Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Revolusi Keranjang Kuning

Iklan Landscape Smamda
Revolusi Keranjang Kuning
Dr. Anwar Hariyono
Oleh : Dr. Anwar Hariyono.SE., M. Si., CIAP., QRMP Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik
pwmu.co -

Jika kita berdiri di pinggir jalan raya Manyar atau Driyorejo, Gresik, pemandangan truk pabrik yang berlalu-lalang mungkin sudah biasa.

Namun, ada pemandangan lain yang kini makin mendominasi jalanan perumahan kita: armada kurir paket yang tak henti-hentinya mengantar barang.

Fenomena ini bukan kebetulan. Ini adalah wajah baru ekonomi kita sebuah perpaduan antara kekuatan industri lokal yang kokoh dan gelombang digital nasional yang sedang meledak.

Data terbaru membuktikan bahwa kita sedang berada di tengah “pesta belanja” digital yang gila-gilaan.

Secara nasional, pasar e-commerce Indonesia telah tumbuh dengan kecepatan yang mencengangkan, mencapai nilai US$ 61,1 miliar (sekitar Rp 900 triliun) pada tahun 2024.

Bayangkan, angka ini tumbuh rata-rata 21,8% setiap tahunnya sejak 2020. Sementara toko fisik (offline) hanya tumbuh merayap di angka 2,7%, pasar online justru berlari kencang, meninggalkan metode belanja konvensional di kaca spion.

Lalu, siapa pelaku utama di balik angka raksasa ini? Jawabannya ada di sekitar kita: kelas menengah baru yang sedang bangkit.

Di Gresik, kita sudah melihat data bahwa 50,98% pengeluaran warga kini habis untuk kebutuhan non-makanan. Hal ini klop dengan tren nasional di mana pendapatan yang bisa dibelanjakan (disposable income) diproyeksikan tumbuh melampaui rata-rata Asia Pasifik.

Kelas menengah kita yang didominasi oleh Milenial dan Gen Z kini memegang kendali. Mereka adalah konsumen cerdas yang “melek teknologi”, mengutamakan kenyamanan, namun tetap perhitungan soal harga.

Perilaku belanja mereka pun unik. Warga kita mungkin bekerja keras di pabrik-pabrik canggih di Gresik, namun saat istirahat, jari mereka menari di layar ponsel, berburu diskon di Shopee, Tokopedia, atau mengejar promo “keranjang kuning” di TikTok Shop yang kini menguasai sepertiga pasar.

Mereka mencari barang berkualitas tapi murah, membandingkan harga di lima toko berbeda sebelum memutuskan membeli skincare atau camilan.

Satu hal yang mengejutkan adalah pergeseran pola makan. Dulu, kita mungkin berpikir e-commerce hanya untuk baju atau gawai. Salah besar.

Penjualan makanan dan minuman secara online justru tumbuh paling ganas dengan rata-rata 33,5% per tahun.

Orang kini lebih suka membeli bumbu, saus, hingga camilan impor secara online karena praktis. Bahkan, produk makanan sehat dan bersertifikat halal menjadi primadona baru, menunjukkan bahwa konsumen kita makin sadar kesehatan di tengah gempuran diskon.

Namun, kondisi hari ini ironi serta menarik di sini. Meskipun daya beli meningkat, konsumen Indonesia termasuk di Gresik sangat sensitif terhadap harga.

Laporan menunjukkan bahwa mayoritas produk makanan baru yang laku keras di online adalah yang harganya di bawah US$ 6 (sekitar Rp90.000).

Kita menyukai barang bagus, tapi kita lebih menyukai barang murah. Platform e-commerce pun merespons ini dengan “membakar uang” lewat fitur live shopping dan gratis ongkir untuk memanjakan hasrat belanja kaum “mendang-mending” ini.

Apa artinya semua ini bagi masa depan kita?

Gresik, dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang tinggi dan infrastruktur internet desa yang sudah 4G, berada di posisi strategis untuk menunggangi gelombang ini.

Kita bukan lagi sekadar kota produsen yang mengirim barang mentah keluar. Warga kita adalah konsumen aktif yang menggerakkan roda ekonomi digital nasional.

Pemerintah memprediksi ekonomi digital ini akan terus tumbuh hingga dua kali lipat menjadi US$ 123 miliar pada 2029.

Bagi pelaku usaha lokal di Gresik, ini adalah alarm bangun pagi dengan rencana yang terukur. Toko kelontong dan UMKM kuliner tidak bisa lagi hanya mengandalkan pembeli yang lewat di depan etalase. Mereka harus masuk ke layar ponsel, memasang label “Halal”, dan bersaing di arena digital.

Pada akhirnya, transformasi ini tak terbendung. Dari buruh pabrik hingga pegawai kantoran, kita semua kini adalah warga negara digital yang menuntut segala sesuatunya cepat, murah, dan sampai di depan pintu rumah.

Selamat datang di era algoritma intelegence, di mana kesejahteraan diukur bukan hanya dari apa yang kita produksi, tapi dari seberapa mudah kita mengakses dunia lewat ujung jari. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu