, mencegah kemunkaran, dan beriman secara kokoh.

Melalui gerakan itu, IMM berupaya mengembalikan manusia pada fitrahnya, serta membangun masyarakat yang adil, sejahtera, terbebas dari kejahiliahan, ketertindasan, dan kemiskinan—semua demi menunaikan tujuan tertinggi seorang hamba: beribadah kepada Allah.

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu