
Remaja pemburu foto bus muncul dalam dunia medsos selain komunitas bus malam.
PWMU.CO- Ketika bus Lazismu Jatim masuk Asrama Haji Pondok Gede Jakarta langsung diserbu remaja membawa kamera. Mengambil foto dengan berbagai gaya. Mereka membuntuti bus hingga ke tempat parkir di gedung tempat Rakernas Lazismu 2022, Jumat (10/12/2021).
Gaya remaja juga aneh-aneh. Ada yang berambut gimbal, bersarung, berkaos metalika, yang terus berlari-lari mengejar bus. Memotret dari berbagai sudut bagian bus.
Semula para remaja ini dikira fotografer Asrama Haji. Kameranya pakai DLSR. Bus Scania yang dipakai rombongan Lazismu Jatim ini milik UMJ Trans. Ada label besar di bodi bus tulisan: Universitas Muhammadiyah Jember.
Ternyata para remaja ini fotografer pemburu bus luar kota yang masuk Jakarta. Mereka nyanggong di Asrama Haji yang sering didatangi rombongan bus luar kota. Mereka memburu bus untuk membuat konten medsosnya.
“Kami senang memfoto bus-bus, terutama dengan plat nomor dari luar kota,” ujar Ausaf Ananta, salah satu fotografer yang didapuk menjadi juru bicara. Foto-foto itu diunggah di Instagram.
Objek foto mereka memang tidak lazim. Tidak seperti objek fotografer profesional dengan objek alam, berita, atau hewan hewan liar di hutan. Tapi malah bus. “Kami menamakan diri Fotografer Bus,” tutur Ausaf ketika ditanya apa nama kegiatan atau profesi yang mereka tekuni.
Tidak ada niatan awalnya untuk membentuk komunitas. Berawal dari kesenangan memfoto bus, kemudian mereka bertemu satu sama lain.
“Dari pertemuan satu atau dua orang, kemudian kami sepakat untuk membentuk komunitas fotografer bus ini,” ungkap Ausaf yang tergabung dalam PGHB (Pondok Gede Hunting Bus).
Ternyata tidak lama berselang setelah mereka meninggalkan lokasi, berdatangan para fotografer lain yang juga memfoto bus Lazismu yang teparkir di depan aula lokasi Rakernas Lazismu. Memfoto bus ternyata telah menjadi sebuah hobi yang kemudian ditekuni oleh banyak remaja.
Boleh jadi tidak ada keuntungan finansial dari kegiatan ini. Ausaf mengaku, mereka melakukannya demi hobi semata. “Keuntungannya menambah teman, berawal dari gak kenal jadi kenal. Nah udah kenal makin akrab, saling silaturahmi, saling sharing dunia perbisan,” tutur Ausaf.
Mereka mengetahui kedatangan bus ini dari grup WA. Mereka pun juga telah menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan bus.
“Armada bus ini menginfokan jadwal kedatangan bus kemudian kami share dalam grup WA,” ungkap Ausaf.
Sebagai remaja usia sekolah, pendidikan tetap mereka jalankan. Hobi ini tidak mengganggu jadwal sekolah atau kuliah. Komunitas Ausaf berada pun telah hamper empat tahun ini.
“Kami mengunggah foto-foto bus ini di Instagram dan kami saling berbagi foto-foto bis yang kami ambil,” ungkap Ausaf yang kini telah semester I berkuliah pada jurusan ekonomi di salah satu kampus di Jakarta.
“Bapak mau membeli kaos kami? Ada pilihan L dan XL,” ungkap Ausaf menawarkan kaos komunitas mereka. Salah satu efek dari terbentuknya komunitas ini adalah usaha berjualan kaos komuntas ini.
Namun memang di generasi Z ini bisa muncul beragam profesi yang mungkin tidak pernah terpikirkan bagi generasi sebelumnya.
Penulis Kumara Adji Editor Sugeng Purwanto





0 Tanggapan
Empty Comments