Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ribuan Peserta Semarakkan Karnaval Kostum Bebas di Jambore Hizbul Wathan Wotan

Iklan Landscape Smamda
Ribuan Peserta Semarakkan Karnaval Kostum Bebas di Jambore Hizbul Wathan Wotan
Para peserta Karnaval Kostum Bebas (Arifiyanto/PWMU.CO)
pwmu.co -

Suasana penuh warna, tawa, dan kreativitas meledak di halaman Perguruan Muhammadiyah Wotan, Panceng, Gresik, pada Selasa siang (26/8/2025).

Ribuan peserta dari berbagai usia memadati area sekolah dalam kemeriahan Karnaval Kostum Bebas, salah satu agenda unggulan pada Pekan Jambore Hizbul Wathan (HW) Perguruan Muhammadiyah Wotan ke-19.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang mengusung tema budaya daerah, kali ini karnaval mengangkat tema “Kostum Bebas: Ekspresikan Imajinasi, Wujudkan Kreativitas!”, yang membuka ruang seluas-luasnya bagi peserta untuk berkreasi tanpa batas.

Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, seluruh peserta tampil dengan cara yang unik, imajinatif, dan penuh kejutan.

Karnaval yang dimulai tepat pukul 13.30 WIB ini diikuti oleh ratusan siswa dari jenjang PAUD, MI, hingga MTs, bersama para guru, karyawan, wali murid, serta organisasi otonom Muhammadiyah Ranting Wotan, seperti Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan IPM.

Mereka semua berkumpul dalam satu semangat: memamerkan hasil karya berupa kostum yang dibuat dari bahan bekas dan ramah lingkungan.

Mulai dari gaun Noni Belanda yang terbuat dari kertas daur ulang, aksesori kendaraan perang dari kardus, replika jagung raksasa dari botol dan kardus bekas, hingga tokoh superhero lokal dan internasional versi sendiri, semuanya tampil mencolok dan memukau.

Tak sedikit pula yang tampil dengan tema futuristik, sains, atau representasi nilai-nilai Islami.

“Kami sengaja memilih tema kostum bebas agar peserta bisa menyalurkan imajinasi mereka. Tidak ada batasan, hanya satu syarat: semua bahan harus dari barang bekas,” ujar Ketua Panitia, Nur Syahid.

Ia juga menyampaikan keinginannya untuk menanamkan nilai-nilai inovasi, tanggung jawab terhadap lingkungan, dan keberanian dalam berekspresi sejak dini.

Karnaval ini juga menjadi ajang perlombaan kostum terbaik yang dibagi dalam beberapa kategori. Siswa kelas 1 dan 2 MI mengikuti lomba sepeda hias, sementara siswa kelas 3 MI hingga kelas 9 MTs, serta peserta umum, mengikuti lomba kostum bebas paling kreatif.

Penilaian didasarkan pada aspek kreasi, kekompakan, pemanfaatan bahan bekas, pesan yang disampaikan, dan orisinalitas ide.

Pada kegiatan ini, para peserta melakukan parade keliling desa Wotan, menampilkan kostum mereka di hadapan warga masyarakat desa Wotan yang berbaris di sepanjang jalan.

Beberapa penampilan bahkan disambut tepuk tangan meriah, terutama dari siswa PAUD yang tampil menggemaskan dengan tampilan kostum drumband sembari membawa alat musik dari bahan daur ulang.

Salah satu siswi kelas VIII MTs Muhammadiyah 9 Wotan, Suhayani Cantika Ramadhani, tampil percaya diri dengan kostum gaun Noni Belanda.

“Aku memakai kostum Noni Belanda yang terbuat dari kardus dan plastik bekas. Kostum ini dibuat untuk menyampaikan pesan agar masyarakat Indonesia tidak melupakan sejarah penjajahan oleh Belanda. Seru banget bikin kostum ini bareng teman-teman,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Sementara itu, antusiasme dari kalangan orang tua tak kalah meriah. Banyak wali murid turut tampil mengenakan kostum unik buatan sendiri, mulai dari kostum ondel-ondel hingga tokoh-tokoh dongeng.

Sementara itu, Ketua Ikatan Wali Murid (Ikwam) MI Muhammadiyah 4 Wotan, Sulis Dyawati, menyampaikan bahwa lomba ini merupakan ajang yang positif bagi semua pihak.

“Anak-anak senang, orang tua juga semangat. Ini bukan sekadar lomba, tapi juga ajang untuk berkumpul, berkreasi, dan belajar bersama. Kami sangat mendukung acara seperti ini!.” terangnya.

Setelah seluruh peserta tampil dan dinilai, panitia menggelar sesi doorprize dengan ratusan hadiah menarik, seperti voucher uang tunai, kipas angin, kompor, hingga berbagai peralatan rumah tangga lainnya. Suasana semakin meriah dengan teriakan riuh peserta saat proses pengundian berlangsung.

Acara ini ditutup dengan pengumuman pemenang lomba kostum terbaik, baik dari kategori siswa maupun umum. Para juara menerima piala dan bingkisan sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan kerja keras mereka.

Karnaval ini bukan sekadar ajang untuk tampil mencolok di depan publik, tetapi juga merupakan wadah pembelajaran tentang tanggung jawab terhadap lingkungan, kerja sama tim, ekspresi diri, serta kebanggaan menjadi bagian dari komunitas yang saling mendukung.

“Kami ingin anak-anak belajar bahwa menjadi kreatif tidak harus mahal. Kita bisa membuat hal luar biasa dari barang yang sering kita buang. Ini juga bagian dari pendidikan karakter dan cinta lingkungan,” pungkas Nur Syahid.

Dengan kegiatan ini, Perguruan Muhammadiyah Wotan membuktikan bahwa pendidikan yang menyenangkan, kreatif, dan bermakna bisa dilakukan di luar kelas, di tengah tawa, warna, dan semangat kolaborasi yang hidup. (*)

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu