Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Pendidikan yang Membangkitkan

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Potret Muhammad Irfan Hakim penulis di PWMU (Irfan/PWMU.CO)

Oleh: Muhammad Irfan Hakim SSos Gr

PWMU.CO – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah momen bersejarah yang menandai babak baru dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tanggal ini dipilih sebagai tonggak kebangkitan karena bertepatan dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908.

Budi Utomo menjadi salah satu organisasi modern awal yang mengusung semangat nasionalisme dan kesadaran kolektif sebagai bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Sebelum Budi Utomo berdiri, perjuangan melawan penjajah lebih banyak bersifat kedaerahan, tidak terkoordinasi, dan pada akhirnya mudah dipatahkan oleh kekuatan kolonial yang lebih terorganisasi dan sistematis.

Namun, munculnya Budi Utomo menunjukkan bahwa rakyat Indonesia mulai menyadari pentingnya persatuan dalam upaya melawan penjajahan. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi awal bagi pergerakan nasional yang semakin sistematis hingga akhirnya mencapai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Memetik Nilai Hari Kebangkitan Nasional

Kebangkitan nasional bukan hanya peristiwa sejarah yang tertulis rapi dalam buku sejarah, tetapi juga sebuah nilai yang terus relevan hingga kini dan nanti. Semangat kebangkitan itu terpancar dalam sosok Panglima Besar Jenderal Soedirman, seorang pejuang sejati yang tetap memimpin perang gerilya meskipun hanya dengan satu paru-paru.

Pengorbanannya adalah simbol dari keberanian dan keikhlasan dalam memperjuangkan kedaulatan bangsa, nirpamrih (tanpa pamrih), tanpa mencari keuntungan pribadi. Ia adalah contoh nyata seorang patriot yang menjadikan kepentingan bangsa di atas segalanya.

Semangat seperti inilah yang harus kita refleksikan di masa kini, terutama dalam konteks pendidikan. Pendidikan adalah jalan utama untuk membangkitkan kembali bangsa ini, tidak hanya dari sisi intelektual, tetapi juga dari sisi moral, karakter, dan integritas. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting, bukan sekadar sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, penyala pelita, dan penerang jalan bagi generasi masa depan.

Pendidikan yang membangkitkan adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia Indonesia yang utuh: cerdas secara intelektual, anggun secara moral, teguh secara spiritual, serta totalitas dalam gerakan. Pendidikan yang tidak hanya melatih kecerdasan kognitif, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab sebagai insan yang berdaulat, merdeka, adil, dan bermartabat. Hal ini menuntut kehadiran guru-guru sejati, yang bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan kebangsaan.

Tantangan Kontekstual Menjaga Kedaulatan

Sayangnya, semangat kebangsaan itu bisa tergerus ketika di dalam negeri sendiri masih terjadi ketimpangan, alienasi, dan diskriminasi. Ketika ada kelompok masyarakat yang merasa terasing, terpinggirkan, terlemahkan, bahkan dianggap bukan bagian dari “kita”, maka sejatinya kita sedang mengikis kedaulatan kita sendiri. Kedaulatan bukan hanya soal batas wilayah, geografi, atau teritori, tetapi juga mencakup martabat setiap warga negara yang harus dijaga, dihargai, dan dilindungi.

Kita membutuhkan para pendidik yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang inklusif, merdeka, dan memanusiakan. Guru yang mencerahkan adalah mereka yang mampu membimbing muridnya menjadi manusia sejati, yakni manusia yang tidak hanya pandai dalam berteori, berhitung, dan presentasi, tetapi juga bijaksana dalam setiap tindakannya.

Murid yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki perangai yang anggun, penuh empati, serta menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran. Ilmunya seperti pohon yang akarnya menghujam ke dalam, sementara batang, ranting, dan daunnya menjulang, meneduhkan, serta buahnya manis untuk dimakan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu