Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Refleksi Kehidupan: Akar Kegaduhan Hidup Manusia

Iklan Landscape Smamda
Refleksi Kehidupan: Akar Kegaduhan Hidup Manusia
Ilustrasi: OpenAI
pwmu.co -

Di tengah kehidupan yang kian kompleks dan penuh kegelisahan, manusia kerap merasa mampu mengendalikan segalanya. Namun akar dari kegaduhan hidup justru terletak pada satu hal mendasar: manusia semakin menjauh dari ketaatan kepada perintah dan larangan Allah.

Pesan itu disampaikan Drs. HM. Yasri, M.Ag, Mubaligh Muhammadiyah, dalam ceramah telaah Kitab Al-Hikam hikmah ke-24, yang mengajak jamaah kembali menempatkan ketaatan sebagai jalan keselamatan hidup.

Ustaz Yasri mengajak jamaah untuk meluruskan niat dan berharap taufik serta hidayah Allah melalui pembacaan basmalah.

Dia menjelaskan bahwa Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari sejak hikmah-hikmah awal hingga hikmah ke-24 secara konsisten mengarahkan manusia agar fokus pada ketaatan kepada Allah, bukan larut dalam kekaguman berlebihan terhadap alam dan kekuatan makhluk.

“Dalam Islam, Allah bukan bagian dari alam. Allah adalah pencipta alam. Segala yang kita lihat dahsyat—angin, air, virus—semuanya makhluk yang lemah di hadapan-Nya,” tegas Ustaz Yasriseperti dikuti dari kanal Youtube Masjid Alfath Bratang.

Ustaz Yasri mencontohkan bagaimana angin yang tak kasat mata mampu menggerakkan lautan dan menghancurkan daratan, atau virus kecil yang tak terlihat mampu menghentikan aktivitas seluruh dunia seperti pada pandemi Covid-19.

Semua itu, menurutnya, menjadi pengingat bahwa manusia bukan pemilik kuasa, melainkan makhluk yang sepenuhnya bergantung pada Allah.

Ustaz Yasri kemudian menjelaskan makna kalimat la haula wala quwwata illa billah sebagai pengakuan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Manusia bahkan tidak mampu mengendalikan napas terakhirnya sendiri.

“Kalau manusia benar-benar pemilik dirinya, tidak ada yang mau mati, tidak mau sakit, tidak mau susah. Fakta bahwa semua itu terjadi menunjukkan kita bukan pemilik, ada Pemiliknya,” ujarnya.

Karena itu, manusia diminta tidak mengubah aturan Allah. Perintah dan larangan-Nya justru menjadi jaminan keselamatan, baik dalam hubungan dengan alam, keluarga, maupun sesama manusia.

Janji Keberkahan bagi yang Taat

Ustaz Yasri mengutip ayat Al-Qur’an “Walau anna ahlal qura amanu wattaqau…” yang menjelaskan bahwa jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi.

Keberkahan itu, jelasnya, bukan semata kekayaan, tetapi jaminan hidup yang menenangkan, hubungan sosial yang harmonis, lingkungan yang ramah, dan kehidupan yang membawa rasa aman.

“Rezeki itu maknanya jaminan hidup. Bukan sekadar banyak harta, tapi cukup, tenang, dan membawa kasih sayang,” katanya.

Sebaliknya, kekacauan dunia—perebutan sumber daya, peperangan, dan krisis kemanusiaan—disebabkan oleh manusia yang mengingkari aturan Allah, bukan karena kurangnya sumber daya alam.

Ustaz Yasri menjelaskan, ketika Al-Qur’an menyebut kadzabu (mendustakan), yang didustakan bukanlah keberadaan Allah, melainkan aturan-Nya. Mendustakan aturan berarti mengetahui tetapi tidak menjalankan.

Akibatnya, Allah menimpakan konsekuensi atas pilihan manusia itu sendiri. Namun, ia menegaskan bahwa hukuman tersebut bukanlah bentuk kezaliman Allah.

“Mereka tidak menzalimi Allah, tetapi menzalimi diri mereka sendiri,” ujarnya, mengutip makna ayat Al-Qur’an.

Allah Tampak dalam Ketidakadaan

Ustaz  Yasri menjelaskan pernyataan Ibnu Athaillah tentang keajaiban bagaimana yang benar-benar ada (Allah) justru tampak melalui sesuatu yang pada asalnya tidak ada (makhluk).

Allah adalah wujud sejati yang tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak diakhiri oleh ketiadaan, sementara manusia dan alam adalah makhluk yang diadakan dan penuh keterbatasan.

“Kalau sudah mentok memahami, sikap paling aman adalah menyerah dan taat,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan ayat Al-Qur’an yang menyebut bahwa di antara pasangan dan anak-anak bisa menjadi musuh jika manusia meninggalkan bimbingan Allah.

“Hati-hati bukan berarti curiga, tapi waspada. Allah selalu memberi peringatan sekaligus bekal agar kita selamat,” jelas Ustaz Yasri.

Tanpa bimbingan wahyu, orang yang paling dicintai bisa berubah menjadi sumber penderitaan. Sebaliknya, dengan ketaatan kepada Allah, hubungan justru menjadi lebih kokoh hingga ke akhirat.

Mengutip Surah Thaha ayat 100–124, Drs. Yasri menegaskan bahwa Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa panduan.

Barang siapa mengikuti petunjuk-Nya, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Namun, siapa yang berpaling dari peringatan Allah akan menjalani kehidupan yang sempit dan penuh kegelisahan.

“Kalau tidak mau diperintah Allah, manusia pasti akan diperintah oleh hawa nafsunya sendiri. Kalau tidak mau dilarang Allah, hidup akan melarang keinginannya,” katanya.

Ustaz Yasri menegaskan, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ampunan-Nya terbuka luas bagi siapa pun yang terus kembali, beriman, dan beramal saleh, meskipun ketaatannya tidak sempurna.

“Manusia tidak pernah sempurna taat, tapi jangan berhenti taat. Karena hidup ini adalah istigfar yang panjang,” ujarnya.

Menurutnya, nikmat Allah jauh lebih besar daripada ketaatan manusia. Karena itu, keselamatan bukan diraih dengan merasa cukup pada rahmat Allah saja, melainkan dengan tetap berjalan di jalan perintah dan menjauhi larangan-Nya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu