
Virtual meeting Baitul Arqom PDM Kota Kediri bersama Ketua MPKSDI PWM Jawa Timur, Dr phil Mohammad Rokib SS MA, Rabu (02/07/2025). (Putra Bintan/PWMU.CO).
PWMU.CO – Suasana Rabu malam (02/07/2025) di Kota Kediri sarat akan gelora semangat membangun pendidikan.
Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri membuka rangkaian kegiatan strategis Baitul Arqom 2025 lewat platform virtual.
Acara pembuka yang mengusung tema tajam Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah ini langsung memantik diskusi kritis dengan menghadirkan pembicara kunci. Yaitu Ketua Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PWM Jawa Timur Dr phil Mohammad Rokib SS MA.
Ketimpangan Nasional Sekolah Muhammadiyah
Peserta Baitul Arqom dari berbagai penjuru menyimak virtual saat Rokib membuka tabir fakta kritis yang menjadi landasan urgensi revitalisasi. Paparannya mengungkap data mengejutkan yang memetakan ketimpangan kualitas sekolah Muhammadiyah secara nasional. Antara lain:
- Skala Kecil yang Mengkhawatirkan: Sebanyak 38 persen atau 2.032 unit sekolah Muhammadiyah hanya memiliki siswa di bawah 100 orang. Data ini menjadi cermin nyata tantangan daya tarik dan kualitas yang dihadapi hampir 4 dari 10 lembaga pendidikan persyarikatan.
- Minoritas yang Unggul: Hanya 20% atau 1.069 unit sekolah yang masuk kategori unggul (klaster 3) dengan jumlah siswa lebih dari 400 orang. Artinya, mayoritas besar sekolah masih berjuang di level menengah ke bawah.
- Polarisasi Akut: Rokib menyoroti fenomena memprihatinkan, yakni sekolah menolak vs. ditolak siswa. Ketimpangan ini menunjukkan jurang lebar antarlembaga pendidikan Muhammadiyah sendiri.
- “Regenerasi guru dan kaderisasi menjadi titik lemah terbesar kita. Sementara itu, adaptasi terhadap disrupsi teknologi masih sangat lambat” tegas Rokib dalam sesi yang terpimpin Moderator Ahmad Nuryani dengan nada serius. Dua tantangan pokok ini, menurutnya, memperparah ketimpangan yang terpapar dalam data.
Pendidikan Islam Berkemajuan: Solusi Integratif
Menjawab tantangan berat tersebut, Rokib tak sekadar mengkritik. Ia menawarkan konsep solutif “Pendidikan Islam Berkemajuan” sebagai poros revitalisasi, dengan tiga pilar utama. Yaitu:
- Integrasi Digital dan Ruhaniyah: Menyeimbangkan kecepatan transformasi teknologi dengan pendalaman nilai spiritual. Pendidikan Muhammadiyah harus lincah beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
- Revitalisasi Peran Guru: Membangun sistem kaderisasi guru berkelanjutan dan peningkatan kompetensi digital pendidik secara masif. Guru adalah ujung tombak perubahan.
- Transformasi Model Sekolah: Mengubah paradigma dari sekolah biasa menjadi pusat inovasi yang relevan dengan kebutuhan zaman, mampu menjadi magnet bagi peserta didik dan masyarakat.
Antusiasme Peserta dan Komitmen Berlanjut
Sesi diskusi yang berlangsung interaktif membuktikan tingginya antusiasme peserta menyikapi paparan kritis dan solusi yang ditawarkan.
Acara virtual ini sukses menjadi pemanasan intelektual sebelum rangkaian Baitul Arqom 2025 memasuki tahap inti secara luring di Yogyakarta pada Sabtu-Minggu (05-06/07/2025) mendatang.
“Revitalisasi bukan sekadar wacana, tapi aksi nyata. Muhammadiyah harus memimpin perubahan pendidikan yang manusiawi dan teknologis” pungkas Rokib menutup materinya, menggaungkan semangat pergerakan.
Sebagai program kaderisasi strategis Muhammadiyah, Baitul Arqom 2025 mempertegas komitmen organisasi dalam memperkuat visi keumatan dan kebangsaan. Sekaligus menjawab tantangan pendidikan di era disruptif dengan langkah konkret dan pemikiran segar.
Pembukaan virtual di Kediri telah menyalakan api semangat pertama untuk transformasi pendidikan yang lebih bermartabat dan berkemajuan.
Penulis Putra Bintan, Editor Danar Trivasya Fikri






0 Tanggapan
Empty Comments