Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Refleksi Kritis Kader IMM: Jangan Teriak Jaya Elite Tapi Action Sulit

Iklan Landscape Smamda
Refleksi Kritis Kader IMM: Jangan Teriak Jaya Elite Tapi Action Sulit
Oleh : Saiful Bahri Ketua Umum PK IMM Yustisia
pwmu.co -

Tulisan merupakan bentuk refleksi sekaligus kritik terhadap dinamika internal kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Khususnya menyangkut konsistensi antara semangat intelektual dan aksi nyata dalam tubuh organisasi.

Satu sisi, tulisan ini menjadi apresiasi bagi para kader yang telah berjuang tanpa pamrih, berpeluh dalam diam, dan tetap setia menjaga marwah ikatan. Pada sisi lain, juga merupakan teguran terhadap kader-kader yang justru menjadi benalu dalam pergerakan. Tampil nyaring dalam slogan namun hampa dalam kontribusi.

Gerakan intelektual merupakan pondasi penting dalam menghidupkan dinamika organisasi. Namun jika tanpa tindakan konkret, gerakan tersebut hanya menjadi wacana kosong yang tak pernah menjelma menjadi nyata.

Intelektual sejati bukan hanya pandai berdiskusi dan memunculkan ide-ide brilian, namun juga mampu mengeksekusi gagasan menjadi aksi sosial yang relevan dan berdampak. IMM sebagai gerakan kader, dakwah, dan intelektual harus menjadi cermin peradaban — yang merefleksikan harapan, keresahan, dan semangat perubahan masyarakat.

Hari ini, kita sering menyaksikan fakta bahwa gerakan intelektual kerap berhenti di ruang diskusi dan tertinggal dalam makalah, tapi tidak mengakar dalam realitas sosial.

Perlu kita pahami bahwa perubahan tidak selalu mulai dari panggung besar. Melalui aktivitas kecil dan sederhana, kita dapat menyuarakan kebenaran dan membangun kesadaran kolektif. Kader IMM harus peka terhadap ruang-ruang kecil yang bisa dijadikan titik tolak perjuangan.

Namun perjuangan ini tidak hanya soal intelektualitas. IMM harus lebih menekankan pentingnya keseimbangan antara akhlak dan nalar, sebagaimana semboyan yang terus digaungkan: “Anggun dalam Moral, Unggul dalam Intelektual.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
(istimewa/PWMU.CO)

Intelektualitas dan moralitas

Nilai-nilai moral merupakan pondasi utama agar intelektualitas tidak menjelma menjadi arogansi. Kecerdasan tanpa akhlak hanya akan melahirkan elitisme yang menyesatkan.

Menjadi kader IMM bukan hal sepele, tapi mengandung amanah yang menuntut integritas, konsistensi, dan loyalitas terhadap nilai-nilai ke-IMM-an. IMM lahir melalui perjuangan yang berat, bukan hadiah.

Latar belakang kelahiran ikatan ini sarat dinamika dan perdebatan intelektual oleh para tokoh Muhammadiyah.

Karena itu, komitmen menjadi kader pada hakikatnya  harus siap menjaga kesucian ikatan — baik saat menjadi kader aktif maupun setelah menjadi alumni — sebagaimana pesan para senior dan tokoh IMM terdahulu.

Iklan Landscape UM SURABAYA

IMM harus selalu mengambil peran aktif dalam berbagai isu — baik sosial, hukum, ekonomi maupun politik. Ikatan ini menjadi mitra kritis sekaligus penjaga nurani publik dalam mengawal kebijakan pemerintah yang berpotensi melenceng dari nilai keadilan.

Organisasi IMM hadir bukan untuk mencari panggung saat memperjuangkan hak-hak rakyat yang terabaikan. Konsolidasi dan kajian isu menjadi langkah awal sebelum turun ke jalan—karena setiap aksi bukan hanya demonstrasi, tapi representasi dari kesadaran kolektif. Maka kolaborasi organisasi kemahasiswaan lainnya — seperti HMI, PMII, GMNI, dan sebagainya — perlu diperhatikan.

Tulisan ini sebagai bahan refleksi bagi kader ikatan, bahwa dalam organisasi, penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan meneriakkan jargon “JAYA”. Penyelesaian konflik mesti dituntaskan melalui tanggung jawab bersama.

Ortom Muhammadiyah di ranah mahasiswa ini bukan milik pribadi, tapi merupakan wadah kolektif yang harus dijaga dan dibenahi bersama. Jangan ada konflik personal antar kader, jika pun terjadi persoalan individu satu dengan individu lainnya, selayaknya tidak berimbas secara negatif kepada ikatan.

Sungguh ironis ketika ada yang mengaku kader, merasa merasa tahu segalanya namun sesungguhnya miskin pemahaman. Tampil sebagai pahlawan kesiangan, dengan suaranya yang lantang namun sebenarnya kosong kontribusi.

Kehadirannya dalam organisasi justru menjadi beban, bukan menjadi penggerak. Lantang berteriak “jaya”, namun langkahnya tak pernah menyentuh tanah perjuangan.

Hal ini saya pahami sebagai elitisme tanpa substansi — sikap merasa lebih tinggi, padahal sejatinya menyumbat aliran gerakan. Saya tidak menolak elit, tapi saya menolak sikap sok elitis. Demikian relevansi pesan Ayahanda Dr. Abdul Mu’ti yang sangat membekas dalam benak saya: “elit boleh, tapi jangan elitis.”

Hari ini Gerakan IMM membutuhkan kader-kader militan yang kuat secara intelektual, sekaligus berjiwa sosial dan rendah hati.

Kita butuh pejuang, bukan pencitra. Kita butuh penggerak, bukan pengamat. Kita butuh kader yang tidak sekadar hadir dalam rapat, tapi juga nyata dalam perjuangan.

Marilah kembali pada substansi gerakan. Jangan merasa hebat hanya karena mahir dalam beretorika, tapi mandul dalam aksi. Jangan hanya menjadi penikmat, tapi jadilah pengabdi. Sejatinya, IMM dibangun di atas semangat pengabdian dan perjuangan.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu