Waktu ternyata begitu cepat, ya? Rasanya baru kemarin kita menyambut Ramadan dengan penuh harap dan doa.
Kini, ia hampir pamit meninggalkan kita.
Malam-malamnya yang syahdu, harinya yang penuh berkah, detik-detiknya yang membawa ampunan, semua perlahan akan berlalu.
Di awal Ramadan, kita begitu bersemangat. Bangun sahur terasa ringan, bahkan tanpa alarm. Masjid lebih ramai, tilawah Al-Qur’an terasa lebih akrab di hati. Kita menata niat, menyusun target, berjanji dalam diam untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun seiring hari berganti, realitas kehidupan kembali menarik kita. Pekerjaan menumpuk, urusan dunia tak pernah benar-benar berhenti. Ada yang mulai melewatkan tarawih, ada yang menunda tilawah, bahkan ada yang kembali larut dalam kebiasaan lama.
Pernahkah kita seperti itu?
Ketika di awal begitu dekat, tapi di akhir justru terasa menjauh?
Tapi pertanyaannya,
pernahkah terlintas di benak terdalam, apakah aku sudah cukup menghargai kehadirannya?
Ataukah kita terlalu sibuk, sehingga lupa memberi ruang untuk mendekatkan diri kepada Rabb kita?
Bayangkan seorang ibu yang setiap malam di Ramadhan bangun lebih awal, menyiapkan sahur untuk keluarganya. Di sela-sela kesibukannya, ia sempatkan berdoa dengan lirih, memohon kebaikan untuk anak-anaknya. Namun di sepuluh hari terakhir, kelelahan mulai terasa. Ia tetap bangun, tapi doanya tak lagi sepanjang sebelumnya.
Atau seorang pekerja yang di awal Ramadan rajin ke masjid, tapi di penghujung bulan mulai memilih beristirahat karena tubuh lelah. Ia berkata dalam hati, “Besok saja aku lebih baik.”
Padahal, justru di akhir Ramadanlah terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Ramadhan ini bisa jadi yang terakhir kamu jumpai dalam hidupmu. Siapa yang bisa memastikan kita akan bertemu lagi tahun depan?
Ada orang yang tahun lalu masih bersama kita, duduk satu saf di masjid, berbuka di meja yang sama. Kini, mereka hanya tinggal nama dan kenangan.
Ramadan terus datang, tapi tidak semua orang diberi kesempatan untuk menyambutnya kembali.
Coba renungkan sesaat, sudahkah kita berusaha menjadi hamba yang lebih baik?
Atau sudahkah kita memeluk kembali doa-doa yang sempat tercecer?
Mungkin ada doa yang pernah kita panjatkan dengan penuh harap—tentang keluarga, tentang rezeki, tentang kesehatan, tentang ampunan—lalu kita lupa melanjutkannya.
Mungkin ada air mata yang pernah jatuh di sepertiga malam, tapi kini mata itu lebih sering terpejam tanpa sempat berdoa.
Sisa waktu ini, mari kita habiskan dengan doa yang tulus, istighfar yang khusyuk, dan harapan yang besar.
Walau hanya beberapa malam tersisa, jangan pernah merasa terlambat.
Sebab bisa jadi, satu malam yang penuh keikhlasan lebih bernilai daripada banyak malam yang berlalu tanpa kesungguhan.
Jangan biarkan Ramadan pergi begitu saja tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita.
Minimal, ada satu kebiasaan baik yang kita bawa setelah ia pergi.
Minimal, ada satu dosa yang benar-benar kita tinggalkan.
Minimal, ada satu doa yang kita perjuangkan sampai dikabulkan.
Sebab, Ramadan tak menjanjikan pertemuan berikutnya, tapi ia selalu meninggalkan jejak untuk kita kenang dan merenungkannya.
Semoga Allah menerima amal kita, memaafkan kekurangan kita, dan mempertemukan kita lagi dengan Ramadan yang lebih indah di tahun mendatang. Aamiin.
“Ya Allah, sungguh Engkau adalah Zat yang Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan. Oleh karena itu, maafkanlah aku.”
Yaa Allah, tolonglah kami agar selalu berzikir kepada-Mu, bersyukur atas limpahan nikmat-Mu, dan membaguskan ibadah kami kepada-Mu. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments