Libur Idul Fitri 1447 H telah tiba. Suasana Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, yang biasanya tertib dan tenang mendadak berubah ramai pada Ramadan hari ke-20, Senin (9/3/2026).
Sejak dini hari, deretan mobil dari berbagai kota mulai memadati gerbang utama pondok yang berada di depan Kantor Sekretariat Al-Ishlah hingga area lapangan. Bahkan, beberapa wali santri sudah datang sejak pukul 01.00 dini hari sambil membawa bekal sahur.
Petugas satgas, satpam, dan para ustadz tampak sigap mengatur arus kendaraan di sejumlah titik yang rawan kemacetan. Kepadatan kendaraan tak terhindarkan, namun suasana tetap terkendali.
Di balik ramainya kendaraan dan hiruk pikuk aktivitas, tersimpan satu hal yang sama: kerinduan. Para wali santri datang dengan harapan yang sama, yaitu segera bertemu dengan putra-putri mereka setelah menjalani aktivitas belajar di pondok.
Sebagian dari mereka rela menempuh perjalanan jauh sejak tengah malam. Sahur di perjalanan pun dijalani demi menjemput anak dan segera pulang berkumpul bersama keluarga di rumah saat libur Idul Fitri.
Di sisi lain, para santri juga tampak hilir mudik membawa tas berisi pakaian dan barang pribadi. Sebelum meninggalkan pondok, mereka harus menyelesaikan proses administrasi perpulangan, mulai dari menandatangani daftar kepulangan hingga mendapatkan Surat Keterangan Jalan (SKJ). Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap santri benar-benar dijemput oleh keluarganya.
Salah seorang wali santri dari Kota Malang, Boby Setiawan, bahkan memilih datang lebih awal ke Lamongan demi memastikan bisa menjemput anaknya tepat waktu.
Ia berangkat dari Malang pada Ahad (8/3/2026) dan bermalam di rumah saudaranya di Brondong, Lamongan. Setelah salat Subuh, sekitar pukul 04.30 WIB, ia langsung menuju Pondok Al-Ishlah di Sendangagung.
“Saya berangkat ke Lamongan sejak Ahad kemarin dan menginap di rumah adik di Brondong. Setelah Subuh langsung ke pondok untuk menjemput anak. Takut kalau kesiangan, nanti sampai Malang malah terlalu malam,” tutur Boby yang juga pernah menempuh pendidikan di Al-Ishlah pada tahun 1992.
Staf Pengasuhan Santri, Ustadz Habib Chirzin, S.Pd, menjelaskan bahwa perpulangan santri ini merupakan bagian dari kebijakan resmi pondok dalam rangka libur Ramadan dan Idul Fitri.
Menurutnya, kebijakan tersebut mengacu pada Maklumat Pondok Pesantren Al-Ishlah Nomor: 002/A/06/T1/I/2026 yang merupakan hasil rapat koordinasi antara Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah, Pengurus Yayasan, Dewan Pengurus Pondok Pesantren Al-Ishlah (DPPI), serta para kepala sekolah dan madrasah pada Sabtu, 11 Januari 2026.
Ia juga menambahkan bahwa sebelum memasuki masa libur, MA Al-Ishlah telah melaksanakan Penilaian Tengah Semester (PTS) Genap bagi siswa kelas X dan XI, serta ujian materi kepondokan bagi siswa kelas XII.
Libur Ramadan dan Idul Fitri tahun ini berlaku bagi seluruh santri kelas VII hingga XII, serta para guru atau asatidz dan ustadzat, yang mulai libur pada Senin (9/3/2026).
Adapun jadwal kembali ke pondok telah ditetapkan, yaitu Ahad (29/3/2026) untuk santri kelas XI dan para guru. Sementara santri kelas VII, VIII, IX, X, dan XII dijadwalkan kembali pada Senin (30/3/2026).
Bagi para wali santri, hari perpulangan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menjadi momen yang selalu dinanti—saat kerinduan terbayar di gerbang pondok, dan perjalanan panjang akhirnya berujung pada pelukan hangat antara orang tua dan anak. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments