Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Refleksi Milad ke-116 Hijriah: Pesan Eskatologis Kiai Haji Ahmad Dahlan

Iklan Landscape Smamda
Refleksi Milad ke-116 Hijriah: Pesan Eskatologis Kiai Haji Ahmad Dahlan
Oleh Maslahul Falah – Sekretaris PCM Laren Lamongan, Koordinator Divisi Hisab dan Falak MTT PDM Lamongan, Penulis Buku Islam ala Soekarno: Jejak Langkah Pemikiran Islam Liberal Indonesia

PWMU.CO – Dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah disharih-kan bahwa pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah/18 Nopember 1912 Miladiah, Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan sebagai gerakan Islam dengan nama “Muhammadiyah”. Sekaligus menyusun majlis-majlis/bagian-bagiannya mengikuti arus zaman dengan berdasarkan pada syura, yang diistilahkan muktamar.

Dalam kalender Hijriah dan Masehi, tanggal berdirinya Muhammadiyah ditetapkan sebagai Hari Milad Muhammadiyah. Bagi warga Muhammadiyah, hari tersebut menghadirkan aura kebahagiaan sekaligus menggugah kesadaran dan semangat untuk melakukan evaluasi serta proyeksi diri. Kebahagiaan itu muncul karena Muhammadiyah telah mencapai usia 116 tahun pada tahun 1446 Hijriah. Momentum ini juga menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan perjalanan panjang Muhammadiyah dari masa ke masa.

Evaluasi dan proyeksi meniscayakan adanya refleksi terhadap perjalanan historis Muhammadiyah, termasuk mengenal kembali siapa pendiri dan tokoh-tokoh utama yang menggawangi berdirinya organisasi ini. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk kembali mengenal dan mengenang sosok pendiri Muhammadiyah.

Pesan eskatologis 

KRH Hadjid dalam Falsafah Ajaran KH Ahmad Dahlan menjelaskan figur pendiri Muhammadiyah in, bahwai Kiai Ahmad Dahlan di samping  mempunyai sifat dzaka atau cerdas akal dalam memaham kitab yang sukar’ .Beliau juga mempunyai maziyah atau keistimewaan dalam khauf (rasa takut) terhadap naba` al-‘azhim (kabar bahaya besar) sebagaimana yang tersebut dalam Al-Qur`an surat An-Naba’. Sehingga nampak dalam kata-katanya, pelajaran yang diberikan, dan nasehat-nasehat atau wejangan-wejangan beliau.

Kiai Ahmad Dahlan pernah mengingatkan ibu Nyai Walidah tentang ayat Al-Qur`an: wa la tamutunna illa wa antum muslimun. HM Sudja` dalam Cerita Tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan: Catatan Haji Muhammad Sudja` merekam peristiwa kegundahan Ibu Nyai terhadap Kiai Dahlan. Secara hati -hati Ibu Nyai menyatakan kegundahannya berbarengan dengan tetesan air matanya. 

“Kiai, apakah tidak baik kalau nasihat dokter-dokter yang sudah sependapat bahwa untuk mengurangkan penderitaan kegeringan Kiai hanya satu jalan, ialah lepaskan pikiran-pikiran yang berat, terutama Muhammadiyah. Muhammadiyah itu masih panjang dan masih jauh perjalanannya. Oleh karena itu, cobalah nasihat dokter-dokter itu dilaksanakan. Bila nanti Kiai sudah sehat diusahakan lagi selanjutnya.”

Dilukiskan oleh HM Sudja` bahwa Kiai Dahlan justru menampakkan roman muka yang kecut, sebagai tanda amat marah kepada ibu Nyai Dahlan. Seraya mengangkat tangannya menunjuk kepada Ibu Nyai, dengan sayup sayup, Kiai Dahlan berkata : “Nah, sekarang iblis sudah menjelma berwujud Nyai, akan memecatku dari Islam Muhammadiyah, yang kemarin sudah menjelma kepada dokter-dokter akan memecat kami dari Muhammadiyah tidak sedikit kuperhatikan. Rupanya iblis tidak puas lantas menjelma berupa Nyai. Oh, Nyai iblis. Lupakah kau akan pelajaranku ‘wa la tamutunna illa wa antum muslimun ?’ Pergilah jangan mendekat aku”

Mendengar pesan eskatologis sangat mendalam ini, —menurut kesaksian HM Sudja`—, ibu Nyai seketika itu lantas bercucuran air matanya dan tersedu-sedu menangis sambil minta ampun dan maaf yang sebesar besarnya, maaf atas perbuatannya yang dipandang salah itu. 

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Selang satu malam, pada malam Jumat tanggal 7 Rajab tahun 134 Hijriyah, hampir tengah malam, KH Ahmad Dahlan menghembuskan nafas terakhir. Beliau meninggalkan Muhammadiyah untuk selama-lamanya, di hadapan banyak anggota keluarga, dengan tenang dan dalam suasana yang tenteram. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Mudah-mudahan Allah menerima roh beliau dengan sebesar-besar rahmat dan nikmat-Nya di sisi-Nya. Allahumma amin.

Kiai Haji Ahmad Dahlan bersama tokoh-tokoh awal sudah “mewariskan” Muhammadiyah. Hingga di Milad ke-116 berdasarkan Tahun Hijriah, Muhammadiyah berkembang melintasi benua dengan capaian amal usaha yang juga berkembang melesat. Maka, Milad tahun ini bisa menjadi pelajaran dan renungan bagi anggota, warga, dan Penggerak Persyarikatan Muhammadiyah ini. 

Ada banyak cara dalam berMuhammadiyah. Namun tidak berlebihan jika kita sudi berusaha untuk membuka, membaca, mengingat dan merenungi kembali tentang Identitas, Asas, dan Lambang Muhammadiyah dalam Anggaran Dasar. Mari kita lakukan internalisasi nilai kemuhammadiyahan dalam diri kita.

Dalam rumusan penjelasan Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah bagian Pokok Pikiran Ketiga menyatakan bahwa Muhammadiyah  dalam memahami atau istinbath hukum agama adalah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah shahih dengan mempergunakan akal pikiran yang cerdas dan bebas, dengan memakai cara yang menurut  istilahnya dinamakan Tarjih….Dengan demikian maka paham Muhammadiyah tentang agama adalah dinamis, berkembang maju dan dapat menerima perubahan-perubahan asal dengan hujjah dan alasan yang lebih kuat (selengkapnya lihat Haedar Nashir, Kuliah Kemuhammadiyahan, 2018). 

Kita ber-Muhammadiyah tentunya mempunyai harapan. Dan harapan itu bersesuaian dengan alinea terakhir Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah : “Maka dengan Muhammadiyah ini, mudah-mudahan umat Islam dapatlah mengantarkan ke pintu gerbang surga Jannatun Na’im dengan keridhaan Allah Yang Maha Rahman dan Rahim”. Aamiin. Wallahu a’lam.(*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡