Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Refleksi Puasa dalam Kehidupan Sosial

Iklan Landscape Smamda
Refleksi Puasa dalam Kehidupan Sosial
pwmu.co -
Profesor Ahmad Jainuri saat memberikan kajian subuh di masjid An-Nur Muhammadiyah Sidoarjo, Sabtu (1/3/2025) (Moh. Ernam/PWMU.CO)

PWMU.CO – Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan latihan spiritual untuk mencapai derajat takwa. Hal ini disampaikan dalam kajian Subuh di Masjid An-Nur Muhammadiyah Sidoarjo yang disampaikan oleh Profesor Ahmad Jainuri, Sabtu (1/3/2025).

“Tujuan puasa adalah untuk mencapai derajat takwa, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya,” ujar Jainuri. Ia menjelaskan bahwa sebagian orang mengartikan takwa dengan rasa takut. “Takut tidak bisa melaksanakan perintah Allah dan takut tidak bisa meninggalkan larangan-larangan-Nya,” tambahnya.

Puasa dalam Sejarah dan Dampak Sosial

Jainuri menjelaskan bahwa puasa telah menjadi bagian dari ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada umat terdahulu. Umat Nabi Musa diperintahkan berpuasa selama satu bulan penuh, tetapi mereka merasa kurang sehingga ditambah menjadi 40 hari. “Akibatnya, banyak yang jatuh sakit. Sebagai konsekuensinya, jika mereka sembuh, puasanya ditambah menjadi 50 hari,” lanjutnya.

Namun, lebih dari sekadar ritual, puasa memiliki dampak sosial yang luas. Ia menyoroti betapa sulitnya menerapkan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan kerja. “Ada kecenderungan seolah-olah etika dan moral Islam tidak berlaku di masyarakat. Aturan dibuat, tetapi banyak yang melanggarnya,” katanya.

Keyakinan terhadap Kehidupan Setelah Mati

Salah satu penyebab lemahnya penerapan nilai kejujuran adalah ketidakpercayaan sebagian orang terhadap kehidupan setelah mati. Jainuri mengutip penelitian yang dilakukan oleh Mahfud MD dan didukung oleh buku Life After Death karya Raymond Moody. Berdasarkan penelitian tersebut, dari 100 orang yang sempat meninggal lalu hidup kembali, 84 di antaranya mengalami pengalaman yang sama.

“Mereka naik ke dalam kegelapan, lalu menuju tempat yang terang, di mana semua perbuatan mereka ditampilkan sebelum akhirnya kembali ke dunia. Mereka melihat semua perbuatan mereka,” jelasnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Evaluasi Diri Setelah Ibadah

Lebih lanjut, Jainuri mengungkapkan bahwa nilai ibadah bukan hanya terletak pada saat pelaksanaannya, tetapi juga pada dampaknya setelah ibadah itu dilakukan. “Bukan hanya saat kita berpuasa kita dinilai, tetapi bagaimana perilaku kita setelahnya. Apakah kita bisa lebih jujur, disiplin, dan menegakkan nilai-nilai kebaikan?” tambahnya.

Seperti dalam shalat, ia mengajak untuk merenungkan apakah shalat yang dilakukan mampu tanha anil fahsyai wal munkar—mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sebab, ibadah dalam Islam memiliki dua dimensi, yaitu ritual dan sosial. Ibadah yang benar akan melahirkan kesalehan personal sekaligus kesalehan sosial. (*)

Penulis Moh. Ernam Editor Wildan Nanda Rahmatullah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu