Kajian bertajuk “Relevansi Kerja dan Ibadah di Era Digital, Memperkuat Militansi Bermuhammadiyah” disampaikan oleh Drs. Nadjih Ihsan dalam Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), Jumat (23/1/2026).
Kajian yang diikuti seluruh guru dan karyawan itu berlangsung di Ruang Demokrasi lantai 2. Ustadz Nadjih Ihsan menegaskan bahwa eksistensi manusia sangat ditentukan oleh hasil kerja yang dilakukannya. Kerja bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan bentuk nyata keberadaan manusia.
“Manusia tidak akan mendapatkan apa pun kecuali dari apa yang ia usahakan sendiri,” ujar Nadjih Ihsan, yang juga mantan kepala Smamita.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah An-Najm ayat 39:
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.
Menurutnya, setiap pekerjaan, sekecil apa pun, tidak boleh dipandang remeh. Dampak dari sebuah pekerjaan, baik atau buruk, akan kembali kepada pelakunya sendiri, bukan kepada Allah SWT. Karena itu, Islam sangat memotivasi umatnya untuk bekerja secara optimal dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut, Nadjih Ihsan mencontohkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan utama.
“Rasulullah adalah sosok yang bekerja dan berdagang serta sangat menghargai hasil jerih payah seseorang. Bahkan, kritik kaum jahiliyah terhadap kenabian Rasulullah justru muncul karena beliau aktif bekerja dan berinteraksi di pasar sebagaimana manusia pada umumnya.”
Menurutnya, setiap pekerjaan sejatinya harus dipandang sebagai bagian dari ibadah. Jika pekerjaan diniatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT, tidak ada alasan untuk melakukannya secara asal-asalan.
Ia juga mengutip pandangan Ibnu Taimiyah yang mendefinisikan ibadah sebagai seluruh perkataan dan perbuatan, lahir maupun batin, yang dicintai dan diridai Allah SWT.
Dalam konteks ini, sikap ihsan menjadi kunci utama. Ihsan, yakni beribadah seolah-olah melihat Allah dan menyadari bahwa Allah selalu mengawasi, akan melahirkan kesungguhan, kehati-hatian, dan tanggung jawab dalam bekerja.
Sikap ihsan tidak hanya ditujukan kepada Allah, tetapi juga kepada sesama manusia dan rekan kerja, sebagaimana perintah Allah untuk berbuat baik kepada sesama.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya tauhid yang murni dalam membangun militansi berorganisasi, khususnya di Muhammadiyah. Tauhid tidak berhenti pada pengakuan akan keesaan Allah, tetapi menjadi orientasi utama dalam seluruh gerak kehidupan dan amal ibadah manusia.
“Tauhid yang murni akan melahirkan kerja nyata sebagai wujud penghambaan kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan pandangan Muhammadiyah, sebagaimana disampaikan Prof. Dr. Haedar Nashir, bahwa tauhid tidak hanya bersifat vertikal antara hamba dan Allah, tetapi juga horizontal dalam relasi sosial antar manusia.”
Pesan KH Ahmad Dahlan, “Agama Islam itu tidak hanya begitu-begitu saja,” kembali ditegaskan sebagai pengingat bahwa Islam harus diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan.
Implementasi tauhid inilah yang menjadikan Muhammadiyah berhasil melahirkan berbagai amal usaha, seperti rumah sakit, sekolah, panti asuhan, dan perguruan tinggi.
Dalam menutup kajiannya, Nadjih Ihsan menegaskan bahwa setiap individu yang terlibat dan mendukung Amal Usaha Muhammadiyah memiliki kewajiban moral untuk mengemban misi utama persyarikatan.
“Yakni menegakkan tauhid yang murni, menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta mewujudkan amal Islami dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.”
Sementara itu, Direktur Smamita, Edwin Yogi Laayrananta, M.I.Kom., menjelaskan Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ini menjadi ruang penting untuk menyegarkan niat, memperkuat pemahaman keislaman, serta meneguhkan jati diri sebagai insan Muhammadiyah.
“Saya berharap seluruh civitas Smamita, guru dan karyawan, tidak hanya memahami nilai-nilai AIK secara teori, tetapi mampu mengimplementasikannya dalam sikap, etos kerja, dan kehidupan sehari-hari, khususnya sebagai pendidik.”
“Melalui Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ini, kita bersama-sama membangun sekolah yang unggul secara akademik, kokoh secara spiritual, dan berkemajuan dalam amal nyata,” pungkas Edwin.
Kajian ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa kerja dan ibadah adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sekaligus memperkuat semangat militansi bermuhammadiyah di tengah tantangan era digital. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments