Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Refleksi Bencana untuk Negeri dari Din Syamsudin

Iklan Landscape Smamda
Refleksi Bencana untuk Negeri dari Din Syamsudin
Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsudin MA PhD, dalam Kajian Ramadan 1447 H PWM Jatim, Minggu (22/02/2026). (Istimewa/PWMU.CO).
pwmu.co -

Ada yang berbeda pada Kajian Ramadan 1447 H PWM Jatim di Aula Ahmad Zainuri Universitas Muhammadiyah Jember, Minggu (22/02/2026).

Hal itu tak lepas dari kehadiran Ketua umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin MA PhD.

Pada kajian keempat itu, Din menyampaikan materi berjudul “Refleksi untuk Negeri: Menafsir Bencana”.

Antara Sunnatullah dan Kausalitas

Dalam As-Syuro ayat 30, mengutip dari tafsir Ar Rozi, Din berujar bahwa musibah itu lebih bersifat universal, tidak partikular. Atau tidak hanya menimpa orang dholim yang berbuat jahat saja.

“Bahwa musibah itu tidak hanya menimpa orang-orang zindiq, namun juga Siddiq” ujarnya sebagaimana mengutip dari Tafsir Ar Rozi.

Sementara dari Al-Maraghi, musibah itu terjadi karena hukum kausalitas atau sebab-akibat atau dalam artian tangan manusia. “Misalkan orang berbohong, dampak dari kebohongan nya itu luas” tutur Din.

Dua tafsir ini memberi perspektif yang berbeda. Kemudian bagaimana dengan Indonesia?

“Saya berpendapat dengan terjadinya bencana alam dan sosial di negeri ini, maka Indonesia nyaris dapat disebut negeri bencana” terangnya.

Lantaran pasca tsunami akhir 2004 lalu di Aceh, kemudian belum selesai pemulihan di Aceh, ada gempa bumi di Yogyakarta pada 2006.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Mengenai alasan terjadinya hal ini, Din merujuk kembali pada perspektif 2 tafsir tadi. “Memang ada proses alam, nature tadi. Bumi memang sudah tua, sudah aus, dan memang proses alami itu merupakan sunnatullah” kata Din.

Kemudian menurut Al-Maraghi, ternyata perbuatan manusia itu sendiri yang bersifat kemungkaran, kebatilan itu memiliki dampak negatif atau kerusakan.

Saya mengamati ada dimensi sosial dan moral. Di indonesia ini terjadi kemungkaran kultural yang permisif.

Namun di samping itu, lanjutnya, ada juga kemungkaran struktural. “Ini yang kemudian menjadi jihad saya. Yaitu sistem acuan yang menjadi dasar kita bernegara, terjadi kemungkaran struktural” tegas Din.

“Sehingga dari Ekoteologi harus berlanjut dengan eko-etika” pungkasnya.

Menutup kajiannya, Din berpesan kepada warga Muhammadiyah agar tidak pernah berhenti melakukan amar makruf nahi munkar.

“Kalau manusia tidak mau lagi ber-amar makruf dan bernahi Munkar, maka alam yang akan melakukannya. Bencana akibat proses alamiah, namun juga tindakan manusia yang merusak alam” tutupnya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu