Muhammadiyah kembali ditegaskan sebagai salah satu kekuatan strategis bangsa. Perannya tidak hanya penting dalam konteks keumatan dan kebangsaan, tetapi juga di mata dunia internasional.
Penegasan tersebut mengemuka dalam refleksi dan dialog kebangsaan yang menghadirkan Ahmad Labib, Anggota DPR RI Komisi VI, bersama pimpinan dan kader Pemuda Muhammadiyah Gresik dan Lamongan, serta masyarakat Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Rabu (25/12/2025).
Dalam forum tersebut, Ahmad Labib menyampaikan harapan agar Muhammadiyah, khususnya kader muda, tetap menjaga kemurnian gerakan. Ia mengingatkan agar persyarikatan tidak terjebak dalam praktik politik pragmatis yang berpotensi merusak marwah organisasi.
“Pemuda Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai penjaga moral dan stabilitas sosial. Jangan sampai suksesi kepemimpinan di Muhammadiyah meniru praktik politik praktis. Jika jabatan diperebutkan, itu tanda bahaya bagi organisasi,” tegasnya.
Labib menekankan bahwa sejak awal berdirinya, Muhammadiyah bukanlah gerakan politik, melainkan gerakan dakwah dan tajdid yang berorientasi pada pengabdian umat. Oleh karena itu, ia menilai penting adanya pemetaan peran kader secara jernih dan dewasa.
“Harus dipisahkan secara tegas antara kader politik, kader organisatoris, kader mubalig, kader intelektual, dan kader profesional. Semuanya penting, tetapi tidak boleh dicampuradukkan hingga merusak ruh gerakan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada integritas jamaahnya. Labib mencontohkan masa Orde Baru, ketika Muhammadiyah memperoleh kepercayaan negara karena kualitas, moralitas, dan kemandiriannya. Saat itu, banyak kader Muhammadiyah dipercaya menduduki posisi strategis untuk mendukung pembangunan nasional.
Muhammadiyah, Gerakan Langka di Mata Dunia
Pandangan Ahmad Labib sejalan dengan perspektif global yang disampaikan Drs. Hajriyanto Y. Thohari, MA, Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon. Hajriyanto menilai Muhammadiyah sebagai fenomena yang jarang ditemukan di negara lain.
“Di banyak negara, peran pendidikan, kesehatan, dan sosial dijalankan oleh institusi yang berbeda. Muhammadiyah mampu merangkum semuanya dalam satu gerakan yang hidup dan berkelanjutan. Ini sangat khas Indonesia dan langka di mata dunia,” ungkapnya.

Menurut Hajriyanto, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan gerakan sosial yang menyatu dengan kehidupan masyarakat. Sekolah, rumah sakit, universitas, hingga gerakan kemanusiaan dijalankan secara konsisten dengan spirit keikhlasan dan kemandirian.
Di tengah meningkatnya krisis kepercayaan terhadap institusi global serta menguatnya ekstremisme, ia menilai model Muhammadiyah justru semakin relevan.
“Islam yang rasional, berkemajuan, dan berpihak pada kemanusiaan sebagaimana dipraktikkan Muhammadiyah adalah contoh nyata. Ini bukan sekadar wacana, melainkan praktik yang benar-benar dibutuhkan dunia,” jelasnya.
Baik Ahmad Labib maupun Hajriyanto sepakat bahwa tantangan Muhammadiyah ke depan bukan terletak pada eksistensi, melainkan pada upaya menjaga relevansi, kemandirian, dan integritas gerakan di tengah perubahan zaman.
Apa yang selama ini dianggap biasa oleh kader di tingkat lokal sejatinya merupakan aset besar dan langka dalam perspektif global. Oleh karena itu, kader muda Muhammadiyah didorong untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat kemandirian ekonomi, serta menjaga jarak sehat dengan kepentingan politik praktis.
Menutup refleksinya, Ahmad Labib menitipkan pesan agar kader Muhammadiyah senantiasa menjaga kedaulatan gerakan.
“Dorong kader untuk kreatif dan mandiri. Jika jamaah kuat secara ekonomi, Muhammadiyah akan tetap berdaulat, bermartabat, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi bangsa dan kemanusiaan,” pungkasnya.






0 Tanggapan
Empty Comments