Upaya menjaga keberlanjutan kesenian Reog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia terus dilakukan oleh Tim peneliti Program Studi Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo), Kamis (14/8/2025).
Mereka memulai langkah strategis melalui Focus Group Discussion (FGD) bertema Bentuk Pola Asuh Anak Seniman Reog Ponorogo di Hotel Amaris Ponorogo.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari riset pengembangan Integrative Ethno-Parenting Ponoragan Model (IEPPM), konsep pengasuhan berbasis budaya lokal yang dirancang untuk memperkuat peran keluarga seniman sebagai pewaris nilai dan karakter Reog. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Ardhana Januar Mahardhani M.KP dosen Magister Pedagogi Umpo.
FGD menghadirkan berbagai pihak yang berkompeten, di antaranya Marji S.Pd perwakilan keluarga seniman Reog, Dedy Satya Amijaya M.Sn praktisi dan seniman, serta Kusnin M.Pd Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo.
Melalui diskusi ini, para peserta mengulas bagaimana nilai-nilai Reog seperti keberanian, tanggung jawab, dan kedisiplinan diwariskan dalam lingkungan keluarga dan komunitas seni.
“Keluarga merupakan pusat pertama pendidikan budaya Reog. Dari rumah, anak-anak belajar menghormati leluhur dan mencintai tradisi Ponoragan,” ujar Dr. Ardhana.
Melalui pendekatan etnografi, tim peneliti menggali praktik komunikasi keluarga, pendidikan nonformal, dan dukungan kebijakan yang memperkuat pelestarian budaya lokal.
Sebagai kelanjutan, FGD kedua bertema Pola Etnoparenting Ponoragan digelar pada Jumat (22/8/2025) di Red Go Ponorogo. Kegiatan ini menghadirkan Yeni Rachmawati M.Pd Ph.D dari Lembaga Etnoparenting Indonesia.
Diskusi tersebut menyoroti sinergi antara teori etnoparenting nasional dan praktik pengasuhan khas Ponoragan yang berakar pada filosofi Reog. Dari hasil kedua FGD tersebut, disimpulkan pentingnya dukungan kebijakan untuk memperkuat peran keluarga dan komunitas budaya.
Model IEPPM menawarkan integrasi antara tiga pilar utama: keluarga sebagai penjaga nilai, komunitas sebagai ruang pembelajaran budaya, dan pemerintah sebagai penopang kebijakan keberlanjutan.
Riset yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini diharapkan mampu menjadi inspirasi kebijakan pendidikan berbasis budaya lokal di Indonesia.
“Etnoparenting Ponoragan bukan sekadar pola asuh, tetapi strategi membangun peradaban melalui sinergi keluarga, budaya, dan kebijakan bangsa,” tegas Dr. Ardhana.






0 Tanggapan
Empty Comments