Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rezeki Tak Sekadar Ikhtiar, tapi Juga Istighfar

Iklan Landscape Smamda
Rezeki Tak Sekadar Ikhtiar, tapi Juga Istighfar
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Dorongan mencari rezeki kerap membuat banyak orang terpental dari jalan yang lurus. Ambisi untuk hidup berkecukupan, keinginan cepat kaya, atau tekanan kebutuhan sehari-hari tidak jarang menjerumuskan seseorang pada cara-cara yang melanggar nilai moral dan agama.

Padahal, Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga memberikan panduan komprehensif dalam urusan ekonomi, sosial, dan pencarian rezeki, agar manusia tetap berada dalam koridor keimanan dan ketakwaan.

Salah satu solusi spiritual yang sangat ditekankan Islam dalam upaya melapangkan rezeki adalah memperbanyak istighfar.

Istighfar bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi kesadaran mendalam akan keterbatasan diri, pengakuan atas dosa dan kelalaian, serta tekad untuk kembali kepada Allah dengan memperbaiki amal dan perilaku hidup.

Allah Ta‘ala berfirman melalui lisan Nabi Nuh ‘alaihissalam:

“Aku (Nabi Nuh) berkata (kepada mereka), ‘Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu’.” (QS. Nuh: 10–12)

Ayat ini menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa istighfar memiliki dampak luas dalam kehidupan manusia. Ia bukan hanya membersihkan dosa, tetapi juga menjadi sebab turunnya hujan, terbukanya pintu rezeki, bertambahnya keturunan, suburnya kebun, serta mengalirnya sungai-sungai—simbol kemakmuran dan keberlanjutan hidup.

Dalam konteks masyarakat agraris maupun modern, hujan dan air adalah sumber kehidupan, sementara harta dan keturunan merupakan pilar kesejahteraan dan masa depan.

Para ulama tafsir menegaskan bahwa hubungan antara istighfar dan rezeki bukanlah hubungan simbolik semata, melainkan sunnatullah.

Dosa dan maksiat menjadi penghalang datangnya keberkahan, sementara tobat dan istighfar membuka pintu rahmat Allah.

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan siapa saja yang memperbanyak istighfar dan taat kepada Allah, niscaya Allah akan melapangkan rezekinya dari arah yang tidak disangka-sangka.

Kisah yang sangat masyhur terkait hal ini diriwayatkan dalam Tafsir al-Qurthubi. Suatu hari, ada seseorang mengadu kepada ulama besar tabi‘in, al-Hasan al-Bashri, tentang lamanya paceklik dan sulitnya kehidupan. Tanpa panjang lebar, beliau menasihati, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Tak lama berselang, datang orang lain mengeluhkan kemiskinan dan sempitnya rezeki. Al-Hasan al-Bashri kembali memberi jawaban yang sama, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Kemudian datang orang ketiga yang meminta didoakan agar dikaruniai anak. Beliau pun menimpali dengan nasihat serupa, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ar-Rabi‘ bin Shabih yang menyaksikan peristiwa itu merasa heran. Ia bertanya, “Mengapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar, padahal masalah mereka berbeda-beda?”

Dengan penuh ketenangan, al-Hasan al-Bashri menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Sungguh Allah Ta‘ala telah berfirman dalam surah Nuh,” lalu beliau membacakan ayat 10–12.

Kisah ini memberikan pelajaran penting bahwa istighfar adalah solusi universal bagi berbagai persoalan hidup. Ia menjadi jalan keluar bagi krisis ekonomi, kebuntuan usaha, keringnya hati, bahkan harapan memiliki keturunan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ilustrasi manfaat istighfar dapat kita temukan dengan mudah. Seorang pedagang yang jujur, namun usahanya terasa stagnan, ketika ia memperbanyak istighfar, memperbaiki niat, dan menjauhi kecurangan, sering kali mendapati usahanya perlahan bangkit dan dipercaya lebih banyak pelanggan.

Seorang pegawai yang merasa kariernya buntu, ketika ia memperbanyak istighfar dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama, sering kali Allah bukakan jalan melalui kesempatan yang tak terduga.

Bahkan dalam kehidupan keluarga, istighfar mampu melembutkan hati, meredam emosi, dan menghadirkan ketenangan yang menjadi fondasi kebahagiaan rumah tangga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, meskipun beliau adalah manusia yang maksum, tetap memperbanyak istighfar. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, beliau bersabda:

“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari seratus kali.”

Jika Rasulullah saja memperbanyak istighfar, maka terlebih lagi kita yang penuh dengan kekhilafan dan dosa. Oleh karena itu, memperbanyak istighfar seharusnya menjadi kebiasaan harian, bukan hanya saat ditimpa kesulitan, tetapi juga ketika lapang dan senang.

Pada akhirnya, istighfar adalah kunci keberkahan hidup. Ia bukan pengganti ikhtiar, melainkan ruh yang menghidupkan ikhtiar itu sendiri.

Dengan istighfar, rezeki menjadi lebih bersih, hidup lebih tenang, dan langkah-langkah kita senantiasa berada dalam rida Allah Ta‘ala. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu