Dalam rangka memperingati Milad ke-113 Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng menggelar Kajian Ahad Pagi bertema “Refleksi Milad ke-113 Muhammadiyah: Harapan dan Tantangan” di Masjid Jenderal Sudirman, Ahad (5/10/2025).
Hadir sebagai narasumber, Prof. Ahmad Jainuri, Ph.D., yang dalam paparannya menekankan pentingnya etika dan moral sosial sebagai fondasi dalam gerakan tajdid (pembaruan) Muhammadiyah.
Menurutnya, perubahan adalah kunci menuju modernisasi, terutama dalam aspek sosial dan budaya di luar ranah ibadah mahdhah.
“Perubahan adalah kata kunci untuk modernisasi bagi hal-hal di luar ibadah mahdhah, seperti sosial dan budaya,” jelasnya.
Prof. Jainuri menerangkan bahwa tajdid dalam Muhammadiyah sejatinya bertujuan untuk kemajuan bersama, dengan dua nilai utama yang harus dijaga: etika dan moral sosial.
“Tajdid itu bertujuan untuk kemajuan bersama. Maka dalam Muhammadiyah ada nilai-nilai yang harus diperhatikan; nilai pertama adalah etika dan moral sosial,” ujarnya.
Namun, ia menyayangkankondisi umat Islam dewasa ini yang dinilai mulai kehilangan dua nilai fundamental tersebut.
“Sayangnya, secara universal nilai-nilai itu kini menjadi hal yang langka. Mari kita lihat contoh kecil saja: pembohong dianggap benar,” ungkapnya.
Prof. Jainuri menegaskan, nilai-nilai etika dan moral sosial merupakan ruh gerakan Muhammadiyah. Karena itu, jika seorang warga Muhammadiyah tidak menampilkan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya, patut dipertanyakan identitas ke-Muhammadiyah-annya.
“Nilai-nilai etika dan moral sosial dalam Islam itu ada dalam Muhammadiyah. Maka apabila warga Muhammadiyah tidak memiliki nilai tersebut, dapat dipastikan mereka bukan warga Muhammadiyah,” tegasnya.
Sebagai penutup, ia memberikan solusi konkret dalam menanamkan nilai-nilai tajdid tersebut, yakni dengan membiasakan diri untuk berkata benar meskipun terasa pahit.
“Maka katakanlah yang benar, walaupun pahit rasanya,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments