
PWMU.CO – Sembilan belas tahun telah berlalu sejak semburan lumpur panas menenggelamkan ribuan rumah dan harapan warga Porong, Sidoarjo. Namun hingga kini, luka itu belum juga kering. Dalam momentum peringatan (29/05/2025), suara kritis kembali menggema, menampar kepongahan kekuasaan yang gagal belajar dari bencana.
Puluhan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sidoarjo dan sejumlah elemen masyarakat sipil berkumpul di tanggul lumpur Porong. Mereka menggelar refleksi bertajuk “19 Tahun Lumpur Lapindo: Luka yang Belum Kering” sambil memasang dua spanduk yang menyindir tajam kebijakan dan kelambanan negara.
Salah satu spanduk berbunyi, “Luka itu nyata. Menolak lupa. Terus bersuara” Sedang satu lainnya menampilkan grafis rumah-rumah tenggelam dan patung lumpur, mengingatkan kita pada tragedi kemanusiaan yang pelakunya masih bebas berkeliaran.
Jeritan Orasi di Tengah Lumpur

Bagus Yoga Aditya, Ketua Umum IMM Cabang Sidoarjo, membuka kegiatan ini dengan penegasan moral: Hari ini kita masih membuktikan humanitas kita sebagai mahasiswa, khususnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yang tetap bersuara tentang 19 tahun Lumpur Lapindo.
Ia menambahkan, refleksi ini bukan sekadar mengenang, melainkan bentuk perlawanan atas ketidakadilan yang terus dilanggengkan. “Negara absen, dan kita hadir menggugat,” tegasnya.
Sementara itu, orasi Immawan Nizar mengguncang kesadaran peserta yang hadir. Dengan nada penuh kemarahan, ia berkata, tegakkan kepala kalian! Busungkan dada kalian! Jangan tertawa! Lihatlah apa yang telah terjadi 19 tahun lalu hingga kini. Kalian masih bisa tertawa di atas penderitaan ini?
Kemarahan itu bukan tanpa alasan. Ribuan jiwa kehilangan rumah, tanah, dan sejarah hidupnya—namun hingga kini, penguasa daerah dan pusat seolah lebih sibuk mengemas citra ketimbang menyelesaikan luka.
Sindiran Tajam untuk Penguasa
Sorakan dan tepuk tangan pecah ketika Atok, Gubernur Mahasiswa FHBIS, mengambil alih pengeras suara. Ia menyampaikan kritik yang sangat tajam dan menyindir langsung para penguasa.
“Kami ingatkan kepada Bupati Sidoarjo: jangan cuma bisa korupsi! Kami ingatkan kepada Gubernur Jawa Timur: jangan cuma jualan buah! Dan kami ingatkan kepada Presiden Prabowo Subianto: jangan cuma omon-omon saja!” tuturnya.
Sindiran itu langsung menyulut semangat peserta aksi. Teriakan “Hidup mahasiswa!” menggema membelah langit Sidoarjo yang mendung. Ini bukan hanya bentuk ekspresi, tapi jeritan rakyat yang kecewa pada negara yang diam saat warganya tenggelam dalam lumpur.
Tak hanya menggugat elit politik, Immawan Fajar, Kepala Bidang Organisasi IMM Sidoarjo, menegaskan dimensi spiritual dari tragedi ini. Ia mengutip ayat al Quran yang menyindir keserakahan manusia.
“Ketamakan penguasa adalah bencana. Seperti Fir’aun, mereka tidak pernah merasa cukup. Selalu menggali lebih dalam—hingga bumi sendiri memuntahkan kemarahannya.”






0 Tanggapan
Empty Comments