Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rektor UM Surabaya Ajak Menguatkan Ketahanan Spiritual dan Pengendalian Diri di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
Rektor UM Surabaya Ajak Menguatkan Ketahanan Spiritual dan Pengendalian Diri di Era Digital
pwmu.co -
Ketua MPKU PWM Jatim Dr H Mundakir MKep FISQua (M Farid Achiyani/PWMU.CO)

PWMU.CO – Mengawali khutbahnya, Ketua MPKU PWM Jatim Dr H Mundakir MKep FISQua mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, dan Turmudzi. Diceritakan bahwa: setiap hari raya Idul Adha, Rasulullah Saw membeli dua ekor domba yang gemuk, bertanduk, dan berbulu putih bersih. Beliau mengimami salat dan berkhutbah.

Sesudah itu, Rasulullah mengambil seekor domba dan meletakkan kakinya di sisi tubuh domba seraya berkata, “Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad dan umat Muhammad.” Lalu Rasulullah menyembelih hewan itu dengan tangannya sendiri. Setelah itu, Beliau membaringkan domba yang lain dan berkata, “Ya Allah, terimalah ini dari umatku yang tidak mampu berkurban.” Sebagian dagingnya dimakan Rasulullah dan keluarganya, sisanya diberikan kepada fakir miskin yang membutuhkan.

Berdasarkan riwayat tersebut, para ulama menetapkan bahwa hukum berkurban sebagai ibadah sunnah muakkadah. Semenjak itu, maka seluruh umat Islam mengikutinya dengan menyembelih hewan kurban setiap Idul Adha.

Hari Raya Kurban dalam perjalanan spiritualitas Islam mempunyai makna teologis yang sangat penting. Bila dilihat dari asal katanya, kurban berasal dari kata: qoroba, yaqrobu, qurban, qurbanan, dan qirbanan, yang berarti “mendekatkan”, dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan mendekatkan diri kepada sesama manusia, khususnya mereka yang sengsara.

Bila ibadah puasa Ramadan mengajarkan kita merasakan lapar seperti yang dirasakan oleh orang-orang miskin dan mustadh’afin, maka pada ibadah kurban ini mengajarkan kita untuk mengajak mereka merasakan kenyang, makan daging kambing ataupun sapi yang mungkin jarang bahkan tidak pernah mereka makan sebelumnya, ujarnya di hadapan 700 jamaah salat Idul Adha di Lapangan Sawogaling Babat, Jumat (6/6/2025).

Menurut Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, dalam kehidupan kita banyak orang mendekatkan diri kepada Allah Swt. hanya dengan mengisi penuh masjid-masjid, ibadah haji, dan umrah berkali-kali. Padahal, Islam juga mengajarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengisi perut-perut yang kosong.

Ketika Nabi Musa As. bertanya, “Ya Allah, di mana aku harus mencari-Mu?” Allah menjawab, “Carilah Aku di tengah-tengah orang yang hatinya hancur, susah, sedih.”

Ketika Nabi Muhammad berdoa di kebun Utban bin Rabi’ah, Rasulullah memanggil Allah dengan sebutan, “Ya Rab al-Mustadh’afin! (Wahai Tuhan yang melindungi orang-orang tertindas).”

Dalam hadits qudsi diriwayatkan bahwa nanti pada hari kiamat, Allah mendakwa hamba-hamba-Nya: “Hai hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar dan kalian tidak memberi-Ku makanan. Dahulu Aku telanjang, kalian tidak memberi-Ku pakaian. Dahulu Aku sakit, dan kalian tidak memberi-Ku obat.”

Kemudian yang didakwa berkata: “Ya Allah, bagaimana mungkin kami memberimu makan, pakaian, dan obat, padahal Engkau adalah Rabbul ‘Alamin?” Lalu Allah Swt. bersabda: “Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, telanjang, dan sakit. Sekiranya kalian mendatangi mereka, mengenyangkan perut mereka yang lapar, menutup tubuh mereka yang telanjang, dan mengobati mereka yang sakit, niscaya kalian akan mendapatkan Aku di situ.”

Dalam konteks kehidupan di era digital seperti ini, ibadah kurban seyogianya bisa “menghilangkan atau membunuh” kebiasaan sia-sia yang banyak mudaratnya seperti menyebarkan berita hoaks, fitnah, adu domba, sifat iri, dengki, hasut, dan penyakit hati lainnya.

Ibadah kurban juga mengajarkan kepada kita untuk bisa mencegah dan menahan nafsu, mengendalikan diri dalam menggunakan gadget, smartphone yang terkadang tanpa sadar kita gunakan kapan saja, di mana saja, dan untuk apa saja.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Penggunaan gadget yang tidak terkontrol akan sangat berbahaya. Kemajuan teknologi ibarat pisau bermata dua: satu sisi menjadi peluang kemajuan, di sisi lain menjadi ancaman dalam kehidupan. Lihatlah, berapa banyak kejadian kriminal dan masalah kesehatan terjadi di masyarakat karena penyalahgunaan gadget ini.

Berbagai tindakan kriminal seperti judi online, penipuan, tawuran remaja karena saling ejek dan bullying melalui media sosial, perselingkuhan, penyimpangan seksual, bahkan pembunuhan terjadi sebagai akibat dari penggunaan smartphone ini.

Selain itu, masalah kesehatan jiwa seperti ketagihan bermain game online dan pornografi, terjadinya FOMO (fear of missing out, takut ketinggalan tren), juga terjadinya budaya flexing atau memamerkan kekayaan yang dimiliki merupakan gejala masalah kejiwaan yang dialami seseorang akibat penggunaan media digital yang tidak terkontrol.

Berdasarkan data dari RSJ Menur pada tahun 2023, pasien yang dirawat akibat penyalahgunaan gadget adalah 892 kasus pada triwulan I, meningkat menjadi 1.408 kasus pada triwulan II, dan pada triwulan III mencapai 2.465 kasus. Data tersebut diperkirakan terus meningkat pada tahun 2024.

Data tersebut menunjukkan bahwa penyalahgunaan gadget menjadi ancaman serius bagi kesehatan jiwa masyarakat kita. Data tersebut sejalan dengan penelitian Twenge & Campbell (2018) yang mengungkapkan bahwa kecanduan media sosial berkorelasi dengan meningkatnya depresi dan kecemasan, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Digital detox atau puasa digital kini menjadi bagian dari terapi psikologi modern, sejalan dengan semangat pengorbanan dalam Islam, terangnya.

Kemajuan teknologi ini akan sangat membantu dan menjadi peluang sangat besar untuk kemajuan dan kesejahteraan seseorang. Melalui media handphone pintar ini, orang bisa menjadi apa saja: bisa menjadi juragan tanpa harus dari keluarga kaya, menjadi artis tanpa harus pergi ke ibu kota, menjadi penyanyi terkenal tanpa harus casting di studio rekaman ternama, menjadi miliarder tanpa kelihatan kerjanya apa, menjadi pintar tanpa tahu belajar dari buku apa.

Siapa saja bisa berkesempatan menjadi kaya dan terkenal dengan kemajuan teknologi saat ini, tambah pria alumni SMA Muhammadiyah 1 Babat tahun 1993.

Di akhir khutbahnya, dikatakan ibadah kurban mengajarkan kepada kita untuk memperteguh keimanan dan ketaatan kita kepada Allah, sehingga kita mempunyai ketahanan spiritual yang kuat dalam menghadapi kehidupan yang fana ini.

Ibadah kurban mengajarkan kita untuk berani membuang, menghilangkan sifat tercela, perilaku yang tidak baik dan sia-sia. Ibadah kurban juga mengajarkan kita untuk terus meningkatkan rasa empati, kepedulian, dan kebermanfaatan kita kepada sesama. (*)

Penulis M Farid Achiyani Editor M Tanwirul Huda

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu