Menyikapi peristiwa ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pada Senin (29/9/2025) sore, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur segera bergerak memberikan respons tanggap darurat.
Berdasarkan laporan MDMC, insiden tersebut terjadi ketika para santri sedang melaksanakan salat Asar berjamaah. Lantai tiga bangunan yang masih dalam tahap pengecoran tiba-tiba runtuh hingga menyebabkan ratusan santri tertimpa reruntuhan. Data sementara mencatat sedikitnya 88 korban jiwa dengan rincian satu meninggal dunia, puluhan mengalami luka-luka, dan sebagian besar sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Evakuasi korban hingga Selasa (30/9/2025) masih terus dilakukan. Tim gabungan dari Basarnas, BPBD Kabupaten dan Provinsi, RSUD Sidoarjo, kepolisian, serta relawan NU dan Muhammadiyah terlibat aktif dalam pencarian korban yang diduga masih terjebak di bawah reruntuhan.
Dalam menghadapi situasi ini, MDMC Sidoarjo merumuskan beberapa langkah tindak lanjut yang melibatkan berbagai unsur persyarikatan Muhammadiyah. Rapat koordinasi dijadwalkan pada Selasa (30/9/2025) pukul 09.00 WIB di Kantor PDM Sidoarjo dengan melibatkan PDM, PDA, Lazismu, AMM, DMC Siti Khadijah, DMC Siti Fatimah, serta Umsida.
Hasil koordinasi mencakup tiga agenda utama. Pertama, pendirian posko koordinasi (poskor) di Kantor PDM dengan menugaskan dua petugas standby. Kedua, pendirian dapur umum di lokasi kejadian oleh Lazismu untuk mendukung kebutuhan konsumsi para korban dan relawan. Ketiga, menyiagakan ambulans dan tenaga kesehatan di lokasi dengan sistem koordinasi bersama poskor.

MDMC Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak dalam upaya penyelamatan korban dan pemulihan pasca bencana.
“Kami memastikan relawan Muhammadiyah akan terus berada di lapangan hingga situasi dinyatakan aman,” demikian pernyataan resmi MDMC Jatim. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments